EtIndonesia. Pernahkah kamu bertanya: kita ini sebenarnya hidup di dunia seperti apa? Bayangkan kamu sedang berada di sebuah pesawat luar angkasa, lalu terjadi keadaan darurat sehingga harus mendarat darurat di sebuah planet terdekat.
· Planet A: Penumpang langsung saling menoleh, menanyakan apakah ada yang butuh bantuan. Bahkan terhadap orang asing sekalipun, mereka rela mengorbankan diri demi menolong.
· Planet B: Begitu mendarat, kepanikan massal terjadi. Semua hanya mementingkan diri sendiri. Dorong-mendorong, injak-injakan, hingga orang tua, anak-anak, dan yang lemah tewas terhimpit.
Sekarang pertanyaannya: menurutmu kita hidup di Planet A atau Planet B?
Menariknya, hampir semua orang — entah itu kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, kiri atau kanan — akan menjawab: kita hidup di Planet B.
Namun, menurut sejarawan Belanda Rutger Bregman dalam bukunya Humankind, sebenarnya Bumi kita lebih mirip Planet A. Dunia ini tidak seburuk yang kita kira, karena pada dasarnya manusia cenderung baik.
Mengapa Kita Merasa Dunia Itu Buruk?
Kalau ditanya, hampir semua orang yakin dirinya adalah orang baik. Tapi ketika gambaran diperbesar ke level masyarakat atau dunia, yang muncul justru kesan bahwa kita hidup di dunia penuh kekerasan dan egoisme: bencana, perang, penipuan, perampokan, hingga berita “murid pukul guru”.
Kenapa bisa begitu?
Karena sejak zaman purba, otak manusia berevolusi untuk lebih peka terhadap hal-hal negatif. Pikiran kita selalu waspada pada kabar buruk demi bertahan hidup. Akibatnya, bahkan jika kita hidup di “surga”, kita tetap merasa seperti berada di “neraka”.
Apakah Manusia Memang Jahat?
Selama ini ada mitos: manusia terlahir egois, agresif, dan mudah panik. Benarkah demikian?
Bregman memberikan contoh:
· Tragedi Titanic. Dalam film, penumpang digambarkan panik, berebut sekoci. Tapi catatan sejarah justru menyebutkan sebaliknya: evakuasi berlangsung teratur, tanpa kepanikan histeris.
· Tragedi 9/11. Saat gedung WTC terbakar, orang-orang tetap berjalan tertib menuruni tangga, memberi jalan pada petugas dan korban luka. Bahkan ada yang berkata: “Tidak, kamu duluan. Silakan jalan dulu.”
Jadi, apakah manusia benar-benar seburuk itu?
Kisah “Lord of the Flies” dan Fakta Sesungguhnya
Kamu mungkin pernah mendengar novel klasik Lord of the Flies karya William Golding (1954). Ceritanya: sekelompok anak laki-laki terdampar di pulau, awalnya bekerja sama, tapi akhirnya terpecah dan berubah brutal, menunjukkan bahwa “hati manusia penuh kegelapan.”
Novel ini sukses besar, diterjemahkan ke puluhan bahasa, dianggap cerminan “manusia pada dasarnya jahat.”
Tapi faktanya, kisah itu fiksi belaka.
Lalu, apakah pernah ada “versi nyata” dari Lord of the Flies?
Ternyata ada!
Tahun 1977, enam anak laki-laki asal Tonga nekat mencuri perahu untuk berpetualang. Mereka terseret badai dan terdampar di pulau tak berpenghuni selama lebih dari setahun.
Yang mengejutkan, kisah nyata ini justru berkebalikan dari novel Golding. Anak-anak itu:
· Membuat kebun sayur.
· Menyimpan air hujan.
· Membangun dapur, tempat olahraga, bahkan lapangan bulu tangkis.
· Menjaga api tetap menyala selama setahun penuh dengan bergiliran.
· Menyusun jadwal kerja: berkebun, memasak, patroli.
· Jika ada yang bertengkar, mereka sepakat berpisah dulu, menenangkan diri, lalu kembali untuk saling meminta maaf.
Setiap hari dimulai dan diakhiri dengan bernyanyi dan berdoa bersama.
Bregman menyebut: inilah bukti nyata bahwa manusia pada dasarnya cenderung bekerja sama, bukan saling menghancurkan.
“Manusia Anak Anjing” – Rahasia Evolusi Kita
Kenapa manusia cenderung memilih kerja sama daripada kekerasan?
Jawabannya: “self-domestication” (penjinakan diri).
Seperti hewan yang dijinakkan menjadi lebih ramah, manusia juga “menjinakkan” dirinya sendiri.
Eksperimen paling terkenal dilakukan pada tahun 1959 oleh ilmuwan Rusia Dmitry Belyaev, yang mencoba menjinakkan rubah liar. Hanya dengan memilih rubah yang paling jinak untuk berkembang biak, dalam beberapa generasi muncul rubah yang ekornya melengkung, telinga terkulai, bahkan bisa menggonggong dan mengibaskan ekor seperti anjing.
Begitu pula dengan manusia: kita makin lama makin lembut, wajah dan tubuh jadi lebih “imut” dan “ramah.” Fenomena ini disebut “manusia anak anjing” (Homo puppy).
Hasilnya?
· Kita menjadi makhluk sosial superkuat.
· Kita unggul bukan karena lebih cerdas individu, tapi karena pandai belajar dan meniru dalam kelompok.
· Dibanding Neanderthal yang mungkin lebih pintar perorangan, Homo sapiens menang karena lebih bisa bekerja sama dan berbagi pengetahuan.
Sejarah membuktikan: yang paling ramah dan mau bekerja sama lah yang bertahan hidup.
Penjara Resort di Norwegia
Bregman juga mengutip contoh Penjara Halden di Norwegia. Tidak ada jeruji, tidak ada sipir bersenjata. Tiap napi punya kamar dengan TV, kamar mandi, bahkan dapur. Ada perpustakaan, studio musik, hingga dinding panjat tebing.
Sekilas seperti liburan, tapi inilah kuncinya:
· Mantan napi di Norwegia hanya 20% yang kembali ke penjara.
· Bandingkan dengan Amerika: 60% kembali dalam 2 tahun.
Kenapa bisa begitu?
Karena napi diperlakukan sebagai manusia. Mereka “dijinakkan kembali” ke dalam masyarakat melalui pendidikan, komunikasi, dan rasa saling percaya.
Pesannya sederhana: Perlakukan orang seperti manusia, mereka akan bertindak manusiawi.
Dua Serigala di Dalam Diri Kita
Bregman menutup bagian ini dengan sebuah perumpamaan:
Seorang kakek berkata kepada cucunya: “Di dalam diriku ada dua ekor serigala yang terus bertarung.
· Serigala jahat: penuh amarah, keserakahan, dan iri hati.
· Serigala baik: penuh kasih, rendah hati, jujur, dan damai.”
Cucu bertanya: “Kakek, serigala mana yang akan menang?”
Kakek tersenyum, berkata: “Yang menang adalah serigala yang kamu beri makan.”
Artinya: jika kita percaya manusia itu baik, kita akan lebih mudah melihat harapan. Sebaliknya, jika kita hanya melihat sisi gelap, yang muncul hanyalah keputusasaan. Bersambung. (yn)


