EtIndonesia. Suhu politik internasional memanas jelang pertemuan penting antara mantan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Agustus 2025 di Anchorage, Alaska.
Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah mengumumkan penutupan wilayah udara di atas kota tersebut pada hari pertemuan, sebuah langkah yang mencerminkan tingginya sensitivitas dan potensi dampak dari agenda pembicaraan ini.
Konsesi Besar Ukraina
Menurut laporan The Daily Telegraph, Ukraina mempertimbangkan langkah berani: menyerahkan sebagian wilayah yang saat ini sudah dikuasai Rusia demi menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, sekaligus membuka jalan menuju keanggotaan NATO.
Presiden Volodymyr Zelensky disebut telah memberi sinyal kepada para pemimpin Eropa bahwa jika rencana damai versi Trump menuntut penyerahan wilayah yang masih berada di bawah kendali Kyiv, Ukraina tidak akan setuju. Namun, wilayah yang saat ini sudah berada di tangan Rusia bisa menjadi bahan negosiasi.
Kompromi ini pada praktiknya berarti pembekuan garis depan, yang mengakui secara de facto kendali Rusia atas Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, Kherson, dan Krimea.
Meski demikian, Zelenskyy menegaskan bahwa laporan intelijen terbaru menunjukkan Rusia tidak memiliki niat menghentikan perang. Sebaliknya, Moskow justru memindahkan pasukan untuk menyiapkan serangan baru, termasuk di sektor selatan dan Zaporizhzhia.
Data terkini menunjukkan Rusia kini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, sementara Ukraina hanya memiliki kendali atas sebagian kecil area di dalam wilayah Rusia.
Trump Dorong Pertukaran Wilayah, Eropa Bergerak Cepat
Donald Trump sebelumnya telah mengemukakan pandangan bahwa perang hanya dapat diakhiri jika kedua pihak sepakat untuk saling menukar sebagian wilayah. Ia bahkan membuka opsi pertemuan tiga pihak antara dirinya, Putin, dan Zelensky.
Namun, kekhawatiran muncul di kalangan pemimpin Eropa bahwa Trump dan Putin bisa saja mencapai kesepakatan tanpa melibatkan Kyiv. Untuk itu, para pemimpin Eropa dijadwalkan bertemu Trump pada 13 Agustus guna memastikan posisi mereka tetap diperhitungkan.
Menurut sumber-sumber diplomatik Eropa, tujuan strategis Putin tidak berubah: menggulingkan pemerintahan pro-Barat di Kyiv, menggantinya dengan rezim pro-Moskow, mencegah Ukraina bergabung dengan NATO, dan memaksanya melakukan demiliterisasi.
Laporan Institute for the Study of War menegaskan bahwa target Moskow masih mencakup penguasaan penuh ibu kota Ukraina, pencegahan keanggotaan NATO, serta pengurangan kemampuan militer Ukraina secara drastis.
Ukraina disebut siap melepas wilayah hanya jika ada jaminan keamanan yang kuat, termasuk pasokan senjata jangka panjang dan jalur resmi menuju keanggotaan NATO. Mayoritas negara Eropa cenderung mendukung persyaratan ini, yang dianggap sebagai garis merah dalam negosiasi.
Enam Tuntutan Putin
Pada 12 Agustus, penasihat Kremlin, Yuri Ushakov, mengungkap enam tuntutan utama yang diajukan Putin:
- Ukraina harus menarik seluruh pasukannya dari Donetsk.
- Rusia akan menarik pasukan dari Sumy, Dnipropetrovsk, dan Kharkiv, tetapi mempertahankan garis depan di wilayah lain kecuali Donbas.
- Ukraina berkomitmen untuk tidak bergabung dengan NATO.
- Ukraina harus menjalani demiliterisasi dan mereformasi konstitusi menuju sistem federal.
- Rusia ingin membuat perjanjian bilateral langsung dengan AS tanpa melibatkan Ukraina maupun Uni Eropa.
- Jika Ukraina menolak, Trump diminta menghentikan seluruh bantuan militer AS untuk Kyiv.
Menanggapi tuntutan tersebut, Zelenskyy menegaskan bahwa penarikan pasukan dari Donbas adalah garis pantang mundur. Menurutnya, langkah itu justru akan memicu Perang Dunia III. Ia juga menyebut bahwa kemajuan Rusia sejauh sekitar 10 km di beberapa titik hanyalah bagian dari upaya Moskow menciptakan narasi kemenangan menjelang pertemuan Trump–Putin.
Situasi Memasuki Titik Kritis
Pertemuan di Anchorage pada 15 Agustus dipandang sebagai salah satu momen diplomatik paling menentukan sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.
Dengan garis pertempuran yang relatif stabil tetapi korban dan kerugian terus bertambah, setiap keputusan yang diambil dalam pertemuan ini berpotensi mengubah peta geopolitik Eropa untuk dekade ke depan.
Sementara itu, semua pihak—baik di Kyiv, Moskow, Washington, maupun ibu kota negara-negara Eropa—tengah menimbang untung-rugi antara mengakhiri perang dengan kompromi teritorial, atau mempertahankan prinsip dengan risiko pertempuran yang semakin panjang. (***)


