Data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan bahwa penyebaran virus COVID-19 di seluruh AS terus meningkat, terutama di wilayah Pantai Barat.
Sementara itu, penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, yaitu “Chikungunya” (di Tiongkok disebut “penyakit tubuh bungkuk”), mewabah di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri sendi parah hingga membuat tubuh penderita membungkuk. Tahun ini, jumlah kasus global telah melampaui 240.000, memicu perhatian serius dari CDC.
EtIndonesia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat pada Jumat (8 Agustus) lalu menyatakan bahwa tingkat keberadaan virus corona aktif di air limbah nasional telah naik dari kategori “rendah” menjadi “sedang”, yang berarti risiko infeksi meningkat. Negara bagian Louisiana dan Hawaii berada pada kategori “sangat tinggi”, sementara 11 negara bagian termasuk California, Nevada, Texas, dan Florida berada pada kategori “tinggi” risiko.
Sejak awal tahun ini, varian NB.1.8.1 di Tiongkok Daratan mendorong kenaikan jumlah kasus COVID-19. Namun, akibat kebijakan penutupan informasi yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok dan kurangnya transparansi data, skala sebenarnya dari wabah saat ini sulit untuk diperkirakan.
Menjelang akhir musim panas, pada awal Agustus, Provinsi Guangdong mengalami wabah penyakit virus “Chikungunya”, secara resmi dilaporkan lebih dari 8.000 kasus, terutama di Kota Foshan. Kasus juga ditemukan di Hong Kong, Makau, dan Provinsi Hunan, menjadikannya wabah terbesar dalam sejarah Tiongkok.
Penyakit “Chikungunya” ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk menularkan virus ini dengan menggigit orang yang terinfeksi, lalu menggigit orang lain.
Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1952 di Tanzania, Afrika. Namanya berarti “membuat tubuh membungkuk”, menggambarkan posisi penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi yang hebat. Gejala umum lainnya meliputi nyeri otot, ruam kulit, kelelahan, demam tinggi, dan pembengkakan sendi. Gejala biasanya muncul 3–7 hari setelah infeksi.
Tingkat kematian “Chikungunya” sangat rendah, dan sebagian besar pasien pulih dalam beberapa minggu. Namun, sekitar 40% pasien mengalami nyeri sendi dan otot yang dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
CDC telah mengeluarkan peringatan kepada para pelancong yang menuju Tiongkok dan negara lain yang mengalami wabah, dengan anjuran memakai pakaian lengan panjang dan celana panjang, menggunakan obat anti-nyamuk, menginap di tempat ber-AC atau memiliki kelambu/jaring nyamuk, serta bagi yang tinggal lama dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi.
Meskipun Chikungunya belum menyebar luas di AS dan sebagian besar kasus berasal dari infeksi luar negeri, meningkatnya suhu, perpanjangan musim aktivitas nyamuk, serta meningkatnya pergerakan manusia secara global membuat risiko penyebaran virus ini ke lebih banyak wilayah terus meningkat. (Hui/asr)
oleh Liu Jiajia, NTDTV, Amerika Serikat.


