Misi Damai atau Spionase? Tiongkok Ingin Masuk Ukraina, Rusia Balik Rampas Aset

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) bersikeras ingin mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina, meski Presiden Volodymyr Zelenskyy secara tegas menolak gagasan tersebut. Situasi semakin kompleks ketika Rusia tiba-tiba menyita 26 pesawat milik perusahaan Tiongkok, menambah kerumitan hubungan trilateral antara Beijing, Moskow, dan Kyiv.

Rencana Tiongkok Ikut Campur di Ukraina

Menurut laporan Welt am Sonntag (23 Agustus), sumber diplomatik Uni Eropa menyebut bahwa Beijing telah menyampaikan rencana mengirim pasukan perdamaian ke Ukraina bila tercapai gencatan senjata. Namun, ada syarat penting: misi tersebut harus mendapat mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Langkah ini langsung menuai perdebatan di kalangan Barat. Seorang pejabat senior Uni Eropa memperingatkan, niat Tiongkok berpotensi menjadi kedok operasi intelijen, mengingat Beijing kerap berpihak pada Moskow dalam konflik global.

Reaksi Keras Ukraina dan Barat

Presiden Zelenskyy pada 21 Agustus 2025 menolak tegas keterlibatan Beijing. Dia menegaskan Ukraina tidak menginginkan Tiongkok dalam mekanisme keamanan pascaperang.
Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin menambahkan syarat baru: pasukan penjaga perdamaian dari negara Barat dilarang ditempatkan di Ukraina.

Pakar geopolitik Universitas Tamkang, Cheng Chin-Mo, menilai jika Tiongkok terlibat, Rusia akan memperoleh keuntungan besar. Sebab, baik Moskow maupun Beijing memiliki ambisi serupa: mengubah tatanan internasional demi kepentingan mereka.

Motif Politik dan Ekonomi Beijing

Banyak analis melihat tawaran Beijing lebih bernuansa diplomasi citra. Tiongkok ingin menampilkan diri sebagai “negara besar yang bertanggung jawab,” sekaligus menjaga keseimbangan hubungan dengan Rusia dan memperkuat posisi tawar terhadap Uni Eropa.

Selain itu, misi perdamaian juga bisa menjadi pintu masuk bagi Beijing dalam proyek rekonstruksi Ukraina, membuka jalan bagi perluasan pengaruh ekonomi Tiongkok di kawasan tersebut.

Rusia Menyita 26 Pesawat Milik Tiongkok

Dalam waktu hampir bersamaan, Moskow menyita 26 pesawat milik perusahaan Tiongkok yang terdaftar melalui anak usaha di Kanada dan Irlandia. Langkah ini terjadi di tengah krisis aviasi Rusia akibat sanksi Barat.

Data terbaru menunjukkan, lebih dari 600 pesawat impor di Rusia kekurangan suku cadang, dan sekitar 100 unit terpaksa berhenti beroperasi. 

Kebijakan penyitaan ini dipandang sebagai respons terhadap pembekuan aset Rusia di luar negeri. Namun, justru memicu kerugian besar bagi perusahaan Tiongkok, mulai dari biaya hukum yang melonjak hingga terganggunya operasional internasional.

Ukraina Gencar Melawan di Medan Tempur

Di medan perang, Ukraina melaporkan sejumlah kemenangan taktis. Pasukan Kyiv berhasil merebut kembali beberapa titik penting di Donetsk, termasuk Desa Zelea dan Tolstoy-Yam, lalu mengibarkan bendera nasional.

Di Krimea, Angkatan Laut Ukraina melancarkan serangan presisi ke bandara militer di Kepulauan Kherson. Serangan itu menghancurkan tiga drone Mohajer-6 buatan Iran dan dua drone Forpost milik Rusia.

Moskow sempat menutupi kabar tersebut dengan dalih “latihan militer,” namun bukti visual yang beredar di media sosial segera membongkar fakta sebenarnya.

Politik Global: Trump, Kanada, dan Eropa

Di sisi lain, dinamika global ikut memberi tekanan baru. Pada 22 Agustus 2025, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pembukaan Piala Dunia 2026 akan digelar pada 19 Juli tahun depan. Dia bahkan mengundang Putin dan memamerkan foto kenangan mereka di Alaska. Namun, Trump menegaskan kehadiran Putin masih bergantung pada perkembangan situasi dalam dua pekan mendatang.

Presiden Finlandia, Alexander Stubb menyatakan frustrasi setelah berbicara dengan Trump. Dia menilai, kecil kemungkinan Putin bersedia bertemu Zelenskyy dalam 10 hari ke depan. Uni Eropa pun bersiap menghadapi skenario terburuk berupa sanksi atau tarif baru dari AS terhadap Rusia.

Sementara itu, Kanada justru harus menghadapi kenyataan pahit. Meski telah menggelontorkan 19,7 miliar dolar Kanada untuk membantu Ukraina, Ottawa tetap tersisih dari negosiasi penting di Gedung Putih. Lebih buruk lagi, Trump memberlakukan tarif 25% terhadap produk Kanada, merugikan ekonomi hingga 78 miliar dolar Kanada. Akhirnya, pada 22 Agustus, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengumumkan bahwa mulai 1 September, Kanada akan mengikuti jejak AS dengan mencabut bea masuk atas produk Amerika dalam kerangka USMCA.

Kesimpulan

Situasi Ukraina kini bukan hanya soal perang militer, tetapi juga ajang tarik-menarik geopolitik antara Tiongkok, Rusia, Barat, dan sekutu-sekutunya. Dari perebutan pengaruh politik, penyitaan aset strategis, hingga negosiasi ekonomi lintas benua, setiap langkah menambah kompleksitas konflik yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun.

Bagi Ukraina, medan tempur tetap menjadi prioritas. Namun, jelas bahwa pertarungan sesungguhnya kini juga berlangsung di panggung diplomasi dan ekonomi global.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine