Menanggapi Aksi Protes Warga, PM Israel: Tragedi Teror Tidak Boleh Terulang

Pada 18 Agustus, rakyat Israel menggelar aksi protes besar-besaran menuntut segera diakhirinya perang Gaza serta pembebasan semua sandera. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menanggapi dengan tegas bahwa demi mencegah terulangnya tragedi serangan teror 7 Oktober, Hamas harus dikalahkan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bersedia membatasi program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi.

EtIndonesia. Pada Senin, 18 Agustus 2025, serangan udara Israel ke Jalur Gaza masih berlanjut. Asap tebal terlihat membumbung di atas Khan Younis, Gaza selatan, diduga akibat ledakan.

Di hari yang sama, tank-tank Israel berkumpul di dekat perbatasan Gaza, menandakan persiapan untuk melancarkan serangan darat ke Kota Gaza.

Rencana Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza menuai penolakan luas di dalam maupun luar negeri. Pada Minggu, rakyat Israel melancarkan aksi protes terbesar sejak perang Israel–Hamas meletus, disertai aksi mogok nasional. Puluhan ribu orang turun ke jalan menuntut diakhirinya perang.

Seorang pengunjuk rasa, Shai Totani, mengatakan: “Saya berharap hari ini membawa perubahan dan tercapai suatu kesepakatan. Ya, saya hanya berharap perang ini segera berakhir, tidak ada lagi kematian dan penderitaan.”

Menanggapi aksi itu, Netanyahu menegaskan bahwa demi mencegah tragedi serangan teror 7 Oktober kembali terulang, Israel harus menghancurkan Hamas.

Perdana Menteri Netanyahu: “Hari ini, mereka yang menyerukan diakhirinya perang sebelum Hamas dikalahkan bukan saja memperkuat posisi Hamas dan menunda pembebasan sandera, tetapi juga memastikan tragedi 7 Oktober akan terus berulang, memaksa anak-anak kita berjuang tanpa henti berulang kali.”

Sementara itu, upaya mediasi gencatan senjata Gaza masih berlangsung. Pada Senin, Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, dalam konferensi pers menyatakan Menteri Luar Negeri Qatar telah tiba di Kairo untuk mendorong perundingan gencatan senjata yang terhenti.

Menurut laporan media Amerika Axios yang mengutip sumber internal, Hamas telah menerima usulan gencatan senjata baru yang diajukan Qatar dan Mesir dengan sedikit modifikasi dari proposal AS. Isi kesepakatan itu mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pembebasan 10 sandera hidup, pengembalian 18 jenazah sandera, serta pembebasan sejumlah tahanan Palestina oleh Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Kattz, pada Senin menanggapi bahwa kesediaan Hamas untuk berunding muncul karena mereka takut pada rencana Israel untuk menguasai Kota Gaza.

“Beberapa minggu terakhir Hamas menolak membahas kesepakatan pembebasan sandera, meski Turki dan Qatar sudah mencoba mendekati mereka. Namun tiba-tiba saja kesepakatan ini masuk agenda. Alasannya jelas, karena mereka kini takut kami benar-benar berniat menguasai Gaza,” katanya. 

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin menyatakan siap membatasi program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.

Juru Bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei: “Kami selalu menyatakan bahwa demi menegaskan sifat damai dari program nuklir kami, selama sanksi yang tidak adil dicabut, kami siap mengambil sejumlah langkah.”

Baghaei juga menambahkan bahwa Iran dalam beberapa hari ke depan akan melanjutkan kembali perundingan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine