EtIndonesia. Donbas kembali menjadi pusat pertempuran sengit. Pasukan Ukraina melancarkan operasi besar-besaran pada 20–22 Agustus 2025, berhasil merebut sejumlah kota, menghancurkan infrastruktur militer Rusia, hingga memukul mundur pasukan lawan di berbagai wilayah.
Serangan Balik di Donbas
Militer Ukraina melaporkan keberhasilan merebut enam titik pemukiman di Pokrovsk, Donetsk. Rekaman video pasukan khusus Omega memperlihatkan jalur sepanjang 435 meter yang dijuluki “karpet merah Pokrovsk”—tempat artileri dan drone Ukraina menghantam habis-habisan pasukan bermotor Rusia.
Panglima Tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, turun langsung ke garis depan pada 21 Agustus 2025. Ia memuji keberanian pasukannya sekaligus menegaskan bahwa Ukraina bersiap memperluas serangan ke arah selatan dan tenggara Pokrovsk.
Serangan Taktis Ukraina
- 21 Agustus 2025: Brigade Mekanis Berat ke-5 merebut kembali Tolstoy, Donetsk, yang telah dikuasai Rusia sejak Juli.
- Garda Nasional Ukraina, termasuk Korps Azov, menghancurkan sistem peluncur roket BM-21 Grad milik Rusia.
- Resimen Drone 412 “Nemesis” menonaktifkan lebih dari 300 ranjau anti-tank, membuka jalur bagi pasukan darat.
- 22 Agustus 2025: Pasukan Ukraina mengibarkan bendera di Tolstoy dan merebut kembali Andriivka, Klyevsov, serta Zelenyi Hai di perbatasan Donetsk–Luhansk.
Pertempuran di Hutan Serebryansky
Pada 21 Agustus 2025 Di sektor Lyman, Brigade ke-63 Ukraina menggagalkan penyusupan pasukan Rusia. Didukung tank dan artileri, mereka menghancurkan kendaraan lapis baja lawan dan menawan tujuh tentara Rusia.
Serangan Besar ke Krimea
- 21 Agustus 2025: Pasukan khusus Ukraina meledakkan kereta bahan bakar Rusia di dekat Stasiun Dzhankoi, menghancurkan 20 gerbong tangki minyak.
- 22 Agustus 2025: Ukraina meluncurkan rudal HIMARS ke Krimea, menewaskan empat komandan Rusia dan melukai 11 lainnya.
- Sehari sebelumnya, Ukraina juga menyerang Sevastopol, markas Armada Laut Hitam Rusia, semakin memperburuk krisis logistik Moskow.
Rusia Mundur di Sumy
Pasukan Rusia panik mundur dari Sumy, meninggalkan artileri 2S19 dan kendaraan tempur BMP. Syrskyi mengonfirmasi pada 21 Agustus 2025 bahwa wilayah Sumy sepenuhnya telah kembali dikuasai Ukraina.
Pertempuran di Selatan: Zaporizhzhia & Kherson
- Zaporizhzhia (21 Agustus 2025): Ukraina menghancurkan sistem pertahanan udara S-300V senilai 40 juta dolar.
- Kherson (22 Agustus 2025): Pasukan Rusia dari Resimen ke-24 dilaporkan membakar peralatan mereka sendiri akibat moral yang runtuh. Serangan udara Rusia selama sepekan ke jembatan strategis Kherson gagal menghancurkan sasaran.
Perang Drone dan Laut
Pada 22 Agustus 2025 Lebih dari 100 drone diluncurkan kedua pihak. Ukraina menembak jatuh 46 dari 55 drone Rusia, sementara drone Ukraina menyerang delapan wilayah Rusia—termasuk Moskow, Volgograd, Rostov, dan kilang minyak di Saratov.
Serangan juga mencapai Novorossiysk, menghantam pangkalan angkatan laut Rusia dan menewaskan lima komandan elit.
Dukungan NATO Semakin Kuat
Sekjen NATO Mark Rutte bertemu Presiden Volodymyr Zelensky di Kyiv pada 22 Agustus 2025. NATO mengumumkan bantuan senilai 1,5 miliar dolar untuk pembelian senjata dari AS, termasuk sistem pertahanan udara.
Belanda juga akan mengirim dua sistem Patriot ke Polandia dengan 300 tentara guna mengamankan jalur logistik ke Ukraina.
Rudal Jarak Jauh Ukraina
Dalam pidatonya pada 20 Agustus 2025, Zelensky mengumumkan keberhasilan uji coba rudal buatan dalam negeri dengan jangkauan 3.000 km. Produksi massal direncanakan akhir 2025 atau awal 2026.
Rusia Terpuruk Ekonomi dan Energi (Juli–Agustus 2025)
- Juli 2025: Warga Rusia menarik 16 triliun rubel dari bank hanya dalam sebulan.
- Agustus 2025: 10–15% kapasitas minyak Rusia lumpuh akibat serangan Ukraina. Harga bensin naik 55% sejak awal tahun.
- Proyeksi defisit fiskal 2025 mencapai 4,9 triliun rubel, terbesar sepanjang sejarah Rusia.
Diplomasi Buntu: Trump Mundur
Setelah KTT Alaska, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mundur dari rencana pertemuan tiga pihak (AS–Rusia–Ukraina).
Menurut The Guardian (21 Agustus 2025), Trump menegaskan Zelensky dan Putin harus lebih dulu menggelar perundingan bilateral. Namun, syarat Rusia dianggap mustahil: Ukraina tidak boleh bergabung NATO, pasukan Barat dilarang masuk, dan seluruh Donbas harus diserahkan. Zelensky menolak tegas.
Kesimpulan
Eskalasi perang pada 20–22 Agustus 2025 memperlihatkan dominasi Ukraina di medan tempur dan kelemahan Rusia, baik militer maupun ekonomi. Namun, jalan diplomasi tetap menemui kebuntuan.
Zelensky menutup pidatonya dengan pernyataan tegas: “Putin hanya mengerti bahasa kekuatan. Ukraina tidak akan menyerahkan tanah demi perdamaian semu.” (***)


