Pada Minggu (24 Agustus) malam, Menara Eiffel di Paris, Colosseum di Roma, dan Empire State Building di New York diterangi cahaya biru-kuning untuk merayakan Hari Kemerdekaan Ukraina. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina saat ini masih berjuang demi kemerdekaan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan kembali komitmen keamanan bagi Ukraina, namun menekankan bahwa Eropa harus menanggung tanggung jawab utama. Sementara itu, pertempuran Rusia-Ukraina masih terus berlangsung, dan masa depan proses perdamaian tetap menjadi sorotan dunia.
EtIndonesia. Minggu (24/8/2025) malam, cahaya biru dan kuning yang melambangkan bendera Ukraina menerangi Menara Eiffel di Paris sebagai bentuk perayaan Hari Kemerdekaan Ukraina.
Colosseum Roma dan Empire State Building New York juga tampil dalam dua warna tersebut sebagai tanda dukungan untuk Ukraina. Tiga puluh empat tahun lalu, Ukraina memproklamasikan kemerdekaannya dari Uni Soviet, dan 34 tahun kemudian, Ukraina masih berjuang mempertahankannya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berkata: “Hari ini, pertarungan antara keadilan dan kejahatan masih berlanjut. Rusia terus menyerang, terus menjatuhkan dan menghancurkan kita. Semua ini harus dihentikan. Harus dihentikan.”
Pada Senin (25 Agustus), Zelenskyy mengundang utusan khusus Presiden Trump, Keith Kellogg, bersama para tokoh politik, bisnis, dan diplomat, untuk menghadiri acara tahunan Sarapan Doa Nasional Ukraina.
Utusan Trump, Kellogg, mengatakan: “Meski kami melakukan segala cara untuk mengakhiri perang ini dan mencapai perdamaian Rusia-Ukraina, kemenangan hanya bisa datang melalui kasih karunia Tuhan.”
Kellogg menyebutkan korban tewas dan luka akibat perang Rusia-Ukraina jauh melampaui jumlah korban Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Ia menegaskan bahwa AS sedang berupaya keras untuk mendorong berakhirnya perang.
Presiden Trump pada Senin (25/8) kembali menegaskan komitmennya memberikan bantuan keamanan bagi Ukraina.
“Pertama, Eropa akan memberikan jaminan keamanan penting bagi mereka (Ukraina), dan memang seharusnya begitu, karena mereka berada di sana. Tapi kami juga akan terlibat dalam memberikan dukungan. Kami akan membantu mereka,” ujarnya.
Salah satu bentuk bantuan AS adalah melalui penjualan senjata ke NATO. Kyiv berencana memanfaatkan dukungan dana dari para sekutu NATO untuk membeli senjata dari Amerika.
Zelenskyy mengatakan: “Target kami adalah memasukkan setidaknya 1 miliar dolar AS setiap bulan ke dalam program ini.”
Norwegia pada Senin mengumumkan bergabung dengan rencana tersebut. Jerman di hari yang sama kembali menegaskan komitmennya memperkuat kemampuan militer Ukraina.
Mengenai kemungkinan pertemuan puncak Rusia-Ukraina di masa depan, Zelensky dalam pertemuan dengan Kellogg membahas cara menekan Moskow agar bersedia duduk di meja perundingan.
Trump kembali memperingatkan bahwa jika Moskow menolak pertemuan dan perundingan, Rusia bisa menghadapi konsekuensi yang sangat serius.
“Jadi kita akan lihat apa yang terjadi dalam satu-dua minggu ke depan. Saat itu, jika perlu, saya akan turun tangan lebih keras,” katanya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov baru-baru ini dalam sebuah wawancara memaparkan syarat perdamaian: selain Ukraina tidak boleh bergabung dengan NATO, juga diperlukan jaminan keamanan yang diberikan oleh anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Namun ironisnya, itu berarti Rusia dan Tiongkok juga harus ikut serta.
Zelenskyy sebelumnya sudah menegaskan bahwa keterlibatan Rusia sebagai negara agresor dalam misi perdamaian tidak masuk akal, dan karena Beijing mendukung Moskow, Kyiv secara tegas menolak partisipasi PKT.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin mengklaim bahwa pasukan Rusia berhasil merebut sebuah permukiman di wilayah Zaporizhzhia, Dnipropetrovsk, Ukraina. Sehari sebelumnya, desa Filiya di kawasan yang sama juga diklaim telah dikuasai oleh militer Rusia.
Sumber : NTDTV.com


