Bagaimana Seorang Anak Miskin Menjadi CEO bagi 300.000 Karyawan?

EtIndonesia. Saat berusia 7 tahun, ayahnya terjatuh dan mengalami cedera sehingga kehilangan pekerjaan. Tidak ada ganti rugi, tidak ada pesangon, tidak ada asuransi kesehatan. Keluarganya jatuh ke jurang keputusasaan. Rasa sakit, luka batin, dan rasa malu yang dia saksikan saat itu terus membekas hingga dewasa.

Sejak hari ayahnya jatuh, dia bertekad suatu hari akan membangun perusahaan tempat ayahnya — dan orang-orang seperti ayahnya — akan dihormati martabatnya sebagai pekerja. Kini, tekad itu menjadi kenyataan.

Howard Schultz, Ketua Eksekutif Dewan Direksi Starbucks, dalam pidatonya di Universitas Tsinghua dan kemudian di wisuda Universitas Negeri Arizona (ASU) 2017, kembali mengenang pengalaman pahit masa kecilnya. Baginya, kisah ini bukan hanya soal motivasi, tetapi tentang arti mimpi, rasa hormat, dan tanggung jawab.

Pidato Howard Schultz di ASU, 8 Mei 2017

Terima kasih kepada Rektor atas sambutan hangatnya. Terima kasih kepada Dewan Pengawas Universitas Negeri Arizona, seluruh staf pengajar, dan para tamu kehormatan.

Selamat kepada para wisudawan 2017 dan semua orang yang hadir merayakan momen istimewa ini. Saya bangga menjadi mitra ASU dan merasa terhormat berdiri di sini bersama kalian.

Saya ingin memulai dengan sebuah cerita pribadi. Tahun lalu, Starbucks membuka toko pertamanya di Johannesburg, Afrika Selatan. Sebelumnya, saya belum pernah menginjakkan kaki di sana, dan kenyataan yang saya temui mengejutkan—kemiskinan begitu merata.

Kami merekrut 50 anak muda untuk mengenakan apron hijau Starbucks dan menjadi wajah merek kami di sana. Sebelum toko dibuka, saya duduk berjam-jam bersama mereka, mendengarkan kisah hidup masing-masing. Meskipun miskin, mereka memiliki rasa syukur dan sukacita yang besar.

Dari pertemuan itu, saya mempelajari dua hal:

1. Bagi sebagian besar dari mereka, ini adalah pekerjaan pertama dalam hidup, yang memberi rasa percaya diri dan aman.

2. Saya berulang kali mendengar sebuah kata Afrika yang belum pernah saya dengar sebelumnya — kata yang sering digunakan Nelson Mandela: “Ubuntu”.

Akhirnya saya bertanya artinya. Mereka menjawab: “Ubuntu berarti ‘Aku ada karena kamu ada.’”

Hari ini, saya ingin kalian mengingat kisah ini, karena semua yang saya bagikan nanti akan melalui lensa “Ubuntu”.

Lahir di Kemiskinan, Bertahan dengan Harapan

Saya tumbuh di kawasan rumah susun Brooklyn, New York. Orangtua saya putus sekolah menengah. Mereka kesulitan membayar sewa apartemen kecil kami yang hanya 96 dolar per bulan. Meski begitu, sejak kecil ibu menanamkan keyakinan pada mimpi Amerika—bahwa pendidikan dan kerja keras akan membuka pintu kehidupan yang lebih baik.

Namun, ketika saya berusia 7 tahun, hidup berubah drastis. Ayah saya, seorang sopir truk pengantar dan pengambil popok kain bersih dan kotor (sebelum popok sekali pakai ditemukan), terpeleset di atas es. Akibatnya, dia langsung kehilangan pekerjaan. Tidak ada kompensasi, tidak ada asuransi, tidak ada pesangon. Saat itu saya melihat “mimpi Amerika” hancur di depan mata.

Pengalaman itu menanamkan luka, tetapi juga tekad: membangun perusahaan yang menghormati pekerja dan martabat kerja itu sendiri.

Dari Tekad ke Realitas

Itulah alasan Starbucks menjadi perusahaan besar pertama di AS yang memberikan asuransi kesehatan komprehensif untuk semua karyawan — termasuk paruh waktu — jauh sebelum kebijakan nasional ada. Kami juga memberi kepemilikan saham kepada semua karyawan, karena saya percaya kesuksesan yang dibagi bersama adalah kesuksesan yang terindah.

Starbucks go public pada 1992 dan tumbuh pesat hingga 2006. Namun pada 2007, kami kehilangan arah. Rasa puas diri menjadi penyakit. Di titik krisis itu, saya kembali memimpin langsung, membangun ulang perusahaan dengan berpegang pada nilai inti dan kepemimpinan yang berlandaskan pelayanan.

Setiap organisasi, bahkan keluarga, harus setia pada nilai-nilainya. Bagi Starbucks, tujuan kami selalu menyeimbangkan antara keuntungan dan penghormatan pada kemanusiaan.

Pelajaran untuk Generasi Muda

Berdiri di hadapan kalian hari ini, saya adalah bukti nyata bahwa mimpi itu mungkin. Masa depan bukan milik generasi lama, melainkan milik kalian.

Kalian mungkin cemas atau bingung tentang masa depan, tapi percayalah pada diri sendiri. Renungkan tiga hal ini:

1. Bagaimana kalian menghormati orangtua dan keluarga?

2. Bagaimana kalian berbagi kesuksesan dan melayani orang lain dengan martabat?

3. Bagaimana kalian menunjukkan keberanian moral dengan rendah hati?

Gunakan rasa empati, rasa ingin tahu, dan semangat melayani. Berikan lebih banyak daripada yang kalian ambil.

Ingatlah, kalian berada di sini berkat seseorang yang percaya pada kalian—orangtua, guru, mentor, atau teman. Saat meninggalkan kampus ini, luangkan waktu untuk berterima kasih kepada mereka.

Menatap Masa Depan

Generasi kalian bisa mempersatukan orang, menciptakan inovasi, mengubah ekonomi, menciptakan jutaan pekerjaan, membersihkan lingkungan, dan membuat rasisme hanya ada di buku sejarah.

Bermimpilah besar, lalu bermimpilah lebih besar lagi—mimpi yang inklusif dan membawa kemajuan untuk semua.

Harapanlah yang membawa saya keluar dari kemiskinan, harapan yang tak memandang warna kulit, agama, gender, atau status. Harapan itu juga akan mendorong kalian.

Aku ada karena kamu ada — Ubuntu. Teruslah melangkah, terus membuat keluarga bangga.

Tuhan memberkati kalian semua. Selamat, wisudawan 2017!(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine