Kompensasi Besar atas PLTA Coca Codo Sinclair untuk Ekuador: Apakah Proyek Inisiatif Belt and Road Menuju Keruntuhan?

Perusahaan milik negara Tiongkok, China Power Construction (PowerChina), akan membayar kompensasi sebesar 400 juta dolar AS kepada pemerintah Ekuador sebagai ganti rugi atas kerugian nasional yang ditimbulkan akibat cacat konstruksi pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Coca Codo Sinclair. Para pengamat menilai, ini adalah sebuah kasus yang sangat simbolis, menandakan bahwa inisiatif “Belt and Road” (BRI) Tiongkok mungkin akan memasuki fase krisis besar.

EtIndonesia. Baru-baru ini, Menteri Ekonomi dan Keuangan Ekuador, Sariha Moya, dalam wawancara dengan Radio Centro mengungkapkan bahwa pemerintahnya telah mencapai kesepakatan penting dengan pihak Tiongkok, di mana PowerChina setuju membayar kompensasi.

Proyek PLTA Coca Codo Sinclair, yang menelan biaya hampir 3 miliar dolar AS, dibangun oleh anak perusahaan PowerChina, Sinohydro. Sejak selesai pada tahun 2016, proyek ini terus dilanda kontroversi, mulai dari pemilihan lokasi yang bermasalah, kualitas konstruksi yang buruk, hingga praktik korupsi dan suap. Audit menemukan ribuan cacat struktural, termasuk lebih dari 8.000 retakan pada peralatan mesin. Bahkan setelah perbaikan, sebagian fasilitas masih mengalami kebocoran. Parahnya, Sinohydro diduga menyembunyikan cacat ini dan tetap menyerahkan proyek meski tahu ada masalah serius.

Tahun 2021, pemerintah Ekuador mengajukan arbitrase sebesar 580 juta dolar AS, sementara pihak perusahaan Tiongkok melawan balik pada tahun lalu. Kini, dengan tercapainya kesepakatan kompensasi, sengketa ini mendapat titik penyelesaian awal.

Gambar menunjukkan petugas keamanan berjalan melewati papan publikasi Forum KTT Kerjasama Internasional “Belt and Road” yang pertama diadakan di Beijing pada 14 hingga 15 Mei 2017. (Wang Zhao/AFP melalui Getty Images)

Moya menegaskan bahwa proyek tersebut tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga menyebabkan kerugian besar bagi pendapatan negara. Oleh karena itu, pihak Ekuador menolak kompensasi berupa jaminan, dan menuntut pembayaran langsung dalam bentuk ganti rugi negara.

 “Ekuador membuka jalan. Begitu masyarakat internasional melihat perusahaan Tiongkok kalah dan bersedia membayar ganti rugi, negara lain pasti akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Jika tren ini meluas, maka Belt and Road akan berubah dari instrumen diplomasi dan ekspansi ekonomi Beijing menjadi rentetan gugatan internasional,” ujar penulis dan pengamat politik Kanada keturunan Tionghoa, Sheng Xue, menyebut kasus ini sebagai titik balik. 

Ekuador selama ini adalah salah satu basis utama proyek infrastruktur Tiongkok di Amerika Latin. Saat PLTA Coca Codo Sinclair selesai dibangun pada November 2016, Presiden Xi Jinping bahkan hadir dalam peresmian.

Pengamat politik yang berbasis di AS, Tang Jingyuan, mengatakan bahwa Belt and Road sejatinya adalah pilar ekspansi global Xi Jinping, di mana banyak proyek besar dikendalikan oleh keluarga elit Partai Komunis Tiongkok.

 “Proyek-proyek ini sebenarnya menjadi sarana bagi elit Tiongkok untuk mencuci uang atau memperkaya diri. Itulah akar korupsi yang diekspor lewat Belt and Road. Kini, dengan krisis ekonomi dan politik dalam negeri, kemampuan Beijing melemah, sehingga negara-negara kecil yang dulu takut, kini mulai berani melawan,” katanya. 

Kasus proyek bermasalah seperti ini bukan hal baru dalam Belt and Road.

  • Nepal: Bandara Internasional Pokhara, yang dibiayai pinjaman 216 juta dolar AS dari Bank Ekspor-Impor Tiongkok dan dibangun oleh perusahaan Tiongkok, pada April lalu dinyatakan tidak sesuai standar. Investigasi menemukan penggunaan material murahan, korupsi, dan lemahnya pengawasan. Perdana Menteri Nepal bahkan meminta agar pinjaman diubah menjadi hibah alias dibatalkan.
  • Serbia: Renovasi Stasiun Kereta Novi Sad yang dikerjakan perusahaan Tiongkok runtuh pada November 2024, menewaskan 16 orang. Kasus ini memicu protes besar. Pada Agustus lalu sejumlah pejabat, termasuk mantan menteri infrastruktur, ditangkap karena diduga menerima suap dan menguntungkan kontraktor Tiongkok secara ilegal.

Sheng Xue menegaskan:  “Korupsi dalam proyek-proyek PKT tidak hanya menciptakan risiko ekonomi, tapi juga bisa langsung berubah menjadi krisis politik dan diplomatik. Ditambah lagi ekonomi domestik Tiongkok sedang memburuk, Beijing tidak lagi bisa menghamburkan uang seperti dulu. Belt and Road kini hanya bertahan dengan utang lama, namun utang itu justru terus ditagih.”

Ia menggambarkan Belt and Road sebagai proyek yang berubah dari “proyek abad ini” menjadi beban abad ini, yang pada akhirnya bisa membuat PKT semakin terisolasi di panggung internasional.

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine