EtIndonesia. Orang yang egois ada di mana-mana. Mereka hanya melakukan hal yang menguntungkan diri sendiri, tanpa sedikit pun peduli pada perasaan orang lain. Bertemu satu orang yang egois saja sudah merepotkan, apalagi bila berhadapan dengan sekelompok orang yang bukan hanya egois, tetapi juga tidak punya kesadaran sosial—itu adalah bencana.
Egois dalam Hal Sepele: Sampah dan Sisa Makanan
Ambil contoh sederhana: membuang sisa makanan. Sudah rahasia umum bahwa kecuali tersedia mesin penghancur khusus, sisa makanan seharusnya dibuang ke tempat sampah, bukan ke dalam wastafel. Namun, selalu ada orang yang demi “praktis” langsung menuangkan sisa makanan ke bak cuci piring. Bagi mereka, yang penting tidak kelihatan, urusan selesai.
Padahal akibatnya jelas: saluran air tersumbat. Jika sudah dipasang saringan, mereka malah makin semena-mena. Karena dalam pikiran mereka: “Toh saringan yang menahan, nanti pasti ada orang yang membersihkan.”
Mengapa mereka berani begitu? Karena tempat itu bukan rumah mereka. Kalau di rumah, membiarkan sisa makanan menumpuk jelas akan menimbulkan bau, mengundang bakteri, jamur, bahkan serangga. Mau tidak mau, mereka pasti membersihkannya. Tetapi di pantry kantor, yang merupakan ruang bersama, mereka dengan enteng berpikir: “Kalau ada yang tidak tahan, biar orang lain yang bereskan.”
Inilah bentuk nyata egoisme: sampah yang mereka buat, malah ditinggalkan untuk orang lain.
Perilaku yang Menular
Yang lebih parah, sifat seperti ini mudah menular. Saat sisa makanan terus menumpuk, coba pikirkan: mana yang lebih banyak, orang yang rela membersihkan atau orang yang ikut-ikutan cuek?
Fenomena ini persis seperti “teori jendela pecah” (broken windows theory). Begitu ada satu jendela pecah yang dibiarkan, akan muncul lebih banyak jendela pecah lain, hingga akhirnya memicu tindakan pelanggaran yang lebih besar. Sebuah lingkungan pun perlahan rusak karena ketidakpedulian kecil yang diabaikan.
Dari Kebiasaan Kecil ke Dunia Kerja
Orang yang terbiasa meninggalkan sisa makanan untuk dibersihkan orang lain, biasanya juga akan melakukan hal serupa dalam pekerjaan: meninggalkan masalah, beban, dan “sampah kerja” untuk timnya.
Ini bukan soal kemampuan, melainkan soal kebiasaan. Jika atasan tidak menegur atau memperbaiki, perlahan seluruh tim akan terseret dalam pola buruk yang sama—hingga akhirnya kinerja runtuh tanpa disadari. (jhn/yn)


