Zelenskyy Ungkap Ide Gila: Tukar Wilayah Demi Perdamaian?”

EtIndonesia. Situasi geopolitik Rusia–Ukraina kembali mengalami dinamika baru setelah serangkaian pernyataan penting dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, serta langkah diplomatik Presiden Amerika, Serikat Donald Trump. Rangkaian perkembangan ini dinilai sebagai upaya nyata menuju pembentukan kerangka perdamaian, meski masih menyisakan banyak ketidakpastian.

Zelenskyy: Masalah Teritorial Hanya Diputuskan dengan Putin

Dalam konferensi tingkat tinggi pada 18 Agustus 2025, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa isu teritorial Ukraina hanya dapat diputuskan langsung antara dirinya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dia menekankan bahwa negosiasi harus berlangsung tanpa prasyarat agar tidak memberi peluang Rusia menambah tuntutan.

“Kita harus bertemu tanpa syarat dan memikirkan bagaimana menuju jalan akhir perang,” ujar Zelenskyy.

Lavrov: Rusia Tak Berniat Mencaplok Wilayah Ukraina

Sehari kemudian, 19 Agustus 2025, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyatakan bahwa Moskow tidak memiliki niat untuk mencaplok wilayah Ukraina.

Dia menegaskan operasi militer hanya dimaksudkan untuk melindungi warga etnis Rusia. Pernyataan ini dipandang sebagai langkah “turun tangga” Rusia—sebuah sinyal pelunakan nada diplomatik di tengah tekanan global.

Trump Atur Pertemuan Zelenskyy–Putin

Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News mengungkapkan bahwa dia sedang mengatur pertemuan bilateral antara Zelenskyy dan Putin.

Trump menegaskan bahwa dirinya baru akan bergabung dalam format trilateral jika pertemuan awal itu berjalan baik. Dia juga memberi isyarat bahwa Ukraina kemungkinan perlu melakukan konsesi teritorial demi membuka jalan perdamaian.

Menurut laporan Ukrainska Pravda, Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Putin sendiri yang mengusulkan format bilateral terlebih dahulu. Bahkan, Reuters menyebut Hungaria dipertimbangkan sebagai lokasi pertemuan karena negara itu tengah dalam proses keluar dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC), sehingga Putin tidak berisiko ditangkap.

Peta Wilayah Jadi Perdebatan

Dalam pertemuan di Gedung Putih, Zelenskyy dan Trump sempat berselisih pandangan mengenai peta wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia. Namun, Zelenskyy menyebut diskusi berjalan dengan baik dan substantif—bahkan “yang terbaik sejauh ini.”

Trump setelahnya menegaskan bahwa persiapan teknis pertemuan bilateral Ukraina–Rusia sudah dimulai.

Isu Pertukaran Wilayah dan Dukungan Barat

Laporan Wall Street Journal menyebut, untuk pertama kalinya Zelenskyy menyatakan terbuka pada ide pertukaran wilayah proporsional dengan Rusia, asalkan Ukraina mendapat jaminan keamanan penuh dari AS dan Eropa.  Skema tersebut juga dibarengi paket dukungan ekonomi dan militer senilai 90 miliar dolar, di mana Eropa akan mendanai Ukraina membeli persenjataan besar-besaran dari AS.

Menurut Presiden Finlandia, Alexander Stubb, rincian jaminan keamanan AS bagi Ukraina bisa selesai dalam sepekan. Menlu AS, Marco Rubio ditunjuk memimpin penyusunan dokumen tersebut, mencakup empat aspek:

  1. Kehadiran militer,
  2. Sistem pertahanan udara,
  3. Persenjataan,
  4. Pengawasan gencatan senjata.

AS sendiri akan memberi dukungan militer tidak langsung melalui pasukan penjaga perdamaian Eropa. Zelenskyy menyatakan detail paket ini akan diumumkan dalam 7–10 hari ke depan.

Bloomberg menambahkan bahwa AS dan Eropa sedang menyiapkan pasukan multinasional baru untuk memperkuat pertahanan Ukraina, tanpa batasan jumlah pasukan yang dapat diterjunkan.

Posisi Tiongkok Melemah

Di sisi lain, posisi Tiongkok dalam percaturan geopolitik kian melemah. South China Morning Post mengutip analis Universitas Tsinghua yang menilai, jika ketegangan Rusia–Barat mereda, AS dapat lebih leluasa memfokuskan kekuatan militernya ke Asia-Pasifik.

NATO bahkan menyebut Tiongkok sebagai pendorong utama perang Rusia–Ukraina, dengan Barat sudah menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan Tiongkok.

Menurut pengamat independen, absennya Beijing dalam pertemuan Trump–Putin di Alaska memperlihatkan bahwa Tiongkok telah kehilangan kursinya di meja perundingan.

Akademisi Taiwan Zheng Jinmo menambahkan, jika Rusia kembali merapat ke Barat, ketergantungan Moskow terhadap Beijing akan berkurang drastis, merugikan Tiongkok yang selama ini menikmati pasokan energi murah dari Rusia.

Sinyal Perubahan Arah

Secara keseluruhan, pernyataan Zelenskyy, Lavrov, dan Trump memperlihatkan bahwa pintu diplomasi mulai terbuka setelah sekian lama perang berkutat pada pertempuran di garis depan.

Namun, meski ada sinyal positif, potensi kompromi—khususnya soal isu teritorial—masih menjadi tantangan besar yang bisa memicu pro dan kontra, baik di dalam negeri Ukraina maupun di panggung internasional.

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine