Wabah Chikungunya yang meledak di Provinsi Guangdong, Tiongkok, kini mulai menyebar ke provinsi lain. Selain Beijing, Hubei, dan Hunan, penyakit ini juga telah merambah Hong Kong, Makau, dan Taiwan.
Hingga kini, enam provinsi di Tiongkok telah dimasukkan dalam kategori Zona Pengendalian Kelas 1, yaitu tingkat risiko tertinggi. Namun, di saat pihak berwenang mengklaim jumlah kasus menurun, mereka justru menerapkan langkah-langkah pencegahan secara masif, bahkan sampai memaksa pengambilan darah anak-anak di rumah, memicu kecaman dan pertanyaan.
Seorang pembuat konten video memperingatkan: “Hati-hati, jangan meremehkan nyamuk kecil di sekitar Anda. Saat ini, Chikungunya menyebar cepat di Foshan, Guangdong.”
EtIndonesia. Wabah Chikungunya meledak di Foshan pada awal Juni, tetapi baru diumumkan pemerintah pada 15 Juli. Pada 12 Agustus, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional Tiongkok mengumumkan bahwa Guangdong, Zhejiang, Fujian, Hainan, Yunnan, dan Guangxi masuk ke Zona Pengendalian Kelas 1, artinya wilayah tersebut berisiko tertinggi.
Hingga 2 Agustus, data resmi menyebutkan ada 7.716 kasus terkonfirmasi, namun banyak pihak meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Saat ini, selain Beijing, Hubei, dan Hunan, kasus juga sudah ditemukan di Makau, Hong Kong, dan Taiwan.
Pihak Foshan pada 9 Agustus menyatakan bahwa wabah di kota tersebut “menunjukkan tren menurun”, tetapi tindakan pencegahan ketat masih berlanjut. Video warga menunjukkan petugas bermasker menyemprotkan kabut putih pestisida di berbagai lokasi untuk membasmi nyamuk.
Warga lain melaporkan bahwa metode pencegahan pemerintah sangat keras, termasuk mewajibkan tes PCR, antrean pengambilan darah, bahkan pada 4 Agustus di Zhanjiang, Guangdong, petugas desa masuk ke rumah saat orang tua tidak ada dan mengambil darah dua anak kecil. Ketika dikeluhkan, mereka beralasan itu untuk penelusuran wabah, yang memicu kemarahan publik.
“Masuk ke rumah saat orang tua tidak ada lalu mengambil darah anak-anak adalah pelanggaran berat terhadap etika medis. Tes serologi untuk Chikungunya tidak memiliki arti khusus dalam hal pengobatan,” ujar mantan peneliti virus di Institut Riset Angkatan Darat AS, Lin Xiaoxu.
Chikungunya, atau qū gōng bìng, utamanya ditularkan oleh gigitan nyamuk. Kebanyakan pasien mengalami gejala ringan seperti demam, nyeri sendi, dan ruam. Saat ini belum ada obat khusus maupun vaksin. Karena itu, publik mempertanyakan langkah pencegahan berlebihan pemerintah.
Lin Xiaoxu menambahkan: “Kalau ini bukan penyakit yang menular antar manusia, tidak perlu isolasi. Bisa jadi pemerintah tidak menjelaskan sepenuhnya kepada publik. Mungkin dalam wabah Chikungunya ini, ada patogen lain yang juga muncul? Karena sampai sekarang belum ada laporan lengkap. Jadi saya curiga pemerintah menyembunyikan situasi yang lebih serius, makanya mereka melakukan langkah-langkah ekstrem ini.”
Wabah COVID-19 yang meledak di Wuhan lima tahun lalu tak pernah benar-benar reda di Tiongkok. Varian virus terus bermutasi, angka infeksi dan kematian tetap tinggi, sementara pemerintah terus menutup-nutupi data.
Seorang dokter anak pemilik akun “Dokter Anak Li Baibai” berkata: “Gelombang COVID kali ini berlangsung cukup lama. Belakangan saya melihat banyak anak positif COVID di IGD anak.”
Data terbaru dari Pusat Pengendalian Penyakit Tiongkok menunjukkan bahwa dari sampel pasien dengan gejala mirip flu di rumah sakit rujukan, virus penyebab yang paling dominan adalah COVID-19. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


