EtIndonesia. Sebuah drama keluarga telah memicu perdebatan sengit di media sosial Tiongkok setelah seorang ibu – yang telah memberikan putrinya 4,9 juta yuan (sekitar Rp 11 miliar) sebagai kompensasi karena berhenti bekerja demi merawatnya – menggugat putrinya untuk mendapatkan kembali uang tersebut menyusul perselisihan sengit mengenai sewa yang belum dibayar.
Kasus ini bermula ketika sang ibu, bermarga Jin, yang usianya masih dirahasiakan, membutuhkan bantuan karena masalah kesehatan. Pada tahun 2021, dia mencapai kesepakatan dengan putrinya, bermarga Lu, untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di Guangzhou dan kembali ke Beijing.
Detail mengenai pekerjaan dan gaji Lu di Guangzhou belum diungkapkan.
Untuk mengkompensasi putrinya atas hilangnya pendapatan, Jin setuju untuk mentransfer seluruh 4,9 juta yuan dari penjualan apartemen dua kamar tidurnya di kawasan Xisanqi, Beijing, kepada Lu.
Perjanjian tersebut didokumentasikan secara resmi pada 21 Desember 2023, dalam sebuah kontrak tertulis yang menyatakan bahwa Lu akan menanggung semua biaya perawatan lansia – termasuk rawat inap, tagihan medis, sewa, dan biaya hidup wajar lainnya – hingga ibunya meninggal dunia, serta biaya pemakaman.
Lu mengakui telah menerima dana tersebut, yang kemudian dia gunakan untuk membeli propertinya sendiri.
Namun, setelah Lu pulang dari Guangzhou dan merawat ibunya yang sudah lanjut usia selama hampir empat tahun, masalah muncul ketika Jin – yang telah tinggal di panti jompo selama lima bulan, dengan biaya sebesar 200.000 yuan yang dibayarkan Lu – berusaha pindah ke properti sewaan di daerah Shangzhuang, Beijing.
Lu diduga gagal membayar sewa untuk kuartal kedua dan ketiga properti di Shangzhuang, dengan alasan bahwa hal ini disebabkan oleh penolakan ibunya untuk mengembalikan biaya panti jompo yang digunakan sebagai sewa.
Menanggapi hal tersebut, Jin mengajukan gugatan hukum, meminta pengadilan untuk membatalkan perjanjian dan memerintahkan putrinya untuk mengembalikan 4,9 juta yuan.
Dia menuduh Lu tidak memenuhi kewajiban perawatan lansia, terutama karena tidak membayar sewa penuh, dan menyerahkan rekaman obrolan WeChat berisi percakapan sehari-hari mereka sebagai bukti bahwa Lu tidak memberikan dukungan yang memadai.
Dalam pembelaannya, Lu berargumen bahwa dia telah dengan tekun memenuhi tanggung jawabnya dengan menyediakan makanan dan pakaian untuk ibunya, membayar sewa flat sebelumnya di Shijingshan dari Juli 2021 hingga Juli 2023, menanggung biaya medis dan rumah sakit, dan bahkan mempekerjakan pengasuh.
Dalam persidangan pertama, pengadilan memutuskan untuk membatalkan perjanjian tersebut dan memerintahkan Lu untuk mengembalikan 4,9 juta yuan kepada ibunya, dengan alasan kegagalannya membayar sewa untuk kuartal kedua dan ketiga properti Shangzhuang.
Dalam persidangan kedua, Jin mengklarifikasi bahwa jumlah sebenarnya yang ditransfer adalah 4,8 juta yuan.
Baru-baru ini, Pengadilan Rakyat Menengah Pertama Beijing menguatkan putusan tersebut, memerintahkan Lu untuk mengembalikan 4,8 juta yuan kepada ibunya.
Kasus ini telah memicu diskusi hangat di media sosial Tiongkok, dengan opini publik yang terpecah belah.
Seorang komentator menyatakan: “Seorang anak perempuan seharusnya memiliki kewajiban untuk merawat ibunya. Jika hasilnya seperti ini, sang ibu mungkin sebaiknya menyewa pengasuh.”
Komentar lain membalas: “Bukankah kerugian finansial akibat pengunduran diri juga seharusnya diperhitungkan?”
Komentar ketiga menulis: “Menurut temuan pengadilan, sang ibu juga digambarkan sebagai orang yang sulit bergaul, karena jarang berhubungan dengan keluarganya.” (yn)


