EtIndonesia. Penyair Bei Dao pernah berkata: “Batas jarak yang ditempuh seseorang, itulah batas dunianya.”
Nama aslinya adalah Zhao Zhencai (lahir 2 Agustus 1949), dan “Bei Dao” adalah nama pena yang diberikan oleh penyair Mang Ke—nama yang membuatnya dikenal luas di dunia sastra.
Jangkauan langkah kakimu menentukan keluasan pandanganmu melihat dunia. Dan dibanding panorama alam, ada beberapa tempat yang jauh lebih layak untuk kamu kunjungi demi membentuk cara pandang hidup.
Seorang penulis pernah berkata, “Jika aku boleh menambahkan satu hari libur nasional, aku akan mengatur bahwa pada hari itu, orang-orang dilarang bepergian untuk hiburan atau wisata. Sebaliknya, mereka wajib pergi ke rumah sakit untuk melihat secara langsung ‘lahir, tua, sakit, dan mati’.”
Di Selandia Baru, Sekolah Dasar Linfield bahkan mewajibkan murid-muridnya untuk setiap semester mengunjungi rumah sakit, agar mereka belajar merasakan makna kesehatan dan kehidupan.
Ketika kamu datang ke rumah sakit, barulah kamu akan sadar betapa bahagianya bisa duduk dengan nyaman tanpa rasa sakit, bebas mengutarakan pikiran; betapa berharganya berjalan di bawah langit biru dan awan putih setelah pulang kerja; betapa nikmatnya menyeruput teh hangat bersama teman dan berbincang santai.
Berjalanlah di rumah sakit, dan kamu akan mengerti: dibanding kesehatan, tidak ada hal yang benar-benar tak bisa dilepaskan. Uang bisa dilepaskan, jabatan bisa dilepaskan, bahkan kemuliaan pun bisa diabaikan—meski langit runtuh sekalipun.
Profesor Lu Zhen dari Universitas Nankai pernah menghabiskan lima tahun berkeliling 49 negara. Selain menikmati pemandangan, dia punya kebiasaan unik: di setiap tempat yang dia datangi, dia pasti menyempatkan diri mengunjungi makam tokoh terkenal.
Bagi Lu Zhen: “Perjalanan bukan diukur dari seberapa jauh jarak yang ditempuh, seberapa banyak uang yang dihabiskan, atau seberapa banyak foto yang diambil. Yang terpenting adalah sejauh mana perjalanan itu mengubah cara pandangmu terhadap hidup. Dan makam—adalah tempat terbaik untuk itu.”
Ada seorang pengusaha sukses yang setiap hari pulang membawa setumpuk berkas, bekerja hingga larut malam. Meski kerja keras, dia tetap cemas dan tubuhnya mulai drop, hingga akhirnya dia menemui dokter.
Dokter bertanya: “Kenapa semua berkas itu harus kamu bawa pulang?”
Pengusaha: “Karena semua ini penting dan mendesak.”
Doketer: “Tidak bisa dibantu asisten atau wakilmu?”
Pengusaha: “Tidak, semua harus aku tanda tangani sendiri.”
Dokter tersenyum dan menulis resep: “Setiap hari berjalan di pemakaman selama dua jam, seminggu minimal satu putaran penuh.”
Awalnya pengusaha itu bingung, namun dia menuruti saran tersebut. Setahun kemudian, dia berhenti mengurusi semua hal kecil, dan perusahaan justru berjalan lebih baik. Dia akhirnya mengerti: di hadapan hidup dan mati, hal-hal lain begitu kecil dan mudah dilepaskan.
Sejarawan Xu Zidong pernah berkata: “Jika ada hal yang membuatmu buntu, pergilah ke pemakaman. Kamu akan segera mengerti. Pemakaman adalah miniatur kehidupan.”
Seorang netizen bernama Dada pernah mengikuti kunjungan sekolah ke penjara. Peraturan ketat: tak boleh memakai rok, celana pendek, atau baju tanpa lengan; tak boleh membawa ponsel atau jam tangan; setiap langkah harus sesuai antrean dan jadwal.
Begitu masuk, bau menyengat disinfektan menusuk hidung. Sel tahanan sempit, satu ruangan diisi 12 orang, semua perlengkapan seragam.
Seorang napi kasus korupsi bercerita: saat ditangkap, anaknya baru berusia lima tahun. Dia berbohong mengatakan sedang pergi ke luar negeri. Kini anaknya sudah sepuluh tahun, tapi dia masih tak berani mengatakan kebenaran—bahkan membayangkannya pun tidak sanggup.
Dada pulang dengan perasaan berat: banyak orang masuk ke sini hanya karena satu langkah salah, satu pikiran keliru yang mengubah segalanya.
Film The Shawshank Redemption menggambarkan perasaan ini lewat tokoh Red: “Malam pertama adalah yang paling menyakitkan. Kulit terasa seperti terbakar karena bubuk disinfektan. Begitu pintu jeruji terkunci, barulah kamu sadar semua yang dulu kamu miliki telah pergi. Yang tersisa hanyalah kenangan.”
Banyak napi yang di malam pertamanya nyaris gila. Ada seorang napi gemuk yang berteriak ingin pulang, ingin bertemu ibunya—akhirnya tewas dipukuli sipir.
Baru di saat itu terasa, tidak ada yang lebih berharga daripada kebebasan.
Seperti kata Ingersoll: “Bagi manusia, kebebasan itu seperti cahaya bagi mata, udara bagi paru-paru, dan cinta bagi jiwa.”
Pergilah melihat penjara, maka kamu akan paham betapa mahalnya kebebasan. Di persimpangan hidup, kamu akan lebih berhati-hati menjaga dirimu.
Jika ingin berdialog dengan para pemikir besar dengan cara termurah, pergilah ke toko buku atau perpustakaan. Manfaatnya banyak, kesenangannya pun tak terhitung.
Pengusaha Wang Shi menulis di mejanya: “Tolok ukur keberhasilan seseorang bukan seberapa tinggi dia mendaki puncak, melainkan seberapa kuat dia bangkit dari jurang terdalam.”
Bagi Wang Shi, kekuatan bangkit itu datang dari membaca.
Pada 2011, di usia 59 tahun, dia memutuskan kuliah di Harvard, bukan untuk gelar kehormatan, melainkan untuk benar-benar belajar. Dia menghadiri kuliah, membuat catatan, mengikuti seminar, menghabiskan waktu di toko buku, dan bolak-balik antara apartemen, kampus, dan perpustakaan—lebih tekun dari siswa kelas tiga SMA menjelang ujian.
Seringkali, manusia bukan kalah oleh kerasnya hidup, tapi oleh kemalasannya sendiri. Jika kamu sudah lupa kapan terakhir kali menginjak toko buku atau membaca buku, mungkin inilah alasan kenapa hidupmu stagnan.
Pergilah ke toko buku, dan kamu akan sadar betapa miskinnya pengetahuanmu, dan betapa besar kebutuhanmu akan asupan baru bagi pikiran.
Makna berjalan ada pada kemampuannya mengubah pola pikir.
Seperti kata Lu Zhen: “Perjalanan bukan soal jarak, biaya, atau foto, melainkan perubahan cara pandang.”
Bahkan hanya berjalan mengelilingi kamarmu, bisa lebih berarti daripada mengelilingi dunia tanpa perubahan hati.
Mungkin, sudah saatnya kamu keluar. Tidak harus ke tempat wisata terkenal—rumah sakit, pemakaman, penjara, toko buku—semua bisa jadi pilihan. Siapa tahu, tanpa sengaja, pandanganmu tentang hidup akan berubah selamanya. (jhn/yn)


