Tidak Ada Orang yang Suka Disalahkan

EtIndonesia. Ketika orangtua menegur atau memarahi anak, seberapa masuk akal pun alasannya, jika si anak tidak bisa benar-benar memahaminya, maka semua teguran itu akan terasa sia-sia.

Anak tidak akan mengingat isi teguran, melainkan hanya suara keras, wajah marah, dan nada penuh emosi dari orangtuanya. Di dalam hati, dia mungkin membantah ribuan kali setiap kalimat yang dilontarkan kepadanya, bahkan bisa saja melawan dengan kata-kata yang keras.

Mendengar anak membantah, orangtua biasanya tambah marah, suara makin meninggi, dan semakin keras memarahi—namun semakin keras dimarahi, anak justru semakin menutup telinga. Akhirnya tercipta lingkaran setan yang melelahkan kedua belah pihak.

Padahal tujuan orangtua sederhana: ingin memperbaiki kesalahan anak. Tapi cara yang salah hanya akan membuat hasilnya berbalik arah.

Mengapa Teguran Sering Gagal?

Terutama pada masa remaja, anak secara alami memiliki sikap menentang. Mereka cenderung menolak dulu sebelum mempertimbangkan isi perkataan, entah itu hal baik maupun buruk. Ucapan orangtua, meskipun penuh nasihat, sering kali terdengar tidak tepat, bahkan mengganggu. Yang seharusnya menjadi wejangan penuh kasih, justru dianggap membosankan atau menyebalkan.

Apakah Teguran Satu-satunya Jalan?

Sebelum marah, ada baiknya orangtua bertanya pada diri sendiri: Apakah menegur adalah satu-satunya cara? Anak memang salah, tetapi apakah tidak ada cara lain yang lebih efektif untuk membuat mereka berubah?

Setiap anak punya karakter yang berbeda. Tidak ada pola pengasuhan yang berlaku universal. Namun, ada dua hal yang pasti dibutuhkan: kesabaran dan kasih sayang. Orangtua perlu menanggalkan sikap “merasa lebih tinggi” dan mencoba berdiri sejajar dengan anak.

Nasihat tetap perlu disampaikan, tapi jangan terburu-buru. Biarkan pesan itu mengalir pelan melalui percakapan sehari-hari. Jika terlalu keras dan langsung, anak akan sulit mencerna. Butuh kebijaksanaan dalam cara menyampaikan.

Jaga Perasaan Anak

Kesalahan tentu harus diberitahukan, tapi hindari menegur di depan umum. Anak usia remaja lebih menjaga harga diri dibanding orang dewasa. Membicarakan kesalahan secara pribadi akan jauh lebih efektif.

Sebenarnya, anak tahu bahwa dirinya sudah melampaui batas orangtua. Namun, saat dimarahi, rasa bersalah yang ada bisa berubah menjadi perlawanan. Jika orangtua tidak hati-hati, ucapan yang keluar justru bisa meretakkan hubungan.

Ganti Teguran dengan Dorongan

Lebih baik mengganti teguran dengan dorongan positif. Selalu hormati perasaan anak. Tunjukkan perhatian dengan tepat, tanpa berlebihan. Bangun kepercayaan dan dukungan agar mereka memiliki rasa percaya diri.

Ketika anak benar-benar merasakan kasih yang tulus, ia akan tumbuh dengan lebih kuat dan bahagia. Anak tumbuh begitu cepat—maka jangan menunggu lama. Mulailah perubahan dari sekarang. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine