EtIndonesia. Mungkin saat ini kamu sedang melamun. Mungkin kamu sedang asyik bermain game bersama teman-teman satu tim, berjuang sengit di dunia virtual. Kamu merasa hidup santai, mengira masa kuliah akan semudah yang guru SMA katakan—bahwa setelah masuk universitas, hidup akan lebih bebas, seperti keluar dari neraka menuju surga.
Namun, kamu lupa satu hal penting: justru masa kuliah adalah awal dari perjuangan yang sesungguhnya.
Kamu lupa berapa banyak air mata dan keringat yang telah kamu keluarkan demi bisa masuk ke universitas impian. Kamu lupa semangatmu dulu saat membayangkan kehidupan kampus. Kamu lupa rasa cemas saat menunggu pengumuman kelulusan.
Kamu ingin menjadi orang yang hebat, tetapi tidak mau berusaha sedikit pun. Pikirkanlah: orang yang lebih unggul darimu saja masih terus bekerja keras—apa alasanmu untuk bermalas-malasan?
Saat Kamu Bersantai, Orang Lain Sedang Berlari
Ketika kamu memilih untuk tidur lebih lama di pagi hari, orang lain sudah duduk di kelas, menghafal satu esai bahasa Inggris, menguasai 30 kosakata baru.
Ketika kamu sibuk bermain ponsel atau game saat kuliah, orang lain fokus mendengarkan dan merenung.
Ketika malam tiba dan kamu tenggelam dalam pertempuran di dunia maya, orang lain duduk di perpustakaan, mengasah kemampuan mereka.
Awalnya kamu kagum melihat mereka, lalu merasa iri, dan akhirnya cuek. Kamu mulai terjebak dalam pola hidup malas: mengurung diri di kamar kos, menonton drama seri, membaca novel cinta, atau bermain game sepanjang hari. Lama-kelamaan, kamu merasa gaya hidup seperti ini cukup nyaman. Melihat orang lain belajar giat, kamu malah melontarkan komentar sinis.
Kepuasan Semu yang Menggerogoti Masa Depan
Kamu berada di universitas biasa dan merasa cukup puas: “Setidaknya aku lebih baik dari lulusan diploma. Setidaknya nanti aku punya ijazah S1.”
Kamu percaya dengan prinsip “nilai 60 sudah cukup, lebih dari itu buang-buang tenaga”. Bagimu, yang penting tidak gagal mata kuliah—itu sudah cukup.
Tapi coba jawab pertanyaan ini:
· Di usiamu yang baru 20 tahun, apa modalmu?
· Nilaimu biasa-biasa saja, kenapa tidak berusaha belajar lebih giat?
· Kondisi keluargamu pas-pasan, kenapa tidak berjuang lebih keras?
· Kalau kamu malas, bagaimana bisa menyaingi anak-anak orang kaya atau pejabat yang punya modal besar?
· Apakah kamu rela selalu tertinggal, rela mengandalkan uang hasil keringat orang tuamu untuk beli rumah nanti?
Banyak orang yang jauh lebih hebat darimu saja masih berusaha. Lalu, apa alasanmu untuk menyerah?
Berhenti Menyalahkan, Mulai Bergerak
Kamu mungkin mengeluh hidup tidak adil, nasib tidak berpihak, atau kerja kerasmu belum berbuah hasil. Padahal, kenyataannya kamu belum cukup berusaha.
Mulailah berubah dari sekarang—masih ada waktu. Kalau kamu kehilangan motivasi atau alasan untuk bertahan, ingatlah kedua orang tuamu yang kini berusia 40–50 tahun, masih berjuang setiap hari demi memberi kehidupan yang layak untukmu. Bekerjalah keras agar kelak bisa memberi mereka masa tua yang tenang dan bahagia.
Menatap ke Depan, Meski Jalannya Berat
Lihatlah mereka yang lebih unggul darimu—mereka tetap berjuang walau jalan di depan seperti gurun tak berujung. Saat ingin menyerah, ingat bagaimana kamu sudah bertahan sejauh ini.
Wahai anak muda, camkan baik-baik: “Mereka yang sanggup menanggung pahit getir kehidupanlah yang akan menjadi orang teratas.” (jhn/yn)


