Akar dari Segala Keluhan Ada pada Perbandingan yang Keliru

EtIndonesia. Jack Ma, pendiri Alibaba, pernah berkata: “Sikap hidup yang tidak pernah mengeluh adalah yang paling utama.” Namun, kenyataannya banyak orang justru suka mengeluh. Mengeluh soal pekerjaan yang penuh tekanan, mengeluh soal rumah tangga yang banyak masalah, mengeluh tentang keadaan sosial yang memburuk, mengeluh bahwa nasib tidak adil. Seakan-akan selalu ada alasan untuk mengeluh, bahkan merasa keluhan itu wajar dan pantas.

Sekali-dua kali mengeluh masih bisa dimaklumi, karena itu adalah bentuk pelampiasan emosi. Tetapi jika keluhan menjadi kebiasaan, tanpa peduli waktu dan tempat, itu sudah jadi masalah serius. Itu adalah tanda mentalitas yang tidak sehat, sebuah kebiasaan buruk, bahkan energi negatif dalam hidup. 

Jika terbiasa mengeluh, kita bukan hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga meracuni orang-orang di sekitar kita. Karena itu, kita harus sadar, berusaha mengatasi, menjauh dari keluhan, dan menjalani hidup dengan sikap positif.

Mengapa orang suka mengeluh? Alasannya banyak dan kompleks, tapi ada dua penyebab utama:

1.     Tidak bisa memandang hidup dengan sikap positif.

2.     Tidak mampu melakukan perbandingan dengan cara yang benar.

Tidak Mampu Positif

Orang yang suka mengeluh biasanya tidak bisa melihat sisi indah dari hidup. Mereka tidak tahu bersyukur, tidak merasa cukup, dan tidak menghargai apa yang sudah dimiliki. Padahal, sesuatu yang terjadi pada kita adalah sebuah fakta, tetapi bagaimana kita menyikapinya ditentukan oleh cara pandang kita. Seperti kata Shakespeare dalam Hamlet: “Tidak ada yang benar-benar baik atau buruk, semua tergantung pikiran kita.”

Perbandingan yang Salah

Inilah akar utama keluhan. Banyak orang terbiasa membandingkan apa yang tidak dimiliki dengan apa yang orang lain miliki. Membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain. Semakin dibandingkan, semakin kesal, semakin iri, dan akhirnya lahir perasaan cemburu, benci, serta dendam. Hidup pun penuh keluhan.

Sebaliknya, perbandingan yang benar adalah seni hidup, kunci untuk merasa bahagia. Ia adalah bentuk kebijaksanaan hidup. Semua orang pasti membandingkan diri dengan orang lain—itu naluri manusia. Tetapi cara kita membandingkan menunjukkan seberapa dewasa kita dalam mengendalikan hidup.

Kisah Franklin D. Roosevelt

Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika ke-32, adalah sosok legendaris. Meski lumpuh dan harus duduk di kursi roda, ia berhasil memimpin bangsa keluar dari depresi besar dan perang. Suatu ketika rumahnya kemalingan. Seorang temannya menulis surat menghibur, dan Roosevelt menjawab:

“Terima kasih atas penghiburanmu. Aku baik-baik saja. Aku justru bersyukur pada Tuhan karena: Pertama, pencuri hanya mengambil barangku, bukan nyawaku. Kedua, pencuri hanya mengambil sebagian, bukan semuanya. Ketiga, yang menjadi pencuri adalah dia, bukan aku.”

Hilang harta memang sial, tetapi Roosevelt memilih melihat sisi yang bisa disyukuri. Ia menemukan tiga alasan untuk tidak mengeluh, melainkan berterima kasih.

Belajar dari Penderitaan

Penulis Tiongkok, Shi Tiesheng, yang seumur hidup sakit-sakitan, pernah menulis:

“Ketika demam, baru sadar betapa nikmatnya saat tubuh tidak panas. Saat batuk, baru tahu betapa damainya tenggorokan yang sehat. Saat duduk di kursi roda, aku merasa dunia gelap. Tapi setelah terkena luka baring dan tak bisa bergerak, aku baru sadar, bisa duduk tegak itu sebenarnya anugerah. Lalu ketika sakit ginjal hingga pikiran pun sulit berjalan, aku semakin merindukan masa lalu. Akhirnya aku mengerti: setiap saat kita selalu beruntung, karena di balik setiap kesulitan, masih mungkin ada yang lebih buruk.”

Artinya, kita mengeluh karena kita tidak tahu—masih ada keadaan yang lebih buruk dari yang kita alami. Begitu sadar, keluhan akan berubah menjadi rasa syukur.

Belajar Melihat Sisi Lain

Anton Chekhov, penulis besar Rusia, pernah berkata: “Jika jarimu tertusuk duri, kamu masih patut bersyukur—karena itu bukan matamu yang tertusuk.” Betul, hidup pasti ada ketidaknyamanan kecil, tetapi masih ada yang lebih parah dari itu.

Saat kita kehilangan sepasang sepatu, lihatlah mereka yang bahkan tak punya kaki. Saat kita mengeluh makanan kurang enak, ingatlah ada orang yang mencari sisa di tempat sampah. Saat kita merasa rumah terlalu sempit, bayangkan orang yang tidur di jalanan. Saat kita mengeluh pasangan kurang baik, pikirkan mereka yang ditinggalkan sendirian di rumah sakit. Saat kita kecewa anak tak berprestasi, sadarilah ada orang yang mendambakan anak tapi tak pernah memilikinya.

Hidup dengan Rasa Syukur

Ketika kita mampu melihat dari sisi lain, kita akan sadar betapa beruntungnya kita. Hidup kita memang tidak sempurna, tapi masih jauh lebih baik daripada banyak orang lain.

Dengan hati penuh rasa syukur, kita akan:

·        Mengabaikan hal-hal kecil yang tak sesuai harapan.

·        Lebih mudah memaafkan orang yang pernah membuat kita kecewa.

·        Menghargai apa yang kita miliki sekarang.

·        Tidak lagi terjebak dalam kebiasaan mengeluh.

Kita boleh mengejar hidup yang lebih baik, boleh berusaha keras untuk meraih cita-cita, tetapi satu hal yang tak boleh kita lakukan adalah mengeluh tentang hidup. Karena kita adalah orang yang beruntung—dan orang beruntung tidak punya alasan untuk mengeluh.


Intinya: Akar dari segala keluhan ada pada perbandingan yang keliru. Jika kita belajar membandingkan dengan cara yang tepat, kita akan menemukan alasan untuk bersyukur, bukan untuk mengeluh. (jhon)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine