EtIndonesia. Dalam hidup, kita sering mendengar orang berkata: “Aku hanya berpegang pada prinsip.”
Tapi pertanyaannya: yang kamu pegang itu benar-benar prinsip, atau cuma prasangka pribadi?
· Jika kamu bersikeras bahwa hanya pendapatmu yang benar, menolak nasihat, tidak mau berubah demi orang lain, dan hanya memikirkan diri sendiri—itu bukan prinsip. Itu hanyalah bentuk ego dan keakuan.
Apa itu prinsip sejati?
Prinsip adalah sesuatu yang bisa diterima orang banyak—bukan hanya sekarang, tapi juga di masa lalu dan masa depan.
· Prinsip dalam hidup: melindungi diri, tapi tanpa menyakiti orang lain. Menghormati orang lain sambil tetap menjaga kepentingan diri sendiri. Prinsip semacam ini saling menguntungkan.
· Prinsip dalam bekerja: harus mempertimbangkan kepentingan mayoritas. Jika yang dipegang hanya menguntungkan segelintir orang, atau demi kenyamanan sesaat, maka itu bukan prinsip, melainkan prasangka.
Bagaimana membedakan prinsip dan prasangka?
Cukup lihat bagaimana orang lain merasakan sikapmu.
· Jika semua orang merasa sikapmu menyakitkan, mengganggu, atau salah, kemungkinan besar itu hanya prasangka pribadimu.
· Tapi kalau sikapmu bisa diterima oleh banyak orang, bahkan bermanfaat bagi mereka, itulah prinsip.
“Dalam Hati Tegas, di Luar Lembut”
Prinsip sejati tidak kaku. Dia bisa berubah sesuai waktu dan keadaan, tapi satu hal yang tidak berubah: harus selalu berpihak pada kepentingan banyak orang.
Orang yang terjebak pada prasangka biasanya penuh dengan “duri” seperti landak. Ego yang terlalu kuat membuat mereka sulit berbaur, mudah melukai, dan sulit diajak bekerja sama.
Karena itu ada pepatah: “Dalam hati tegak lurus, di luar lembut dan bulat.”
· Dalam hati tegak lurus berarti berpegang pada prinsip.
· Di luar lembut dan bulat berarti tahu cara bersikap luwes, tidak melukai orang lain.
Kadang kita perlu sedikit berbelok, berganti sudut pandang, atau menggunakan empati agar tetap mudah diterima.
Dengan terus mengingat prinsip “dalam hati tegak lurus, di luar lembut dan bulat”, kita bisa meluruhkan ego. Bahkan lebih jauh lagi, bila kita bisa menanggalkan keakuan, tidak selalu berpusat pada diri sendiri, maka kita bisa lebih mudah melepaskan beban, lebih bisa menerima orang lain, dan terbebas dari prasangka serta penderitaan.(jhn/yn)


