Warga di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, mengepung aparat kepolisian. Kedua belah pihak beberapa kali terlibat bentrokan fisik. Kabar yang beredar menyebutkan, pemicu kejadian adalah tindakan Satpol PP (chengguan) yang melukai sejumlah orang, termasuk seorang ibu hamil yang dipukul hingga keguguran.
EtIndonesia. Pada 25 Agustus malam, sejumlah video beredar di internet memperlihatkan di Jindi Plaza, Wuhan, ribuan warga mengepung sekelompok aparat kepolisian. Kedua pihak berulang kali bentrok, terdengar seorang perempuan berteriak “Tolong!”. Massa di sekitar meneriakkan dukungan dan menuding polisi: “Kalian yang lebih dulu memulai!”. Di lokasi juga terdengar orang memukul gong sebagai tanda protes.
Video lain yang diduga diambil pada siang hari menunjukkan polisi anti huru-hara, aparat berpakaian sipil, dan warga yang berunjuk rasa saling berebut spanduk merah.
Bentrokan pecah, sejumlah warga dipukuli polisi. Dalam rekaman terlihat polisi anti huru-hara dengan brutal menghantam leher seorang pria berbaju hitam berkali-kali menggunakan sisi perisai. Dua warga lain dipukul hingga jatuh ke jalanan.
Kabar yang beredar menyebut, hari itu Satpol PP melukai banyak orang dan memukul seorang ibu hamil hingga keguguran. Peristiwa itu memicu amarah warga. Polisi lalu datang untuk “menjaga stabilitas”, namun justru memicu bentrokan dengan massa. Protes berlangsung hingga larut malam.
Video yang tersebar di platform luar negeri X memicu diskusi ramai di kalangan warganet:
“Apakah warga Wuhan sudah bangkit?”
“Benar-benar api perlawanan ada di mana-mana.”
“Harus belajar dari rakyat Jiangyou.”
“Sekarang kalau ada ketidakadilan, rakyat langsung berkumpul protes, bagus.”
“Panci presto bisa menahan tekanan sebesar apa?”
Pada hari yang sama, protes besar juga pecah di Guangxi. Video yang beredar menunjukkan para petani bunga melati melakukan aksi protes karena aturan baru pemerintah mewajibkan penggunaan kode QR dan pengikatan akun bank tertentu untuk bisa masuk pasar berjualan.
8月25日晚,湖北武汉洪山区团结大道金地广场,摊贩与保安发生激烈冲突,导致数人受伤入院,引发数百人围观。据目击者透露,起因是金地广场出动保安,要收取摊贩每月2000元的摊位费。 pic.twitter.com/YRghKNpibQ
— 昨天 (@YesterdayBigcat) August 26, 2025
中共窮凶極惡,要求廣西的茉莉花農,必須綁定監管部門的二維碼和指定銀行帳號,否則不得進入市場交易。
— 0 (@lammichaeltw) August 24, 2025
本來今年的茉莉花價格已經跌破歷史水平,加上有的花農連手機都不會用,一時間激發花農怒火,並開始反抗。 pic.twitter.com/ZaAIbHPt0p
Sumber menyebut, harga bunga melati tahun ini sudah jatuh ke titik terendah dalam sejarah, membuat para petani sangat cemas. Ditambah lagi, banyak petani lansia yang tidak bisa menggunakan ponsel pintar, sehingga kebijakan pemerintah semakin memicu kemarahan mereka.
Sumber : NTDTV.com


