Kim Jong-un Kaget! Ribuan Pasukan Korut Jadi Korban di Ukraina”

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun kembali menunjukkan eskalasi tajam. Harapan perdamaian sempat muncul kala Presiden Rusia, Vladimir Putin, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dan Donald Trump bertatap muka. Namun, secercah cahaya itu seolah padam seketika. Api konflik justru semakin membesar, menelan dimensi politik, diplomatik, dan militer yang lebih luas.

Zelenskyy Gunakan Hari Bendera untuk Bangkitkan Semangat Nasional

Tanggal 23 Agustus 2025 bertepatan dengan Hari Bendera Nasional. Presiden Volodymyr Zelenskyy hadir dalam upacara di Museum Sejarah Perang Dunia II di Kyiv. Dalam pidatonya, dia menegaskan bendera Ukraina kini menjadi simbol cinta tanah air yang harus dipertahankan dengan segala pengorbanan.

Zelenskyy menolak menyerahkan “sejengkal pun tanah” kepada Rusia. Dia menuduh Putin sama sekali tidak berniat mencari perdamaian. Lebih jauh, dia menyerukan tekanan internasional diperbesar terhadap Kremlin.

Sejak 2022, Ukraina lebih banyak berada dalam posisi defensif karena larangan AS dan NATO untuk menggunakan senjata Barat menyerang wilayah Rusia. Namun, situasi berubah pada 2023 ketika Ukraina melancarkan serangan balasan ke wilayah Kursk. Meski hasilnya terbatas, operasi itu menunjukkan Ukraina mampu menyerang balik. Kini, strategi ofensif semakin nyata: Ukraina merebut enam titik penting di Sumi dan Pokrovsk, dan Zelenskyy menegaskan serangan balasan akan terus berlanjut.

Taktik Rusia: Ancaman Nuklir dan Campur Tangan Beijing

Di pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov terus menunda dialog damai dengan alasan Ukraina tidak mau berkompromi. Sementara itu, Beijing kembali membuat kontroversi dengan menawarkan “pasukan perdamaian” ke Ukraina, meski ditolak keras oleh Kyiv. Sindiran publik menyebutnya sebagai “pasukan musang”.

Putin sendiri melanjutkan taktik lama: mengancam dengan senjata nuklir. Pada 22 Agustus 2025, dia meninjau Pusat Nuklir di Sarov, lalu sehari kemudian mengunjungi kapal selam nuklir di Arktik. Narasi ini dimaksudkan sebagai perang psikologis. Namun, kritik dalam negeri bermunculan. Tokoh nasionalis Rusia, Chomushkin, menyebut klaim Putin bahwa “Ukraina akan segera runtuh” sudah tiga tahun tidak terbukti, sementara kini lebih dari 55 negara Barat aktif mendukung Kyiv.

Strategi Baru Ukraina: Hantam Energi Rusia

Karena sulit menembus pertahanan darat, Ukraina kini fokus menyerang infrastruktur energi Rusia. Target serangan dilakukan berulang kali agar kilang minyak benar-benar lumpuh. Salah satu contoh nyata adalah Kilang Ryazan—penyumbang 5% kapasitas minyak Rusia—yang kini hanya beroperasi setengah akibat serangan bertubi-tubi.

Kondisi makin parah karena Rusia kesulitan mengganti peralatan impor Barat yang terkena sanksi. Produk Tiongkok yang menjadi alternatif dinilai tidak memadai, memicu krisis bahan bakar dengan antrean panjang di SPBU.

Di sisi lain, Ukraina mengembangkan drone jarak jauh (1.000–1.500 km) dan rudal jelajah “Flamingo” dengan jangkauan 3.000 km—melampaui Taurus Jerman (500 km) maupun Tomahawk AS (2.500 km). Flamingo mampu membawa hulu ledak 1 ton, dua kali lipat dari Tomahawk. Zelensky bahkan menyebut produksi massal dimulai Oktober, dengan kapasitas 7 unit per hari. Jika Ukraina benar-benar memiliki 1.000 rudal ini, Moskow terancam lumpuh total.

Dominasi Udara Mulai Bergeser

Bantuan NATO dan sistem pertahanan Patriot AS perlahan mengubah keseimbangan udara. Jet tempur MiG-29 Ukraina baru-baru ini menghancurkan markas komando Rusia menggunakan bom J-DAM.

Drone juga berperan penting. Pada 21 Agustus 2025, Angkatan Laut Ukraina menyerang basis drone Rusia di Krimea. Meski Kremlin menyebutnya sekadar “latihan militer Armada Laut Hitam”, video ledakan besar yang beredar justru membantah klaim tersebut.

Keterlibatan Korea Utara: Fakta yang Sulit Ditutupi

Isu keterlibatan Korea Utara akhirnya terkuak. Media pemerintah Korut sendiri menayangkan video pasukan mereka bertempur di Kursk bersama Rusia. Untuk pertama kalinya, Kim Jong-un mengakui 101 tentaranya gugur.

Data intelijen Korea Selatan menyebut sekitar 30.000 tentara Korut sudah dikerahkan, dengan korban lebih dari 600 tewas, 4.100 terluka, dan ratusan ditawan. Pengakuan ini dipaksa muncul karena jumlah korban terlalu besar untuk ditutup-tutupi.

Bahkan, tawanan perang Korut mengungkap perintah brutal: jika tertangkap, mereka harus bunuh diri dengan granat. Untuk menutupi fakta pahit, rezim Kim kembali menggunakan propaganda era perang Korea dengan mengangkat prajurit gugur sebagai “pahlawan bangsa”.

Penutup

Konflik Rusia–Ukraina kini semakin kompleks: dari diplomasi buntu, ancaman nuklir, hingga keterlibatan pasukan asing. Dengan Ukraina yang semakin ofensif, Rusia yang bermain dengan kartu nuklir, dan Korea Utara yang masuk gelanggang, perang ini jelas belum menuju titik akhir. Pertanyaannya: apakah dunia sedang menyaksikan babak baru dari perang modern terbesar abad ini?

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine