Ilmuwan Secara Tidak Sengaja Menemukan Alternatif LASIK Tanpa Laser

Penemuan kebetulan ini bisa mengubah cara jutaan orang memperbaiki penglihatan mereka.

oleh George Citroner

Seorang profesor kimia yang sedang mencoba memanaskan tulang rawan dengan listrik membuat kesalahan yang berpotensi mengubah dunia bedah mata. Michael Hill dari Occidental College secara tidak sengaja menggunakan arus listrik yang terlalu kecil dalam eksperimennya—dan justru menemukan cara yang mungkin menggantikan LASIK dengan perawatan yang lebih lembut dan membentuk ulang kornea tanpa perlu memotong mata.

Penemuan ini bisa memberi harapan bagi jutaan orang dengan penglihatan buruk yang ingin alternatif selain kacamata dan lensa kontak, tetapi khawatir dengan risiko LASIK. Walaupun operasi mata dengan laser umumnya berhasil, prosedur ini melibatkan sayatan pada mata dan dapat menyebabkan komplikasi seperti mata kering, gangguan penglihatan. Bahkan, dalam kasus langka memberikan efek samping yang parah.

Penemuan dari Sebuah Kesalahan

Terobosan ini sepenuhnya terjadi secara kebetulan ketika Hill dan rekannya, Dr. Brian Wong, profesor otorhinolaryngology–bedah kepala dan leher di University of California–Irvine, frustrasi dengan upaya mereka membentuk ulang tulang rawan menggunakan laser.

Hill mengatakan mereka kemudian mencoba memanaskan bahan itu dengan arus listrik, tetapi tidak sengaja menggunakan arus yang jauh lebih kecil dari yang mereka maksudkan. Mereka mengira akan melihat tulang rawan mendidih dan bergetar. Namun, ketika Wong menyentuhnya, tulang rawan itu tidak panas—menandakan ada efek lain yang bekerja.

Kolaborasi Hill, seorang ahli kimia fisik, dan Wong, seorang dokter, memungkinkan mereka menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Arus listrik kecil mengubah pH tulang rawan, melonggarkan ikatan molekul, dan membuat jaringan lebih lentur.

“Dan ternyata, ini adalah elektrokimia,” kata Wong. “Itu hidrogen dan oksigen yang terbentuk, jadi penemuan ini sepenuhnya kebetulan pada tulang rawan—100 persen tidak disengaja.”

Alternatif untuk Mengiris Mata dengan Laser

Tim Hill mengembangkan teknik yang disebut electromechanical reshaping (EMR) yang menggunakan arus listrik kecil untuk membuat kornea—bagian depan mata berbentuk kubah yang bening—lebih lentur, lalu membentuknya ke bentuk yang benar.

Arus listrik membuat jaringan kornea lebih mudah dibentuk, layaknya tanah liat. Setelah arus dihentikan, jaringan akan mengunci pada bentuk barunya.

Dalam uji coba pada mata kelinci, proses ini memakan waktu sekitar satu menit—mirip kecepatan LASIK, tetapi tanpa sayatan, peralatan laser mahal, atau pengangkatan jaringan.

Kornea berfungsi memfokuskan cahaya ke retina. Jika bentuknya tidak tepat, penglihatan menjadi buram. Operasi LASIK memperbaikinya dengan membakar sedikit jaringan kornea menggunakan laser, tetapi prosedur ini invasif dan berisiko.

“LASIK hanyalah cara canggih untuk melakukan operasi tradisional. Itu tetap mengiris jaringan—hanya saja dengan laser,” kata Hill dalam siaran pers. Ia akan mempresentasikan temuannya pada pertemuan American Chemical Society di Agustus.

Tim tersebut mengulangi prosedur pada 12 bola mata kelinci, 10 di antaranya dibuat seolah-olah menderita rabun jauh. Dalam semua kasus, pengobatan menyesuaikan daya fokus mata, menunjukkan potensi untuk koreksi penglihatan. Sel dalam bola mata tetap hidup karena para peneliti mengendalikan tingkat keasaman jaringan dengan hati-hati.

Mereka juga membuktikan bahwa teknik ini mungkin bisa membalikkan sebagian kekeruhan kornea akibat kerusakan kimia, yang saat ini hanya bisa diatasi dengan transplantasi kornea.

Hill dan Wong kini sedang menyelidiki apakah kornea bisa dibentuk ulang tanpa sayatan, menggunakan EMR.

Dr. James R. Kelly, seorang dokter mata di Kelly Vision sekaligus direktur Pendidikan Bedah Refraktif di Northwell Health, New York, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa EMR “secara teori” dapat secara signifikan mengurangi risiko komplikasi tertentu dengan menghindari sayatan atau ablasi.

“Tidak ada flap yang bisa bergeser, tidak ada jaringan yang dihilangkan dengan laser, dan lebih sedikit gangguan pada saraf kornea,” katanya. Ini bisa berarti lebih sedikit gejala mata kering setelah operasi. “Selain itu, jika EMR terbukti dapat dibalik, itu akan menjadi keuntungan besar dari sisi keamanan dibanding teknik berbasis laser saat ini,” tambahnya.

Lebih Aman dan Lebih Mudah Diakses

Hill menekankan bahwa tujuan timnya adalah menemukan teknik yang lebih aman dan mudah diakses daripada perawatan berbasis laser saat ini.

Namun, EMR sementara mengubah pH jaringan, dan ada “potensi risiko” yang hanya bisa dipastikan melalui uji coba langsung, katanya.

“Kami memiliki data dari spesimen ex vivo yang menunjukkan teknik elektrokimia tidak menyebabkan perubahan mendadak pada struktur kolagen dasar kornea, maupun segera memicu kematian sel, tetapi data ini masih sangat, sangat terbatas,” kata Hill.

Kelly mengatakan kekhawatiran terbesarnya adalah apakah perubahan bentuk kornea ini bisa bertahan lama dan tetap seragam.

Ia mencatat bahwa kornea adalah “jaringan yang aktif secara biologis” dan struktur kolagen serta kadar airnya bisa berubah akibat penyembuhan, penuaan, atau peradangan. Tanpa data jangka panjang in vivo, “kita tidak tahu apakah efek refraksi akan mundur, berubah tak terduga, atau memengaruhi kejernihan kornea.”

Kelly menambahkan bahwa “daya tahan, stabilitas, dan kualitas optik” selama bertahun-tahun akan menjadi ujian utama bagi EMR sebelum bisa dianggap sebagai alternatif yang layak untuk LASIK, dan ia memperkirakan butuh waktu 20 tahun atau lebih sebelum teknik ini tersedia secara komersial—jika memang bisa.

Walaupun ada kendala pendanaan yang sempat menghentikan kemajuan, Hill tetap optimis, menekankan bahwa masih ada “jalan panjang” dari pencapaian saat ini menuju penggunaan klinis.

“Langkah kami selanjutnya pasti adalah melakukan studi pada hewan hidup.”

George Citroner melaporkan tentang kesehatan dan kedokteran, mencakup topik seperti kanker, penyakit menular, dan kondisi neurodegeneratif. Ia menerima penghargaan Media Orthopaedic Reporting Excellence (MORE) pada tahun 2020 untuk laporannya tentang risiko osteoporosis pada pria.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine