Untuk menghukum India yang terus membeli minyak Rusia, Amerika Serikat sejak Rabu (27 Agustus) mulai memberlakukan tarif tambahan hingga total 50% terhadap barang-barang impor India. Ini merupakan salah satu langkah tekanan Presiden Trump guna mengakhiri perang Rusia–Ukraina.
Saat ini, kedua belah pihak masih saling menyerang infrastruktur energi, dan proses perdamaian tampaknya kembali terhenti. Namun, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, optimis bahwa AS terus melakukan perundingan dengan Rusia dan Ukraina, dan perjanjian damai berpeluang tercapai sebelum akhir tahun.
EtIndonesia. Sanksi ekonomi terkait perang Rusia–Ukraina tersebut sudah mulai diterapkan. Sejak Rabu, AS menjatuhkan sanksi tingkat dua terhadap India, yakni tarif tambahan 25% atas barang impor India. Alasannya: India masih membeli minyak Rusia, yang dianggap sebagai sumber utama dana Kremlin untuk mempertahankan mesin perangnya.
“Kami ingin mengakhiri perang (Rusia–Ukraina). Kami menerapkan sanksi ekonomi. Saya sebut ini sanksi ekonomi karena kami tidak ingin terseret ke dalam perang dunia,” kata Presiden AS Donald Trump.
Bukan hanya India, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif tinggi terhadap pembeli minyak Rusia terbesar lainnya—PKT (Partai Komunis Tiongkok), juga Turki, UEA, dan negara-negara lain yang masih berdagang dengan Moskow—untuk meningkatkan tekanan agar Rusia segera menghentikan perang.
Menurut jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos, 62% rakyat Amerika mendukung pemberian sanksi terhadap mitra dagang Rusia demi menekan Putin agar menghentikan perang. Angka dukungan di kalangan Partai Republik bahkan mencapai 76%, sementara di kalangan Demokrat mencapai 58%.
Namun, sejumlah ekonom menilai India sulit melepaskan diri dari minyak murah Rusia.
Ekonom perdagangan India, Biswajit Dhar: “Saya rasa India tidak mampu sepenuhnya meninggalkan minyak Rusia, karena kami memperoleh keuntungan harga dari impor minyak Rusia.”
Di Rusia sendiri, akibat serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan infrastruktur energi, beberapa SPBU mengalami kekurangan pasokan atau harus menjatah penjualan, sehingga antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer.
Peneliti senior Carnegie Russia Eurasia Center, Sergey Vakulenko: “Serangan Ukraina terhadap kilang minyak membentuk pola busur, mulai dari kota Ryazan di selatan Moskow hingga ke Volgograd.”
Pada saat yang sama, Rusia juga meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi Ukraina. Pada Rabu, infrastruktur energi dan gas di enam wilayah Ukraina menjadi target serangan drone besar-besaran.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengkonfirmasi bahwa serangan udara menyebabkan lebih dari 100 ribu rumah tangga di wilayah Poltava, Sumy, dan Chernihiv mengalami pemadaman listrik. Ia mendesak sekutu untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia agar menghentikan serangan, sekaligus memastikan adanya jaminan keamanan nyata bagi Ukraina.
Salah satu opsi jaminan keamanan yang tengah dipertimbangkan adalah pengerahan pasukan Eropa ke Ukraina. Namun Kremlin pada Rabu menyatakan penolakan tegas, dengan alasan sebagian besar negara yang akan membentuk pasukan Eropa adalah anggota NATO.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov: “Sejak awal kami sudah mengatakan, ekspansi infrastruktur militer NATO dan penyusupan infrastruktur tersebut ke Ukraina bisa menjadi salah satu penyebab konflik ini.”
Di tengah kebuntuan proses perdamaian Rusia–Ukraina, utusan khusus Trump, Steve Witkoff,, pada Selasa (26 Agustus) mengatakan kepada Fox News bahwa AS setiap hari berhubungan dengan Rusia, dan pekan ini perwakilan Ukraina juga akan ke New York untuk melakukan pembicaraan, yang ia sebut sebagai “sinyal penting”.
Ia mengakui perang Rusia–Ukraina sangat kompleks, namun tetap optimis bahwa perjanjian damai mungkin tercapai sebelum akhir tahun.
Sumber : NTDTV.com


