Tiongkok Gunakan Model Ekspor Parasit Demi Kuasai Pasar Baterai Global 

Sejauh ini, produsen baterai terbesar di dunia, Beijing memanfaatkan norma perdagangan internasional untuk menguasai industri yang semakin penting

oleh Leo Timm

Selama lebih dari satu dekade, Tiongkok telah berupaya menguasai industri baterai dunia, memandang sektor ini sebagai kunci untuk memajukan tujuan strategisnya di saat permintaan global akan pembangkitan dan penyimpanan listrik meningkat.

Para pakar mengkritik aktivitas agresif non-pasar rezim Tiongkok—termasuk subsidi negara, pemaksaan transfer teknologi dari perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok, serta praktik penetapan harga predator—sebagai masalah besar bagi dunia.

Baterai dengan efisiensi dan daya tahan lebih tinggi menjadi semakin penting dalam barang konsumsi sehari-hari dan kendaraan listrik. Baterai juga berperan lebih besar dalam menyimpan listrik yang dihasilkan dari tenaga surya dan angin, serta untuk peralatan industri dan militer seperti drone.

Tiongkok adalah produsen baterai terbesar di dunia, melampaui gabungan seluruh negara lainnya. Menurut data yang diterbitkan Badan Energi Internasional (IEA) pada Maret, produksi Tiongkok mencakup tiga perempat dari total global pada 2024, dengan IEA menyebut penelitian intensif dan persaingan internal sebagai faktor penekan harga.

Dalam laporan 21 Juli berjudul “Unplugging Beijing: A Playbook to Reclaim America’s Advanced Battery Supply Chain” yang diterbitkan oleh Foundation for Defense of Democracies (FDD), para penulis mengecam strategi pengembangan baterai rezim Tiongkok yang “secara fundamental bersifat parasit”, di mana Beijing memanfaatkan norma perdagangan internasional untuk menopang tindakannya sendiri dengan tujuan melemahkan aturan tersebut.


Sumber Daya yang Menyaingi Minyak

Otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah mengidentifikasi pengembangan baterai sebagai sektor penting sejak awal abad ke-21, dengan harapan dapat menyusul Jepang dan negara lain yang memiliki teknologi elektronik maju. Rencana “Made in China 2025” yang diluncurkan pada 2015 menempatkan industri kendaraan listrik (EV) dan baterai sebagai area kunci untuk investasi besar-besaran Beijing.

Peneliti Taiwan yang berbicara dengan The Epoch Times mengatakan bahwa pendekatan PKT terhadap industri ini dibangun atas perkiraan bahwa teknologi baterai akan menyaingi minyak sebagai sumber daya strategis penting.

Sambil aktif memasarkan baterainya untuk ekspor, PKT hanya memberikan subsidi kepada produsen EV Tiongkok jika baterai yang mereka gunakan diproduksi di dalam negeri, meletakkan dasar bagi dominasi masa depan di sektor ini.

Tai Chih-yen, peneliti di Chung-hua Institution for Economic Research (CIER) Taiwan, mengatakan bahwa faktor utama di balik kenaikan cepat Tiongkok dalam industri baterai adalah caranya mengabaikan norma internasional yang mengatur perdagangan, inspeksi, dan hak kekayaan intelektual, guna menarik teknologi dan pelanggan dari luar negeri.

Rezim Tiongkok juga lebih dulu memasarkan baterai secara terpisah, bukan hanya sebagai bagian dari produk jadi, kata Tai. Ia memberi contoh perusahaan Jepang seperti Panasonic dan Sony, yang unggul dalam teknologi baterai tetapi cenderung menggunakannya untuk produk elektronik bermerek mereka sendiri seperti radio atau komputer.

Pada 2023, perusahaan Tiongkok memegang 63,5 persen pangsa pasar global baterai EV, menurut SNE Research. Angka itu diikuti perusahaan Korea Selatan seperti LG dan Samsung sebesar 23,1 persen, sementara Panasonic dari Jepang menguasai 6,4 persen. Perusahaan lain menyumbang 7 persen produksi baterai EV dunia.


‘Memparasit’ Rantai Pasok Baterai Dunia

FDD mencatat dalam laporan 25 Juli bahwa baterai kini semakin berperan dalam peperangan, karena militer makin mengandalkan drone, peralatan elektronik genggam, kapal tak berawak, dan senjata energi terarah seperti laser.

“Dominasi pasar Tiongkok sebagian besar dihasilkan dari praktik gelap atau ilegal—penyuapan, jebakan utang, kerja paksa, kontrak timpang, pencurian kekayaan intelektual, dan manipulasi perdagangan,” tulis laporan FDD. Para penulis merekomendasikan undang-undang yang lebih ketat tentang pelaporan keuangan dan transparansi untuk mengungkap praktik ilegal Beijing.

“Negara lain mempertahankan pasar terbuka, tetapi begitu Anda masuk ke Tiongkok, Anda akan menghadapi bukan hanya tarif, tetapi juga banyak hambatan non-tarif,” kata Tai. “Mereka tidak memandang ini dari perspektif pasar; sebaliknya, mereka memparasit negara lain.”

Su Tzu-yun, Direktur Divisi Strategi Pertahanan dan Sumber Daya di Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, mengatakan bahwa selain memprioritaskan EV dan teknologi baterai canggih, PKT juga fokus merebut kendali atas seluruh rantai pasok, termasuk unsur tanah jarang dan mineral lain yang dibutuhkan untuk produksinya.

Tiongkok memiliki cadangan besar sumber daya ini. Mereka menguasai 65 persen produksi lithium dunia, 70 persen bahan pembuat katoda, dan 85 persen bahan pembuat anoda, termasuk lithium, nikel, kobalt, dan grafit, menurut FDD.

Lebih dari 95 persen grafit kelas baterai dunia diproduksi di Tiongkok, menurut laporan Universitas Stanford. Karena PKT mengizinkan fasilitas pengolahan untuk mengabaikan pengendalian lingkungan, grafit Tiongkok menyebabkan polusi tinggi tetapi berbiaya jauh lebih rendah dibandingkan produksi asing.

Tiongkok juga memperkuat keunggulan sumber daya alamnya dengan memperoleh akses luas terhadap mineral mentah di Amerika Selatan dan Afrika, kata Su, yang menggambarkan strategi PKT untuk menguasai semua mata rantai pasokan baterai sebagai strategi “memelihara, mengendalikan, dan memusnahkan.”


Subsidi Besar dan Distorsi Pasar

Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), antara 2009 dan 2023, industri EV Tiongkok menerima sekitar 230,9 miliar dolar AS dalam bentuk subsidi negara.

Sebagai perbandingan, subsidi pemerintah AS kepada pengembang EV domestik jauh lebih kecil. Pada 2009, pemerintahan Obama meloloskan American Recovery and Reinvestment Act (ARRA), yang mencakup 2,4 miliar dolar AS untuk industri EV yang saat itu baru berkembang. Dari 2011 hingga 2017, Washington memberikan hampir 5 miliar dolar AS dalam bentuk kredit pajak EV federal, menurut laporan Manhattan Institute for Policy Research.

Walaupun subsidi pemerintah tidak selalu merusak kegiatan pasar, besarnya investasi negara Tiongkok pada pengembangan EV memungkinkan perusahaannya mengabaikan kekhawatiran tentang profitabilitas, keandalan, atau keamanan, serta menyingkirkan pesaing asing.

Ekonom dan komentator Taiwan Huang Shih-tsung mengatakan bahwa sementara perusahaan Barat tunduk pada logika pasar dan modal, perusahaan Tiongkok yang disokong PKT dapat “terus berekspansi, bahkan jika mereka merugi.” Tujuannya adalah merebut pangsa pasar, dengan dukungan pemerintah, bank, dan kebijakan.

Tai dari CIER menggambarkan bagaimana perusahaan yang didukung PKT mampu menembus hambatan masuk industri baterai yang tinggi dengan meniru desain asing, lalu menurunkan kualitas produk Tiongkok hingga batas minimum.

“Perusahaan Jepang ketat dan memadukan material dengan tepat; jarang Anda mendengar baterai Jepang terbakar atau meledak,” ujarnya. “Tapi baterai Tiongkok sering bocor, berkinerja tidak konsisten, dan kadang terbakar atau meledak.”


Memutus Kendali Beijing

Tai percaya bahwa pertumbuhan pesat perusahaan baterai Tiongkok akan bersifat sementara, seperti “kembang api yang indah tapi berumur pendek.” Perusahaan Tiongkok gagal melakukan inovasi sejati yang diperlukan untuk membangun pengakuan merek jangka panjang atau membuat kemajuan mandiri di bidang ini, katanya. Sebaliknya, model bisnis mereka bergantung pada penyalinan teknologi asing demi memenuhi syarat untuk subsidi besar dari Beijing.

Laporan Unplugging Beijing dari FDD menggambarkan paradoks strategi EV dan baterai Tiongkok: meskipun Tiongkok mengeksploitasi pasar asing, ekonomi berorientasi ekspor mereka pada akhirnya juga bergantung pada pasar tersebut. Hal ini memberi AS dan ekonomi pasar lainnya kemampuan untuk menekan Beijing agar memilih antara mengikuti norma internasional atau kehilangan akses perdagangan global.

“Dalam hal ini, parasit tidak mampu membunuh inangnya,” tulis laporan itu. “Kita dapat menghadapkan Tiongkok pada pilihan yang tidak menyenangkan: menerima aturan dasar tertentu atau kehilangan akses ke pasar kita.”

Huang mengatakan bahwa laju cepat kemajuan industri Tiongkok memaksa pemerintah di seluruh dunia menghadapi ancaman dari kebijakan PKT. Khususnya, baik Amerika Serikat maupun Uni Eropa tidak dapat membiarkan Beijing menghancurkan industri baterai atau EV mereka, dan telah mulai memberlakukan tarif terhadap produk Tiongkok.

“Dengan kebijakan seperti pemisahan perdagangan dari Tiongkok yang dilakukan Presiden Donald Trump, kerusakan akibat investasi berlebihan PKT akan perlahan terlihat,” kata Huang.

Laporan FDD merekomendasikan pendekatan yang lebih proaktif oleh AS untuk menandingi keunggulan Tiongkok saat ini di industri baterai, seperti mendorong investasi swasta, mempermudah perizinan federal, membentuk cadangan nasional sumber daya penting, membangun zona ekonomi, dan meningkatkan kapasitas pemurnian domestik.

Su dari INDSR mengatakan bahwa AS dan Eropa memiliki berbagai pilihan untuk menghadapi keunggulan Beijing di industri baterai, seperti memanfaatkan keunggulan mereka dalam kemajuan teknologi baterai dan bekerja sama dengan mitra di seluruh dunia, termasuk di Asia Selatan dan Timur, untuk membendung Tiongkok. Secara khusus, katanya, AS harus bekerja sama erat dengan perusahaan Jepang dan Korea Selatan—pesaing utama kekuatan industri Tiongkok—untuk mengurangi ketergantungan pada produksi Tiongkok.

Laporan ini juga berkontribusi oleh Song Tang dan Yi Ru

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine