EtIndonesia. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, pada Senin (18 Agustus) saat berpidato di Tokyo, menuduh Partai Komunis Tiongkok (PKT) memberikan dukungan penting kepada Rusia, sehingga memungkinkan Moskow melanjutkan perang terhadap Ukraina.
Dalam pidatonya di Sasakawa Peace Foundation Jepang, Wadephul mengatakan bahwa 80% peralatan berteknologi ganda (dual-use) yang digunakan Rusia berasal dari PKT. Pada saat yang sama, PKT juga menjadi pembeli terbesar minyak dan gas Rusia. Menurutnya, hal ini tidak hanya merugikan keamanan Eropa, tetapi juga mengancam keamanan mitra di kawasan Indo-Pasifik.
Sebelumnya, Trump pernah memperingatkan akan memberlakukan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang membeli energi dari Rusia. Ia juga menaikkan tarif 25% terhadap India karena pembelian minyak Rusia, serta menambahkan satu lagi tarif 25% akibat gesekan perdagangan. Namun sejauh ini ia belum mengambil langkah serupa terhadap PKT.
本日8月18日、当財団は駐日ドイツ大使館と共催で、ヨハン・ヴァーデフール ドイツ連邦共和国外務大臣を迎え、講演会「共通の自由、安全、豊かさを守る―地政学上の課題に直面する時代のドイツと日本」を開催しました。
— 笹川平和財団 Sasakawa Peace Foundation (@SPF_PR) August 18, 2025
On August 18, SPF and the Embassy of Germany in Japan welcomed H.E. Dr.… pic.twitter.com/c8OGG3u7jD
Wadephul menegaskan, Beijing di satu sisi sering menyerukan prinsip “non-intervensi” dan “menghormati integritas teritorial”, tetapi dalam kenyataannya justru melanggar prinsip-prinsip tersebut. Ia menambahkan bahwa pemerintahan baru Jerman akan tetap melanjutkan garis keras yang pernah ditempuh mantan Menlu Annalena Baerbock.
Ia juga menyinggung bahwa Korea Utara sedang menyalurkan amunisi dan pasukan ke Rusia. Para ahli menilai, hal ini sulit terjadi tanpa persetujuan Beijing. Wadephul memperingatkan, jika militer Rusia menggunakan peluru artileri Korea Utara di Ukraina, hal itu bukan hanya akan merusak tatanan keamanan Eropa, tetapi juga mengganggu keseimbangan kekuatan di Asia, karena besar kemungkinan Moskow akan membalas Pyongyang dengan teknologi dan keahlian militer.
Pada konferensi pers di hari yang sama, Wadephul juga menyatakan keprihatinannya terhadap situasi di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan. Ia menegaskan bahwa Beijing berulang kali mencoba secara terang-terangan maupun terselubung untuk mengubah status quo dan mendorong ekspansi perbatasan.
Ia menekankan bahwa prinsip larangan penggunaan kekuatan yang diatur dalam Piagam PBB juga berlaku di kawasan ini. Setiap eskalasi di jalur laut strategis tersebut akan membawa dampak serius bagi keamanan global dan perekonomian dunia. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


