Anak Memasuki Fase Suka Berbohong, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

EtIndonesia. Sebagian besar anak usia 3–5 tahun masih berada dalam tarik-menarik antara kenyataan dan imajinasi. Terkadang, mereka menggunakan “kebohongan kecil” untuk menguji batas-batas itu. Bahkan, ada kalanya mereka menyusun kebohongan menjadi cerita fantasi.

Contoh: seorang anak berkata: “Aku melihat raksasa menulis di langit dengan awan.”

Untuk kebohongan semacam ini yang sifatnya tidak berbahaya, sikap terbaik orangtua adalah ikut bermain peran. Mengapa? Karena hal itu tidak hanya melindungi daya imajinasi anak, tetapi juga menumbuhkan kreativitasnya. Di balik itu, secara perlahan kita juga bisa menanamkan nilai pentingnya kejujuran.

Mengapa Anak Berbohong?

Selain karena imajinasi, ada beberapa alasan lain anak memilih berbohong:

1. Harapan sepihak.
“Andai saja aku tidak menjatuhkan vas bunga.” Pikiran seperti ini bisa berubah menjadi kalimat: “Bukan aku yang melakukannya.”

2. Kurang paham.
Saat tidak mengerti sesuatu, anak lebih memilih menjawab dengan “asal tebak” atau bahkan berbohong, ketimbang mengakui bahwa dia tidak paham.

3. Mencari perhatian.
Jika anak sadar kebohongan bisa membuat orangtua lebih memperhatikannya, dia mungkin akan mengulanginya lagi untuk menarik perhatian.

4. Ingin merasa penting.
Ada kalanya anak berbohong demi menjaga harga diri, agar terlihat lebih dewasa atau lebih pintar.

5. Lupa.
Kadang mereka benar-benar tidak ingat. Misalnya, mereka mengira sudah menghabiskan makanan, padahal baru makan beberapa suap.

6. Menghindari hukuman.
Alasan klasik. Anak sering berpikir berbohong lebih aman daripada menghadapi kemarahan atau kekecewaan orangtua.

Bagaimana Orangtua Menyikapinya?

1. Jangan terus-menerus mengejar pengakuan.
Misalnya, ketika sudah jelas anak yang melakukannya, hindari terus menekan dengan pertanyaan: “Kamu yang lakukan, kan?”

      Lebih baik tunjukkan cara memperbaiki kesalahan. Contoh: “Yuk, kita ambil lap untuk mengeringkan lantai kamar mandi.”

2. Tunjukkan empati, bukan kritik.
Saat anak mencoba menyalahkan orang lain (bahkan boneka atau mainannya), pahami bahwa dia hanya ingin lepas dari rasa bersalah. Alih-alih menghakimi, cobalah berkata:

“Mungkin kamu takut Ibu marah. Tapi Ibu lebih suka kalau kamu bisa jujur cerita apa yang terjadi.”

3. Gunakan bahasa positif.
Bedakan antara “Anak yang suka bohong itu nakal” dengan “Jujur itu penting.”
Bahasa positif mengajarkan nilai tanpa membuat anak merasa dilabeli buruk.

4. Bangun komunikasi terbuka.
Pastikan anak merasa aman bercerita, bahkan saat ia melakukan kesalahan. Hubungan yang dilandasi kepercayaan akan membuat anak lebih berani terbuka.

5. Puji kejujuran.
Jika anak mengakui kesalahan, misalnya merusak barang, hargai kejujurannya:

“Kamu memang salah menyentuh DVD itu, tapi Ibu senang sekali kamu berani berkata jujur.”

Penting juga menjelaskan bahwa jujur bukan berarti kesalahan diabaikan, melainkan tetap ada konsekuensi.

6. Ajak memperbaiki kesalahan.
Jika memungkinkan, libatkan anak dalam memperbaiki masalah. Contoh: ketika menumpahkan air, ajak ia membersihkan. Anak akan belajar bahwa kesalahan bisa diperbaiki tanpa perlu berbohong.

7. Kontrol emosi, jangan cepat marah.
Sulit memang, tapi penting. Ingat, salah satu alasan anak berbohong adalah karena takut melihat orangtua marah. Jika anak tahu kejujuran tidak selalu dibalas dengan kemarahan, ia akan lebih berani berkata jujur di kemudian hari.

Kesimpulan

Berbohong pada anak kecil tidak selalu berarti keburukan. Kadang itu bagian dari proses belajar, imajinasi, atau upaya mencari perhatian.

Tugas orangtua bukan hanya menegur, tetapi menciptakan ruang aman bagi anak untuk berani jujur, sekaligus mengajarkan bahwa setiap kesalahan bisa diperbaiki dengan tanggung jawab—bukan dengan kebohongan. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine