Di Saat Tersulit dalam Hidup, Apa yang Membuatmu Bertahan?

Etindonesia: “Kalau saat ini kamu sedang berada di masa-masa sulit dan penuh penderitaan, aku ingin mengatakan padamu: meski sekarang terasa berat, suatu hari nanti pengalaman ini mungkin akan berbuah manis.”  — Haruki Murakami, penulis esai asal Jepang

Di jalan hidup yang penuh jatuh-bangun, beruntunglah jika kita masih punya orang-orang terdekat, rasa pantang menyerah, dan mimpi untuk terus melangkah.

1. Tiga Ratus Yuan dan Senyum Seorang Sahabat

Juni 2000, masa kelulusan. Kami yang baru selesai magang menunggu kabar penempatan kerja di asrama. 

Seorang teman mengajak : “Temani aku bertemu teman dunia maya, dia alumni kampus kita.”

Setelah bertemu, semua terlihat baik-baik saja. Tapi tak lama kemudian, identitas saya dan seluruh uang—tiga ratus yuan—lenyap entah kemana. Itu berarti satu setengah bulan tanpa uang makan, dan tanpa identitas untuk mencari kerja. Saya sangat menjaga harga diri, sehingga enggan meminjam dari teman.

Dua hari berikutnya saya hanya punya dua bungkus mi instan. Saya pecah menjadi empat bagian, makan dua kali sehari, banyak air, dan bumbu dibagi sedikit-sedikit. Saat teman sekamar makan, saya menghindar.

Hari ketiga, seorang teman bernama Yan Juan berkata: “Temani aku makan siang, ya. Katanya aku makan terlalu sedikit, nanti aku sakit. Bantu aku habiskan makananku.”

Saya tak sadar, ternyata saya sedang dibantu.

Beberapa hari kemudian, saat kami berpisah, dia memberi saya amplop dan berkata: “Buka nanti malam.”

 Isinya? Tiga ratus yuan, dan sepucuk surat penuh dukungan.

Sejak saat itu, dalam semua ujian hidup—gagal investasi, sakit, atau kehilangan—saya selalu mengingat wajahnya yang polos dan tatapan penuh percaya itu. Terima kasih, sahabatku.

2. Ibuku

Saya tinggal berdua dengan ibu. Saat depresi, hidup serasa tanpa jiwa. Tapi saya bertahan karena sadar: kalau saya mati, ibu akan sendirian.

Ibu tak banyak berkata manis, tak menangis, tetap bekerja setiap hari. Saat saya dirawat di rumah sakit yang jauh, dia menempuh 3–4 jam perjalanan sepulang kerja untuk menemui saya. Dia tak pernah mengeluh.

Dulu saya kira ibu tak mengerti dunia. Sekarang saya tahu, dialah yang paling paham kehidupan. Kehadirannya membuat saya merasa aman.

3. Ibu dan Situs Kencan

Putus cinta, tiap malam menangis di balik selimut. Orangtua tahu, tapi tak banyak bicara. Suatu hari, ibu membelikan saya keanggotaan situs perjodohan. Aneh, tapi ternyata itu yang membuat saya mulai bangkit.

4. Anak Saya

Sebelum punya anak, saya tak pernah merasa hidup begitu sulit. Proses hamil pun penuh perjuangan. Tapi justru setelah melahirkan, hidup berubah drastis.

Suami seperti menjadi orang asing, semua beban anak ada di saya, di negeri orang, tanpa bantuan keluarga. Saat anak sakit, saya sendirian ke rumah sakit, memeluk anak yang menangis sambil menghadapi segala prosedur. Pernah terpikir menyerah.

Namun, setiap senyum dan panggilan “Mama” dari anak membuat saya kembali kuat. Anaklah yang membuat saya bertahan.

5. Buku dan Sunyi

Kesepian membuat saya menjauh dari keramaian. Saya memilih bersembunyi di toko buku, memegang buku, menyeruput teh.

Buku menjadi pelarian saya—tempat saya mendapat kekuatan ketika hidup terasa hancur. Di sanalah saya merasa aman dan tenang.

6. Ujian dan Kesendirian

Pernah dijauhi teman sekamar karena pacaran. Setelah putus, saya sendirian. Saya mengisi waktu dengan belajar: ujian pemandu wisata, ujian bahasa Inggris, komputer, IELTS, hingga ujian masuk pascasarjana. Semua lulus.

Masa itu sangat sepi, penuh rasa takut dan godaan untuk menyerah. Tapi saya bertahan, dan akhirnya melewatinya.

7. Empat Belas Tahun dan Kota Asing

Usia 14 tahun, saya merantau ke Tianjin untuk bekerja. Gaji 700 yuan, tanpa makan dan tempat tinggal. Tak bisa bahasa Mandarin, pemalu, dan selalu disuruh membersihkan toko sebulan penuh.  Saat paling miskin, uang makan pun tak ada.

Yang membuat saya bertahan hanyalah rasa tidak mau kalah—meski tak berpendidikan tinggi, saya ingin menjadi orang yang hebat. Dan saya melakukannya.

8. Ayah Sakit Kanker

Tahun pertama saya baru diangkat menjadi pegawai tetap, karier mulai menanjak. Lalu ayah divonis kanker.

Keluarga mendesak saya berhenti bekerja untuk merawat ayah. Tapi ayah justru menyuruh saya tetap mengejar karier. Dengan pengaturan waktu, saya bisa tetap sering di rumah sakit. Ajaibnya, kondisi ayah membaik. Namun, sampai sekarang saya masih merasa bersalah tidak selalu ada di sisinya.

9. Bangkrut, Terlilit Utang, dan Tetap Tersenyum

Tiba-tiba saya bangkrut, berutang 3 juta yuan, sakit hingga harus dirawat enam kali setahun, pasangan meninggalkan saya, dan anak kehilangan ayahnya.

Namun, saya tetap tersenyum. Demi dua anak, saya bertekad, melunasi utang, membeli rumah, dan membuktikan bahwa saya bisa memberi mereka masa depan yang baik.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine