EtIndonesia. Ada sebuah kisah yang penuh inspirasi dan memberikan pelajaran berharga: John dan David adalah dua karyawan baru di sebuah perusahaan ekspedisi. Mereka bekerja dalam satu tim, sama-sama rajin dan serius menjalankan tugas. Atasan pun awalnya sangat puas terhadap kinerja mereka berdua. Namun, satu kejadian mengubah nasib keduanya secara drastis.
Suatu hari, John dan David ditugaskan untuk mengantar kiriman penting ke pelabuhan. Barang tersebut adalah sebuah benda antik yang sangat mahal, dan sang atasan sudah berkali-kali memperingatkan mereka agar berhati-hati.
Namun di tengah perjalanan, mobil pengantar rusak.
David panik, lalu berkata :“Kenapa kamu tidak periksa mobil dulu sebelum berangkat? Kalau telat, bonus kita bisa dipotong!”
John menjawab: “Jarak ke pelabuhan tidak terlalu jauh. Saya kuat, biar saya gendong barangnya saja. Lagi pula, jalan ini sepi—kalau kita menunggu mobil diperbaiki, bisa-bisa kapalnya keburu berangkat.”
David setuju: “Oke, kamu yang bawa. Kamu memang lebih kuat dari aku.”
John pun memanggul barang itu dan berlari kecil menuju pelabuhan. Dia berhasil tiba tepat waktu.
Sesampainya di sana, David berkata: “Sekarang biar aku yang pegang barangnya. Kamu pergi panggil si penerima.”
Dalam hati, David berharap si pemilik barang akan menyampaikan kepada atasan bahwa dia yang menyerahkan kiriman—siapa tahu bisa dapat promosi. Tapi saat John menyerahkan paket itu padanya, David tidak siap menerima. Paket jatuh ke tanah, dan… CRAAASH!
Barang antik itu pecah berkeping-keping.
David langsung berteriak : “Kenapa kamu lepaskan begitu saja?! Aku belum siap!”
John menjawab :“Kamu tadi sudah ulurkan tangan. Aku pikir kamu siap. Tapi kamu tak bisa menangkapnya.”
Keduanya tahu: barang rusak berarti masalah besar. Bisa kehilangan pekerjaan, bahkan menanggung ganti rugi besar.
Keesokan harinya, David diam-diam menemui bos dan berkata : “Bos, ini bukan salah saya. John yang ceroboh.”
Bos hanya menjawab tenang : “Terima kasih, David. Saya sudah tahu.”
Kemudian, bos memanggil John ke ruangannya dan bertanya :“Apa yang sebenarnya terjadi?”
John menjelaskan semuanya, dan menutup pembicaraan dengan berkata: “Kami memang lalai. Saya bersedia bertanggung jawab. Dan jika memungkinkan, saya juga bersedia menanggung bagian David. Dia punya beban keluarga yang berat. Saya akan bekerja sekuat tenaga untuk menutupi kerugian ini.”
Beberapa hari kemudian, bos memanggil kembali keduanya, berkata: “Kami sebenarnya sedang mempertimbangkan untuk memilih salah satu dari kalian menjadi kepala divisi pelanggan. Meski insiden ini cukup serius, justru dari sinilah saya bisa melihat, siapa yang pantas kami percaya.”
David mulai tersenyum— dia yakin dirinya yang akan dipilih.
Tapi bos berkata: “Kami memutuskan memilih John sebagai kepala divisi pelanggan. Karena orang yang berani bertanggung jawab adalah orang yang layak dipercaya.”
“John, silakan ganti kerugian itu dengan gaji yang akan kamu terima. David, kamu boleh pulang sekarang. Besok tidak perlu datang lagi.”
David kaget : “Tapi kenapa, Bos?”
Bos menjawab dengan tenang : “Pemilik barang antik itu melihat sendiri apa yang terjadi saat kalian bertukar barang. Dia sudah menceritakan semuanya kepadaku. Dan aku juga memperhatikan bagaimana kalian berdua menyikapi masalah ini. Sikap kalian menunjukkan siapa kalian sebenarnya.”
Pelajaran dari Kisah Ini:
Perbedaan mendasar antara karyawan hebat dan karyawan biasa terletak pada sikap terhadap tanggung jawab.
Keberanian untuk bertanggung jawab adalah karakter sejati, dan salah satu syarat utama untuk bisa bertahan dan berkembang di dunia kerja—apa pun posisi dan jenis perusahaannya.
Semua orang bisa melakukan kesalahan. Tapi yang menakutkan bukanlah kesalahannya, melainkan kebiasaan untuk lari dari tanggung jawab, mencari kambing hitam, atau menutup-nutupi.
Lebih buruk lagi jika itu menjadi pola pikir dan perilaku otomatis. Tanpa sadar, kita hidup dalam kebiasaan yang merugikan diri sendiri.
Yang penting bukan hanya memperbaiki kesalahan, tapi juga belajar agar tidak mengulanginya.
Ingat pepatah: “Orang yang masuk ke sungai yang sama dua kali, akan tetap basah.”
John Dipilih Karena Dia Berani & Peduli
Perusahaan memilih John karena dia berani bertanggung jawab, bahkan rela menanggung beban orang lain.
Sebaliknya, David langsung menyalahkan, menyabotase, dan mengelak. DIa tidak layak dipercaya, dan tidak layak diberi kesempatan lebih.
Semoga David bisa mengambil pelajaran, bahwa jatuhnya dia kali ini punya makna dan nilai. Kalau tidak, maka ke manapun dia pergi, ia akan terjebak dalam pola kegagalan yang sama.
Mari Jadi “John”, Bukan “David”
Apa pun posisi kita—manajer atau staf—beranilah bertanggung jawab.
Bukan untuk terlihat baik di mata atasan, tapi demi menjadi pribadi yang:
· Dapat dipercaya
· Bernilai bagi tim
· Berguna bagi perusahaan
· dan punya harga diri di hati sendiri
Orang yang bertanggung jawab, akan selalu dibutuhkan di mana pun.(jhn/yn)


