EtIndonesia. Saat Ukraina memperingati 34 tahun kemerdekaannya pada 24 Agustus, sebuah drone asal Ukraina dilaporkan menghantam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kursk, memicu kebakaran di transformator sekunder. Akibatnya, salah satu reaktor — Unit 3 — fungsi operasionalnya menurun hingga 50 %. Untungnya, api berhasil dipadamkan dengan cepat dan tidak ada peningkatan radiasi di lokasi maupun sekitarnya
Stasiun energi menyatakan bahwa reaktor lainnya tetap beroperasi normal, dengan salah satunya sedang menjalani pemeliharaan rutin
IAEA, lembaga pengawas nuklir dunia, menekankan pentingnya perlindungan menyeluruh terhadap fasilitas nuklir di tengah konflik bersenjata
Gubernur Kursk, Alexander Khinshtein, menegaskan bahwa serangan semacam ini melanggar konvensi internasional dan memperbesar risiko bencana nuklir
Secara geografis, PLTN Kursk berada sekitar 60 km dari perbatasan Ukraina
Jika terjadi kebocoran besar, debu radioaktif berpotensi terbawa angin jauh hingga Ukraina, Belarus, dan Eropa Tengah — meningkatkan ancaman transnasional terhadap keselamatan publik dan lingkungan.
Pada malam 21 Agustus, drone Ukraina menyerang kilang minyak Novoshakhtinsk, menyebabkan api besar yang terus berkobar hingga hari kelima setelah serangan
Lokasi kilang ini cukup strategis — berada di wilayah selatan Rusia — dan merupakan salah satu pemasok bahan bakar utama, terutama untuk operasi militer
Lebih dari 400 petugas pemadam kebakaran dari empat wilayah Rusia dikerahkan, termasuk penggunaan kereta pemadam khusus. Namun, upaya penanggulangan berjalan lambat, dan tangki-tangki minyak terus mengalami ledakan berulang kali
Krisis ini juga berdampak langsung terhadap warga setempat—masyarakat di Kota Krasny Sulin mengalami pemadaman aliran air karena dialokasikan untuk memadamkan api. Wali Kota Novoshakhtinsk, Sergey Bondarenko, bahkan meminta masyarakat untuk membatasi aktivitas luar rumah, menggunakan masker, dan menutup retakan pada rumah dengan kain basah
Secara nasional, serangan terhadap kilang-kilang minyak ini memperparah krisis bahan bakar di Rusia. Hingga kini, setidaknya tujuh kilang telah terkena serangan sejak awal Agustus, membuat sekitar 17 % kapasitas penyulingan nasional tidak berfungsi
Harga bensin—terutama A-95—melonjak tinggi, mencapai Rp… (dikonversi USD)—meningkat hingga 55 % dari awal tahun, mencapai sekitar 82.300 rubel (1.023 dolar) per barel.
Pemerintah Rusia sudah menangguhkan ekspor bahan bakar sejak akhir Juli untuk menjaga pasokan domestik, tetapi tekanan harga dan kelangkaan tetap berlangsung
Gambaran Umum dan Dinamika yang Perlu Diperhatikan
| Aspek | PLTN Kursk | Kilang Novoshakhtinsk |
| Tanggal Insiden | 24–25 Agustus 2025 | 21–25 Agustus 2025 |
| Dampak Utama | Kebakaran ringan, penurunan kapasitas reaktor 50%; radiasi tetap normal | Kebakaran besar, masih berlangsung 5 hari; beberapa ledakan |
| Bahaya Potensial | Risiko radioaktif lintas negara jika terjadi kebocoran | Krisis pasokan energi, lonjakan harga, dampak warga lokal |
| Tanggapan | Api cepat dipadamkan; IAEA dan pemerintah Rusia mengecam | Upaya pemadaman intensif; peringatan kesehatan dan sosial |
| Konsekuensi Jangka Panjang | Peningkatan ketegangan terhadap penggunaan infrastruktur nuklir dalam konflik | Gangguan ekonomi dan logistik, tekanan sosial dan politik domestik Rusia |
Kesimpulan
Dua serangan drone Ukraina yang menargetkan infrastruktur penting di Rusia pada akhir Agustus 2025 menunjukkan eskalasi konflik dengan risiko besar—baik dari segi keselamatan nuklir maupun stabilitas energi. Penyerangan terhadap PLTN Kursk menjadi alarm global bahwa fasilitas nuklir harus dilindungi sepenuhnya dari konflik. Sementara itu, kebakaran kilang minyak Novoshakhtinsk mencerminkan taktik Ukraina untuk melemahkan pondasi ekonomi dan militer Rusia, namun juga memperburuk tekanan terhadap masyarakat sipil dan harga energi dalam negeri.


