Cerita Filosofis: Mulailah dari Hal Kecil yang Sepele

EtIndonesia. Sekitar sepuluh tahun lalu, hiduplah seorang petani di pinggiran kota. Ia dikenal pendiam, jarang berbicara, dan wajahnya selalu terlihat sedikit murung. Namun ada satu hal yang ia sukai: membaca buku. 

Selain itu, ia punya hobi yang saat itu dianggap tidak berguna di desa—menanam bunga dan merawat tanaman. Karena itulah, orang-orang di sekitarnya sering mengejeknya. Mereka berkata hidupnya malang, lahir di tempat yang salah, di keluarga yang salah. Tetapi, semua ejekan itu ia abaikan. Ia tetap menjalani hidup seperti biasanya.

Suatu hari, ia berjalan-jalan ke pusat kota yang sedang dalam proses renovasi. Tanpa sengaja ia melihat sebidang tanah kosong di samping gedung pemerintahan kota, penuh dengan sampah dan rumput liar. Ia berdiri lama di sana, lalu bergumam:
“Sayang sekali… kalau lahan ini dijadikan taman, pasti indah sekali.”

Tak disangka, seseorang di belakangnya menyahut:
“Benar juga. Bisa jelaskan bagaimana caranya menurutmu?”

Ia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya tersenyum padanya, ditemani seorang anak muda. Orang di sebelahnya berbisik, “Itu wali kota yang baru.”

Petani itu lalu berkata dengan mantap, “Kalau Anda setuju, saya bisa mengubah tanah kosong ini jadi taman.”
Wali kota menjawab, “Urusan kota sudah terlalu banyak. Untuk proyek ini, saya khawatir belum ada dana.”
Petani itu tersenyum, “Saya tidak butuh uang. Biar saya yang kerjakan, dan setelah selesai, saya juga bisa menjaganya.”

Wali kota terdiam sejenak, lalu mengangguk terharu, “Baik, saya setuju.” Ia bahkan menyuruh sekretarisnya mengumumkan keputusan itu supaya tidak ada pihak yang menghalangi.

Keesokan harinya, petani itu datang dengan kendaraan roda tiga miliknya, penuh dengan alat-alat kerja. Ia mulai dengan membersihkan sampah, mencabut rumput liar, meratakan tanah, memasang pagar kayu, lalu membuat papan kecil bertuliskan: “Taman Baiwan” — karena nama kecilnya adalah Wanwan.

Kabar bahwa seorang petani rela membangun taman dengan biaya sendiri segera menyebar luas. Banyak warga penasaran datang menonton. Bahkan wartawan TV dan surat kabar meliput. Namun ketika ditanya mengapa ia melakukan semua ini, ia hanya diam dan terus bekerja. Justru sikap bungkamnya itulah yang membuat orang-orang makin tertarik. Sejak itu, ia dan “Taman Baiwan” menjadi buah bibir di seluruh kota.

Perlahan-lahan, orang-orang yang dulu hanya menonton mulai ikut membantu. Ada yang menyumbang bibit pohon, ada yang memberi benih bunga, siswa-siswa dari sekolah terdekat ikut membantu selepas sekolah. Sebuah taman bunga bahkan mengirimkan bibit mawar dan bunga rambat. Tak ketinggalan, seorang direktur perusahaan kayu menawarkan bangku-bangku taman secara gratis.

Beberapa bulan kemudian, lahan yang dulunya kumuh penuh sampah itu telah berubah menjadi taman indah: pagar kayu dihiasi rambatan bunga mawar, rerumputan hijau membentang, jalan setapak dari batu kerikil berkelok ke deretan bangku putih. Orang-orang bisa masuk dengan bebas, berjalan-jalan, atau beristirahat. Ia tersenyum melihat hasilnya—meski tetap saja jarang berbicara. Saat itu usianya sudah 42 tahun.

Namun, ia tidak berhenti di sana. Ia tidak menjadi penjaga tetap “Taman Baiwan”, melainkan mulai bepergian ke kota-kota lain. 

Ada yang mengundangnya, ada juga yang ia datangi sendiri. Bukan untuk memberi ceramah, tetapi untuk merancang taman. Berkat kerja keras dan pembelajarannya selama bertahun-tahun, ia akhirnya dikenal sebagai seorang desainer taman yang penuh kisah inspiratif. Namanya kini tercatat di banyak rancangan taman kota.

Meski begitu, taman yang paling ia banggakan, yang paling ia rindukan, tetaplah “Taman Baiwan”—karena di situlah awal mula ia menemukan arti hidupnya yang baru. (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine