EtIndonesia. Ada pepatah yang mengatakan: “Membalas kebaikan dengan kebencian”—karena pada kenyataannya, kebanyakan orang lebih mudah mengingat dendam daripada kebaikan. Kita sering lupa siapa yang pernah membantu, tapi tak pernah lupa siapa yang pernah menyakiti. Seperti kata peribahasa: “Hati manusia tak pernah puas, seperti ular yang ingin menelan gajah.”
Ketika seseorang berbuat baik sedikit saja, kita berharap dia bisa berbuat lebih. Bahkan ketika seseorang sudah meminjamkan uang, kita mungkin masih merasa itu belum cukup, lalu diam-diam menyebutnya pelit.
Jika pola pikir seperti ini terus berkembang, itu tandanya kita adalah orang yang tak tahu berterima kasih—hanya ingin menerima, tapi tak ingin memberi; hanya tahu menuntut, tapi tak pernah berpikir untuk membalas budi. Orang semacam ini bahkan bisa menyimpan kebencian kepada mereka yang telah membantunya, hanya karena merasa kebaikan itu adalah kewajiban, bukan kemurahan hati.
Ketika Kebaikan Dianggap Kewajiban
Orang yang tak tahu bersyukur sering berpikir bahwa:
· Kebaikan orangtua adalah kewajiban.
· Kasih sayang saudara adalah hal yang sewajarnya.
· Bantuan orang lain hanyalah demi kepuasan mereka sendiri.
Karena itu, ketika sikap orang lain sedikit saja berubah—tidak sebaik biasanya—dia langsung kecewa, merasa dikhianati, dan mulai menyimpan amarah.
Hidupnya Penuh Keluhan, Tak Pernah Puas
Orang yang tidak tahu bersyukur akan selalu mengeluh—apa pun situasinya.
· Saat cuaca cerah, dia mengomel: “Mataharinya terik sekali, bisa-bisa aku mati kepanasan. Kenapa bukan hujan saja?”
· Saat hujan turun, ia kembali bersungut: “Dingin dan lembap begini, mana sinarnya matahari?”
· Bahkan jika cuaca selalu indah sepanjang tahun, ia tetap akan mencari alasan untuk tidak puas: “Kenapa musimnya tidak jelas? Tidak ada variasi.”
Tak ada satu pun yang cukup baginya. Dia tidak puas dengan lingkungan, dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan dengan dunia tempat ia hidup.
Dalam pikirannya, tak satu pun hal yang pantas untuk disyukuri. Hidupnya dipenuhi keluhan, seolah-olah semua orang berutang padanya.
Hati yang Penuh Keluhan Tak Akan Pernah Bahagia
Orang seperti ini tidak akan pernah merasa cukup. Dia terus mencari-cari kesalahan, terus menuntut lebih, terus merasa dunia tidak adil padanya. Akibatnya, hidupnya dipenuhi keluhan, kekecewaan, dan kesepian.
Maka, kita perlu belajar untuk menjauh dari rasa mengeluh, dan jika keluhan itu muncul, carilah cara untuk melembutkan hati dan menenangkan pikiran.
Salah satu cara terbaik untuk melawan keluhan adalah dengan belajar bersyukur.
Lihatlah segala hal dari sudut pandang rasa terima kasih.
Semua yang Kita Nikmati Patut Disyukuri
Manusia tidak bisa hidup sendirian. Kita hidup berdampingan dengan alam semesta. Bahkan:
· Satu suapan nasi,
· Satu teguk air,
· Satu tarikan napas pun—
—semuanya adalah anugerah yang layak kita syukuri. Bila kita benar-benar menyadari hal ini, rasa kecewa dan keluhan itu perlahan akan mencair, bahkan menghilang sepenuhnya.
Bahagia Bukan Karena Banyaknya Milik, Tapi dari Hati yang Bersyukur
Apakah seseorang bahagia atau tidak, bukan ditentukan dari seberapa banyak dia punya, atau bagaimana orang lain memperlakukannya. Kuncinya terletak pada bagaimana ia merasakan dan memaknai hidupnya.
Dalam ajaran Buddha dikatakan: “Ketika hati muncul, maka segala sesuatu akan ikut muncul. Ketika hati padam, maka segalanya pun akan sirna.”
Segala sesuatu di dunia ini berasal dari pikiran kita sendiri. Jika kita tahu bersyukur, tahu merasa cukup, maka hidup akan terasa penuh.
Bahkan jika kita sudah kehilangan segalanya, tapi jika bisa merasakan syukur hanya karena bisa makan, minum, atau bernapas, kita tetap bisa hidup dalam dunia yang bahagia.
Penutup
Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar kita bisa menghargai yang kita punya.
Jadi, berhentilah mengeluh. Mulailah melihat hidup dengan rasa terima kasih. Dan kamu akan menemukan, bahwa bahagia ternyata tidak sejauh itu—ia ada di dalam hati yang tahu bersyukur.(jhn/yn)


