Musim panas tahun ini, wilayah barat laut Spanyol dilanda suhu panas ekstrem dan kebakaran hutan terburuk dalam beberapa dekade. Dalam satu hari terakhir saja, api telah melahap lebih dari 38.000 hektare hutan. Namun, dengan suhu yang mulai menurun dan kelembaban meningkat, ada harapan situasi akan sedikit membaik. Warga setempat bersama petugas pemadam kebakaran bahu-membahu melawan api, sementara sejumlah negara Eropa mengirimkan bantuan.
EtIndonesia. Kebakaran paling parah terjadi di wilayah utara dan barat Spanyol. Pada Selasa (19/8/2025), kebakaran hutan terus meluas di Provinsi Ourense, Galicia. Unit darurat militer bersama petugas pemadam berusaha keras memadamkan api.
Api telah membakar beberapa kota kecil berpenduduk jarang di Galicia. Banyak warga berusaha menyelamatkan diri bahkan sebelum petugas tiba.
Di kota kecil San Millao, Ourense, api sudah mendekati permukiman. Warga setempat menggunakan peralatan pribadi untuk membantu pemadam kebakaran.
Seorang warga berkata: “Sulit melihat dengan jelas, anginnya terlalu kencang, dan angin justru memperbesar api. Tadi saya mencoba menghentikan api di tepi sungai, berharap bisa menahannya.”
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan lebih dari 20 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke kota Jarilla, Extremadura—dekat perbatasan Portugal—untuk membantu memadamkan api.
Pemerintah juga mengumumkan bahwa pada Selasa, tim pemadam kebakaran Jerman tiba di Spanyol utara untuk ikut membantu.
Selain itu, Prancis, Italia, dan Finlandia mengirimkan pasukan khusus serta pesawat pemadam, sementara Belanda, Ceko, dan Slovakia menyediakan helikopter pemadam kebakaran.
Pada Selasa, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez meninjau pusat komando kebakaran di Provinsi Cáceres. Ia menyatakan pemerintah akan mengatasi krisis iklim lewat kebijakan nyata.
Sánchez juga mengumumkan bahwa pada 26 Agustus, wilayah yang terdampak kebakaran akan ditetapkan dalam status darurat perlindungan sipil.
“Ini berarti pemerintah Spanyol berkomitmen bahwa setelah kebakaran berhasil dipadamkan, kami akan mengevaluasi dampak ekonomi bagi setiap keluarga terdampak, dan segera memulai proses rekonstruksi,” katanya.
Menurut data yang dirilis European Forest Fire Information System (EFFIS) pada Selasa, kebakaran hutan di Spanyol dalam 24 jam terakhir telah menghancurkan 38.000 hektare vegetasi—hampir setara dengan total kerusakan sepanjang tahun lalu.
Pada hari yang sama, Garda Sipil Spanyol mengumumkan telah menahan 23 orang karena dugaan pembakaran, serta sedang menyelidiki 89 orang lainnya.
Badan Meteorologi Nasional Spanyol memperkirakan suhu mulai menurun sejak Selasa, kelembaban meningkat, dan gelombang panas selama dua minggu terakhir telah berakhir. Hal ini membawa harapan untuk mengendalikan kebakaran secara penuh.
Namun, meski suhu nasional menurun, sebagian wilayah—terutama Galicia di barat laut—masih menghadapi risiko kebakaran yang sangat tinggi hingga ekstrem.
Sumber : NTDTV.com


