EtIndonesia. Nilai dan prinsip hidup tidak datang tiba-tiba saat dewasa, melainkan dibentuk sejak kecil. Kalau terlambat diajarkan, orangtua hanya akan menuai penyesalan di kemudian hari.
Kasus kekerasan di sekolah yang kerap terjadi bukanlah karena anak-anak itu sejak lahir sudah jahat. Kita tahu pepatah “manusia pada dasarnya baik”. Tidak ada anak yang benar-benar terlahir sebagai “anak nakal”. Yang ada adalah pola asuh salah kaprah yang melahirkan perilaku buruk.
Ketika seorang anak menunjukkan perilaku yang tidak benar, namun orangtua menoleransinya dengan alasan “masih kecil, belum mengerti”, bahkan menertawakan ulahnya, di situlah masalah bermula. Jika dibiarkan, anak akan menganggap perilakunya benar, dan kelak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kasar, bahkan pelaku perundungan.
Pendidikan Moral Harus Dimulai Sejak Dini
Kebiasaan buruk yang terbentuk sejak kecil sangat sulit dihilangkan ketika dewasa, bahkan bisa memengaruhi seluruh aspek kehidupan anak di masa depan.
Lalu, kebiasaan buruk apa saja yang tidak boleh ditoleransi?
1. Suka Mengambil Barang yang Bukan Miliknya
Bayangkan suatu hari kamu melihat anakmu membawa mainan yang belum pernah kamu belikan. Saat ditanya, dia menjawab: “Aku menemukannya di rumah teman.”
Inilah kebiasaan “mengambil barang seenaknya” yang harus segera dihentikan. Orangtua wajib mengajarkan anak untuk jujur, berani mengakui kesalahan, dan segera mengembalikan barang tersebut. Anak perlu tahu bahwa mengambil milik orang lain adalah perilaku salah.
2. Tidak Mendapatkan Sesuatu → Langsung Bertindak Agresif
Jika anakmu berkelahi hanya karena ingin memainkan mainan temannya, maka orangtua harus menegur dengan tegas. Anak harus paham bahwa berkelahi tidak menyelesaikan masalah, justru melukai diri sendiri dan orang lain.
Ajarkan bahwa rasa ingin memiliki bukan alasan untuk menyakiti.
3. Tidak Mau Tidur Sesuai Waktu
Misalnya kamu menetapkan jam tidur maksimal pukul 10 malam, tapi anak tetap bermain di tempat tidur dengan mainannya.
Orangtua perlu konsisten menegakkan aturan. Jika melanggar, harus ada konsekuensi—misalnya mainan favorit disimpan, atau makanan kesukaan tidak diberikan esok hari. Anak harus belajar bahwa setiap aturan ada alasan dan konsekuensinya.
4. Barang-Barang Berserakan
Saat pulang ke rumah, mainan berserakan di mana-mana. Apakah orangtua harus memungutinya sendiri, atau marah-marah? Tidak keduanya.
Cara terbaik: minta anak membereskan sendiri. Tegaskan bahwa merapikan mainan adalah tanggung jawabnya, dan berikan apresiasi setelah ia melakukannya. Dengan begitu, anak belajar disiplin sekaligus merasa dihargai.
5. Suka Berbohong
Anak berbohong bukan hal asing. Biasanya, alasannya adalah ingin melindungi diri dari hukuman.
Di sinilah peran orangtua penting: ajarkan bahwa mengakui kesalahan akan mendapat pengampunan, tapi berbohong akan membawa konsekuensi. Anak harus belajar bahwa kejujuran lebih mulia, dan hanya orang yang berani mengakui kesalahanlah yang bisa tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab.
Jangan Biarkan Kebiasaan Buruk Menghancurkan Masa Depan
Kebiasaan buruk yang dibiarkan sejak kecil akan membentuk karakter buruk hingga dewasa. Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang suka menyalahkan, tidak bertanggung jawab, bahkan menyakiti orang lain.
Karena itu, orangtua harus tegas sejak awal. Mendidik bukan berarti mengekang, tapi mengarahkan anak agar tidak salah langkah.
Ingatlah: membiarkan kesalahan kecil bisa berujung pada penyesalan besar di masa depan.(jhn/yn)


