Putin Datang ke Alaska dengan Pasukan Elite, Trump Siapkan Jurus Pamungkas

EtIndonesia. Dunia menatap Alaska dengan penuh perhatian. 15 Agustus 2025, Jumat waktu setempat, (Sabtu dini hari WIB), Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump dan Presiden Rusia,  Vladimir Putin akan duduk satu meja dalam pertemuan puncak yang dinilai sebagai salah satu momen diplomatik paling menentukan tahun ini. Bahkan sebelum pertemuan resmi dimulai, berbagai manuver politik dari kedua pihak sudah memicu gelombang reaksi internasional.

Persiapan Intensif Kedua Pihak

Putin, yang kali ini tampak bergerak tanpa dukungan terbuka sekutu besar lain, menunjukkan keseriusannya dengan memanggil para pejabat tinggi Rusia untuk merumuskan strategi. Bahkan sebelum keberangkatannya ke AS, Moskow telah mengirim delegasi besar ke Alaska guna mempersiapkan teknis dan logistik pertemuan. 

Pada Kamis, Rusia mengerahkan setidaknya tiga pesawat kepresidenan IL-96-300 berkapasitas lebih dari 260 penumpang, yang membawa pejabat tinggi, staf, dan pasukan pengamanan.

Pertemuan akan berlangsung di Pangkalan Militer Gabungan Elmendorf–Richardson, Anchorage — sebuah lokasi strategis yang juga menjadi markas jet tempur siluman F-22 Raptor. Trump sempat keliru menyebut Anchorage sebagai ibu kota Alaska, sebelum mengoreksi bahwa ibu kota sebenarnya adalah Juneau.

Delegasi yang Terlibat

Meskipun jumlah rombongan yang dibawa Rusia cukup besar, peserta resmi yang akan duduk di meja perundingan terbilang terbatas. Dari pihak Rusia hadir Asisten Presiden untuk Urusan Internasional Yury Ushakov, Menteri Luar Negeri,  Sergey Lavrov, Menteri Keuangan, Menteri Pertahanan, dan perwakilan Dana Investasi Langsung Rusia

Dari pihak AS, yang sudah diumumkan antara lain Wakil Presiden JD. Vance, Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, utusan khusus Trump Witkoff, serta Menteri Keuangan, Bessent. Komposisi ini menunjukkan pembahasan akan mencakup isu militer, diplomasi, dan ekonomi tingkat tinggi.

Format Pertemuan

Agenda akan diawali dengan pertemuan tertutup one-on-one antara Trump dan Putin, hanya ditemani dua penerjemah. Setelah itu, delegasi akan bergabung untuk diskusi lanjutan. Seusai pembicaraan, keduanya dijadwalkan menggelar konferensi pers bersama.

Mengapa Zelenskyy Tak Diundang?

Sejumlah media mempertanyakan absennya Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan ini. Trump menjawab bahwa sehari sebelumnya dia telah melakukan konferensi video bersama Zelenskyy dan para pemimpin NATO. Dalam kesempatan itu, Trump menilai pembicaraan berjalan “sangat menyenangkan” dan memberi nilai 10.

Trump menegaskan bahwa setiap keputusan terkait Ukraina tidak bisa diambil tanpa keterlibatan langsung Kiev. Dia juga mendorong terciptanya pertemuan tiga pihak — AS, Rusia, dan Ukraina — untuk membahas gencatan senjata dan jaminan keamanan.

Tuntutan Damai yang Bertolak Belakang

Ketegangan diplomatik kian terasa setelah Zelenskyy mengajukan enam tuntutan:

  1. Gencatan senjata segera.
  2. Pertukaran wilayah tertentu.
  3. Pemulangan seluruh anak dan tawanan perang.
  4. Pembayaran ganti rugi perang sebesar 1 triliun dolar AS oleh Rusia.
  5. Kebebasan Ukraina bergabung dengan NATO dan Uni Eropa tanpa pengurangan kekuatan militer atau penghentian bantuan senjata.
  6. Tidak ada pencabutan sanksi internasional terhadap Rusia.

Tuntutan ini bertolak belakang dengan posisi Putin, yang membuat kemungkinan pertemuan langsung kedua pemimpin Ukraina–Rusia sulit terwujud tanpa campur tangan mediasi kuat.

Strategi Trump

Trump diyakini akan menggunakan gaya negosiasinya yang khas: mendorong kedua pihak membuka “batas akhir” tuntutan mereka, kemudian memangkas poin-poin yang tidak realistis. Menariknya, menurut media Inggris, Trump mempertimbangkan tawaran akses ke sumber daya mineral langka di Alaska sebagai “umpan” bagi Putin — sebuah strategi yang langsung menuai kritik dari politisi sayap kiri AS dan Eropa

Meski demikian, Menteri Keuangan AS, Scott  Bessent meminta negara-negara Eropa memberi kesempatan pada strategi perdamaian Trump sebelum menilai.

Sikap Putin

Menjelang keberangkatan, Putin menyampaikan bahwa AS sedang menunjukkan upaya tulus untuk mengakhiri permusuhan. Dia mengisyaratkan keterbukaan untuk membahas peluang kerja sama ekonomi dan perjanjian pengendalian senjata nuklir.

Sementara di Medan Perang

Kenyataannya, kedua pihak masih memperkuat posisi militernya. Intelijen AS mencatat, sehari setelah rencana KTT Alaska diumumkan, Rusia melancarkan serangan darat besar-besaran di Ukraina timur, merebut wilayah terluasnya dalam satu tahun terakhir.
Menggunakan taktik unit serbu kecil yang memanfaatkan celah pertahanan Ukraina, Rusia dibantu serangan drone masif. Ukraina merespons dengan pasukan cadangan elit untuk memutus jalur suplai dan melakukan pengepungan balik, terutama di garis pertahanan Pokrovsk yang berhasil menahan 40 serangan Rusia.

Tiga Skenario Hasil KTT

Pengamat menilai, KTT Alaska berpotensi menghasilkan tiga skenario:

  1. Terburuk – Negosiasi buntu, sanksi diperketat, perang semakin membesar.
  2. Sedang – Gencatan senjata sementara tanpa kesepakatan wilayah, berisiko pecah lagi.
  3. Terbaik – Gencatan senjata permanen, jaminan keamanan untuk Ukraina, dan dimulainya perundingan politik rasional.

(***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine