Baru-baru ini, seorang blogger merekam kondisi terkini Shanghai dan terkejut menemukan gejala “pengosongan kota”. Di kawasan pusat kota, tepatnya lingkar dalam (Inner Ring) di sekitar Beiwaitan, jalan-jalan terlihat sepi, hampir semua toko tutup dan nyaris tidak ada orang.
EtIndonesia. Pada 23 Agustus, seorang vloger Shanghai dengan akun “Zai Xia Dao Ge” mengunggah video yang menunjukkan suasana Beiwaitan, Distrik Hongkou, pada Senin pukul 18.00. Ia kaget melihat bahwa di jantung kota Shanghai, kawasan lingkar dalam benar-benar sudah tidak ada orang.
Beiwaitan, dengan luas sekitar 4 km², merupakan salah satu bagian penting dari “Segitiga Emas” Shanghai. Kawasan ini dulunya ramai dengan aktivitas warga, namun kini menjadi lengang karena banyak penduduk sudah dipindahkan akibat proyek pembongkaran.
“Aneh sekali, cuma ada beberapa orang di pusat yoga dan fitness, selebihnya semua tutup. Renovasinya begitu mewah, tapi di basement lantai B1 mall sebesar ini hanya ada kurir makanan,” Ia menunjuk sebuah kawasan komersial di Jalan Changyang, Beiwaitan.
Saat ia berjalan ke plaza bawah mall, tak terlihat satu pun pengunjung, hanya ada beberapa kurir yang beristirahat. “Restoran-restoran di sini bahkan tidak menyalakan lampu,” katanya.
8月23日,博主拍攝上海現狀,城市空心化,内环没人了! pic.twitter.com/046bS7Ze5Q
— ying tang (@yingtan04410735) August 24, 2025
Vloger itu menggambarkan pemandangan sekitar: “Seluruh kawasan ini benar-benar sepi. Entah ini bangunan baru atau karena terlalu banyak pembangunan sehingga pasokan berlebihan tanpa orang yang menempati. Padahal ini bukan di pinggir kota, tapi di lingkar dalam, benar-benar jantung kota Shanghai, Beiwaitan.”
Dalam video tampak sejumlah vila komersial kosong. Ia mengatakan, “Sepertinya kawasan lingkar dalam akan menjadi kosong, hanya orang kaya atau perusahaan besar yang mampu memiliki tempat di sini.”
Ia juga menunjukkan bahwa area di sekitar Jalan Baoding, Jalan Changyang, dan Taman Heshan sudah ditetapkan sebagai zona pembongkaran. Rumah-rumah lama sudah lama terbengkalai, penduduknya semua dipindahkan.
“Sekarang di sini benar-benar tidak ada orang. Jalanan hanya dilewati kendaraan, kurir, atau orang yang sekadar melintas. Padahal hanya 100 meter dari sini sudah super ramai, tapi ke arah sini seperti menyeberang ke dunia lain—ini benar-benar pengosongan kota,” ujarnya.
Video itu memicu diskusi hangat di internet. Seorang netizen Shanghai menulis: “Penduduk kota semakin sedikit, dalam sepuluh tahun populasi bisa berkurang setengahnya.”
Netizen lain berkata: “Sangat menakutkan, kalau kawasan Beiwaitan saja sudah jadi begini.”
Sejak meletusnya pandemi COVID-19 pada akhir 2019, ekonomi Shanghai terus merosot. Banyak penduduk migran meninggalkan kota, jalan-jalan yang dulu ramai, pusat bisnis, dan kawasan perbelanjaan kini tampak lesu.
Awal Juli lalu, seorang vloger juga merekam kondisi Jalan Pejalan Kaki di Kota Chuansha, Shanghai. Jalan yang dulu dipenuhi orang kini sepi hingga banyak toko tutup.
Seorang petugas kebersihan yang bekerja di sana bertutur: “Dulu ramai sekali, bisnis berkembang pesat. Tapi setelah pandemi, ditambah situasi internasional yang buruk dan hubungan Tiongkok–AS memburuk, ekonomi ikut terdampak. Sekarang jalanan makin sepi, toko-toko tutup, semua dipengaruhi kondisi ekonomi secara keseluruhan.”
NTDTV.com


