Sebuah Peristiwa Kecil yang Memberi Pencerahan

EtIndonesia. Dalam hidup, setiap hari ada banyak hal yang terjadi. Ada yang seperti asap di langit—sekilas lewat dan cepat terlupakan. Tapi ada juga yang begitu membekas di ingatan, tak bisa dihapus.

Salah satunya terjadi menjelang ujian akhir semester tahun lalu.

Karena ujian sudah dekat, setiap hari saya hanya belajar dan mengulang pelajaran. Saya merasa semua materi sudah sangat dikuasai, sehingga mulai belajar dengan setengah hati. Bahkan, latihan-latihan yang diberikan guru pun tidak saya anggap penting.

Suatu hari, guru meminta kami menulis dua puisi klasik dan dua kutipan terkenal. Saya pun dengan cepat menyelesaikannya. Namun, ketika buku catatan dikembalikan, saya terkejut—nilainya “90”! Saya bahkan sempat ragu apakah mata saya yang bermasalah. Sejak kecil, nilai saya hampir selalu “sangat baik”. Bagaimana mungkin sekarang jatuh sejauh itu?

Setelah diperiksa, ternyata saya menukar urutan isi dua puisi itu, dan pada dua kutipan terkenal, saya lupa menuliskan nama pengarangnya! Saya benar-benar kecewa.

Di rumah, saya merenung sendirian: Mengapa hasilnya bisa seperti ini? Alasannya hanya satu—karena saya terlalu sombong dan merasa diri sudah cukup pintar. Untungnya, dari peristiwa ini saya sadar akan kesalahan saya tepat waktu, sehingga pada ujian akhir semester, saya bisa meraih nilai yang baik.

Bagi perjalanan belajar saya, ini hanyalah sebuah peristiwa kecil. Namun, meski sudah lama berlalu, pelajarannya sangat besar: Jangan pernah merasa sombong dan puas diri. Kesombongan membuat kita kehilangan akal sehat, kepuasan berlebihan membuat kita kehilangan arah.

Di masa depan, saya akan selalu mengingat: Rendah hati membawa kemajuan, sedangkan kesombongan membuat kita tertinggal.

Suatu hari, saya dan seorang teman pergi bermain ke taman. Saat melewati tempat sampah, kami melihat banyak bungkus makanan dan tisu berserakan di sekitarnya. Saya berpikir, mungkin ada anak-anak yang habis makan lalu membuangnya sembarangan.

Saya dan teman pun memungutnya dan mengembalikannya ke “rumah” mereka—tempat sampah itu—lalu melanjutkan bermain.

Sore hari saat hendak pulang, kami kembali melewati tempat itu. Bau busuk menusuk hidung membuat kami menutup hidung rapat-rapat. Di luar tempat sampah, sudah menumpuk banyak sekali sampah. Kami kesal, berpikir: Mengapa ada lagi yang membuang sampah sembarangan? Apakah mereka tidak tahu pentingnya menjaga kebersihan lingkungan?

Saat kami berbincang, datanglah seorang anak laki-laki sekitar enam tahun. Dia membuang kantong sampah ke dalam tempat sampah, lalu menatap sampah yang berserakan di luar dengan dahi berkerut. Beberapa saat kemudian, dia mengambil selembar kertas, menulis sesuatu dengan spidol warna, lalu menempelkannya di tempat sampah sebelum pergi.

Setelah dia pergi, kami mendekat. Ternyata tulisan di kertas itu adalah huruf-huruf besar yang sedikit miring: “Tolong Jangan Buang Sampah Sembarangan.”

Saya terharu dan berkata kepada teman: “Anak kecil saja tahu untuk tidak membuang sampah sembarangan. Lalu bagaimana dengan orang dewasa?”

Dari peristiwa ini saya paham: Jika setiap orang membuang sampah sembarangan, lingkungan kita akan kotor dan tidak layak huni. Tentu ini bukanlah yang kita inginkan!

Maka, kita semua harus bertindak, mulai dari diri sendiri, menjaga kebersihan lingkungan. Hanya dengan begitu rumah kita akan menjadi tempat yang lebih indah.

Pada suatu Sabtu yang cerah, saya dan kedua orangtua pergi ke Xiaolangdi untuk melihat pemandangan pintu air dibuka. Mobil melaju di jalanan yang berliku, pohon-pohon besar berbaris di tepi jalan, tampak lebih hijau karena baru saja diguyur hujan. Rumput liar pun seolah mengenakan pakaian hijau baru, dan bunga-bunga tampak semakin segar.

Sesampainya di pintu air, air putih seperti susu memancar deras, bagaikan naga raksasa putih yang meliuk-liuk di udara. Pemandangan itu sungguh megah. Kami duduk di bangku panjang sambil melihat pemandangan dan makan camilan.

Tanpa sadar, kulit telur, kulit buah, bungkus plastik, dan sampah kecil lainnya jatuh ke tanah. Tidak lama kemudian, sampah itu sudah menumpuk di sekitar kami. 

Saat ayah berbalik dan melihatnya, beliau berkata: “Jangan membuang sampah sembarangan! Itu perbuatan yang tidak beretika. Kita harus menghargai kerja keras orang lain dan menjaga lingkungan. Perilaku seseorang tercermin dari hal-hal kecil seperti ini.”

Lalu ayah mengumpulkan semua sampah itu ke dalam kantong plastik dan membawanya untuk dibuang nanti.

Mendengar itu, saya merasa sangat malu. Ternyata, perilaku beradab hanya terpaut satu langkah. Hal yang sederhana seperti ini memang semua orang tahu, tetapi mempraktikkannya tidak selalu mudah.

Dalam perjalanan pulang, saya membuang sampah ke tempatnya. Saya berpikir, lain kali kalau pergi berwisata, saya akan membawa kantong sampah sendiri untuk mengumpulkan semua sampah yang saya hasilkan. Semoga kebiasaan ini bisa menyebar dari satu orang ke orang lain, seperti obor Olimpiade yang tak pernah padam.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine