Setelah Israel mengumumkan perluasan serangan di Gaza, perhatian dunia internasional meningkat tajam. Dewan Keamanan PBB menggelar sidang khusus membahas masalah Timur Tengah. Sementara itu, Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengadakan pertemuan pertama sejak pecahnya “Perang 12 Hari Israel–Iran”
EtIndonesia. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada 11 Agustus dalam konferensi pers menyatakan bahwa ia telah memerintahkan militer Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Hamas. Langkah demikian dilakukan demi segera mengakhiri perang di Gaza dan membebaskan semua sandera.
“Kami bukan untuk membuat kesepakatan, tetapi untuk mengalahkan Hamas dan membebaskan semua 20 sandera. Menurut saya, ini adalah satu-satunya cara yang benar-benar efektif. Kami pernah membicarakan dan menunggu kesepakatan parsial, tetapi Hamas terus menyesatkan kami, melepaskan orang sedikit demi sedikit, sambil tetap menahan banyak sandera di tangan mereka,” katanya.
Netanyahu juga mengatakan bahwa Israel berupaya maksimal memastikan sebagian besar bantuan tidak jatuh ke tangan Hamas. Israel akan menambah titik distribusi bantuan, jalur aman, serta jumlah pengiriman melalui udara.
Dalam sidang khusus Dewan Keamanan PBB hari itu, negara-negara anggota memperdebatkan langkah Israel memperluas serangan di Gaza. Perwakilan AS di PBB menyatakan dukungan terhadap Israel.
Wakil Duta Besar Sementara AS untuk PBB, Dorothy Shea: “Patut dicatat bahwa anggota badan ini (DK PBB) tidak hanya gagal menekan Hamas, tetapi justru mendorong dan memberi hadiah atas sikap keras kepala mereka, dengan menyebarkan kebohongan tentang Israel, lembaga kemanusiaan Gaza, dan Amerika Serikat, serta memberikan kemenangan propaganda kepada teroris, sehingga secara aktif memperpanjang perang.”
Wakil Perwakilan Tetap Inggris di PBB, James Kariuki: “Keputusan ini adalah kesalahan. Kami mendesak pemerintah Israel untuk segera mempertimbangkannya kembali. Perluasan aksi militer tidak membantu mengakhiri konflik ini, dan tidak akan menjamin pembebasan sandera.”
Wakil Duta Besar Israel untuk PBB, Jonathan Miller: “Pasukan Pertahanan Israel bersiap menguasai Kota Gaza, sambil memastikan bantuan kemanusiaan disalurkan kepada warga sipil di luar zona perang, jauh dari kendali Hamas. Ini bukan penaklukan. Israel tidak memiliki rencana atau niat untuk secara permanen menduduki Gaza. Ini adalah upaya membebaskannya dari rezim teroris yang brutal.”
Pada 11 Agustus malam, militer Israel melancarkan serangan udara di Gaza. Jurnalis Al Jazeera, Anas al-Sharif, bersama empat rekannya tewas dalam serangan tersebut.
Militer Israel mengkonfirmasi kabar ini, dan menuduh Sharif sebagai anggota Hamas, tuduhan yang dibantah oleh Sharif semasa hidupnya.
Selain itu, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, pada Senin menyatakan bahwa Australia akan bergabung dengan Prancis, Inggris, dan Kanada untuk mengakui negara Palestina pada Sidang Umum PBB bulan September mendatang.
Albanese juga menyatakan bahwa pemerintahan Palestina di masa depan harus memastikan pengecualian Hamas, melakukan demiliterisasi Gaza dan mengadakan pemilu.
Dari pihak Iran, Wakil Direktur Jenderal IAEA dijadwalkan mengunjungi Iran pada Senin. Ini merupakan kunjungan pertama IAEA ke Iran sejak “Perang 12 Hari Israel–Iran” pecah.
“Besok kami akan mengadakan pembicaraan dengan Badan Energi Atom Internasional mengenai kerangka kerja sama baru, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya,” ujar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Menlu Iran menegaskan bahwa sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan kerangka kerja, IAEA tidak akan diizinkan memasuki fasilitas nuklir Iran untuk melakukan inspeksi. (Hui/asr)
oleh Zhao Fenghua, NTDTV.


