EtIndonesia. Mantan pengusaha asal Shanghai, Cao Jie, karena menyebarkan kebenaran tentang virus COVID-19, ditangkap dan dipukuli oleh polisi Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia mengatakan, Partai Komunis adalah rezim jahat yang “mengatakan semua hal baik, tapi melakukan semua kejahatan.” Ia menyerukan lebih banyak rakyat Tiongkok untuk keluar dari PKT dan melepaskan diri dari kendali partai itu.
Cao Jie, seorang pengusaha asal Shanghai, pernah mengelola perusahaan properti dengan pendapatan hingga 10 ribu yuan per hari. Ia mengenang, pada 31 Desember 2019, sebelum wabah virus PKT meledak, ia sudah mengetahui adanya epidemi dan mulai memposting informasi di lingkaran sosialnya. Karena terus-menerus menyebarkan kebenaran, akun media sosialnya berulang kali diblokir. Pada Juni 2020, ia ditangkap oleh polisi PKT di Distrik Baoshan, Shanghai.
“Saya berdebat dengan polisi itu, tetapi dia sama sekali mengabaikan pendapat saya. Satu-satunya tuntutannya hanyalah agar saya patuh, tidak lagi mengeluarkan komentar apa pun, terutama hal-hal yang belum disampaikan media resmi,” ujarnya.
“Polisi muda itu sepenuhnya kehilangan niat untuk berdialog, ia menendang saya hingga terjatuh ke tanah, kursi kayu yang saya duduki ikut roboh dan membuat tulang saya patah. Ia kemudian menghajar saya dengan pukulan dan tendangan,” tambahnya.
Ia mengatakan sejak saat itu citra polisi sebagai “positif” runtuh sepenuhnya dalam pikirannya.
Menurutnya, jika perkataannya tidak ditekan, jika PKT tidak menutup-nutupi informasi, mungkin lebih banyak nyawa bisa terselamatkan. Pada November 2022, ketika terjadi Gerakan Kertas Putih di Shanghai, rakyat meneriakkan “Turunkan PKT,” keluarganya yang beranggotakan empat orang juga ikut turun ke jalan.
“Saya membawa bunga untuk ikut aksi protes di Jalan Urumqi. Begitu sampai di lokasi, kami langsung ditanyai oleh polisi berpakaian sipil. Karena tidak ada hasil, seketika itu juga bunga kami dirampas oleh polisi yang berjaga, dan kami diperlakukan seperti teroris,” katanya.
Ia mengecam keras PKT yang bukan hanya menutup-nutupi fakta pandemi, tetapi juga menutupi kebenaran sejarah. Ia menyinggung bahwa pada masa “tiga tahun kesulitan” rezim PKT membuat 40 juta orang mati kelaparan — sebuah kejahatan tak berperikemanusiaan.
“Dulu slogannya ‘sepenuh hati melayani rakyat’, kini berganti menjadi: Partai Komunis mengucapkan semua hal manis, tapi melakukan semua kejahatan. Hampir semua kata-kata indah di dunia sudah diucapkan PKT, tetapi semua keburukan juga dilakukannya tanpa terkecuali. Mereka berteriak untuk rakyat, padahal kenyataannya menindas rakyat dan merampas hasil jerih payah mereka,” ujarnya.
Ia menyerukan agar 1,4 miliar rakyat Tiongkok segera melihat kebenaran, keluar dari PKT, dan melepaskan diri dari kendali partai itu.
Cao Jie menambahkan: “Saya lahir dan besar di Tiongkok. Saya mencintai tanah air ini dan orang-orang yang hidup di atasnya. Tetapi saya tidak mencintai partai ini. Saya sangat jelas memahami, PKT bukanlah Tiongkok, dan Tiongkok juga bukan PKT.”
Ia mengatakan bahwa sebelumnya ia sering menembus sensor internet (VPN) sehingga mengetahui banyak kebenaran yang ditutup-tutupi PKT, termasuk fakta bahwa Falun Gong adalah ajaran untuk menjadi orang baik. Menurutnya, prinsip “Sejati, Baik, Sabar” seharusnya menjadi kualitas mulia yang dimiliki semua orang di negara mana pun.
Cao Jie: “Banyak orang yang berlatih Falun Gong kemudian dijatuhi hukuman, ditahan, dan mengalami penganiayaan kejam. Bahkan praktik brutal pengambilan organ hidup-hidup, itu benar-benar melawan nurani manusia. Di negara mana pun, oleh organisasi atau individu mana pun, itu tidak bisa ditoleransi.”
Sumber : NTDTV.com


