EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina dalam dua hari terakhir meningkat tajam. Pertempuran darat semakin sengit, sementara serangan rudal dan drone menghantam tanpa henti, menimbulkan korban besar, terutama di kalangan warga sipil.
Serangan Dini Hari Mengguncang Kiev
Pada 28 Agustus dini hari, Rusia mengerahkan setidaknya dua pesawat pembom strategis Tu-95. Pesawat ini mampu membawa delapan rudal jelajah KH-101 dengan jangkauan hingga 2.000 km.
Dua rudal berhasil menembus pertahanan Ukraina dan menghantam sebuah gedung apartemen di Kiev. Bangunan itu hancur total.
Tragedi ini menewaskan 18 orang, termasuk 4 anak kecil, yang termuda baru berusia tiga tahun. Sedikitnya 48 orang luka-luka. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai “pembantaian warga sipil” sekaligus bukti nyata bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak pernah berniat menghentikan perang melalui jalur damai.
Dalam pernyataannya di media sosial, Zelensky bahkan menyinggung Tiongkok: “Kami ingin melihat bagaimana Tiongkok bereaksi.”
Ia menegaskan bahwa meskipun Beijing sering menyerukan gencatan senjata, tindakan Rusia justru membuat perdamaian semakin jauh dari kenyataan.
Sasaran Lain: Kantor UE dan Inggris di Kiev
Yang mengejutkan, serangan Rusia juga merusak kantor perwakilan Uni Eropa, gedung kedutaan Inggris, serta fasilitas British Council di Kiev.
Menlu Inggris David Lammy segera memanggil duta besar Rusia untuk menyampaikan protes keras. Sementara itu, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen langsung berbicara dengan Zelensky, bahkan juga menghubungi mantan Presiden AS Donald Trump untuk membahas situasi serius ini.
Ukraina Melawan di Donbas
Meski Rusia sempat mengklaim kemajuan di front Donbas, serangan balasan Ukraina berhasil menggagalkan rencana Moskow untuk memperoleh “kartu tawar-menawar” dalam perundingan. Sebagai respons, Rusia kembali melancarkan bombardir ke Kiev, yang dinilai sebagai aksi balas dendam sekaligus peringatan kepada Barat.
Peran Intelijen Barat dan Starlink
Pertanyaan publik mengapa Amerika Serikat tidak terjun langsung di medan tempur kembali mencuat. Faktanya, di perang modern, intelijen dan sistem komunikasi jauh lebih menentukan dibanding kehadiran pasukan.
Ukraina mengakui bahwa sistem komunikasi satelit Starlink milik Elon Musk berperan besar dalam operasi drone serta koordinasi pasukan di garis depan.
Selain itu, pada 27 Agustus, pesawat patroli maritim P-8 Poseidon milik Angkatan Laut AS terbang di atas Laut Hitam, memantau ratusan target Rusia dan mengirim data real-time ke militer Ukraina. Rusia yang menyadari bahaya itu hanya bisa mengawasi dengan jet tempur, tanpa berani menembak jatuh pesawat AS.
Infrastruktur Vital Rusia Jadi Target
Ukraina juga menggencarkan serangan ke infrastruktur energi Rusia. Dua kilang minyak besar – Afipsky dan Kuibyshevsky – dihantam drone, memicu kebakaran hebat. Kedua fasilitas tersebut merupakan pemasok utama bahan bakar militer Rusia.
Tak hanya itu, drone Ukraina menyerang rumah Viktor Yanukovych, mantan presiden pro-Rusia yang kini tinggal di Moskow. Bahkan, di hari yang sama terjadi ledakan di depan markas FSB Moskow, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya, termasuk seorang pejabat senior keamanan Rusia.
Krisis Energi dalam Negeri Rusia
Dari 2–24 Agustus, Ukraina telah melancarkan sedikitnya 12 serangan terhadap fasilitas minyak Rusia. Serangan ini mengurangi produksi hingga 1,1 juta barel per hari, menimbulkan gejolak di dalam negeri.
Harga bensin A95 di Rusia melonjak 50% sejak awal tahun, sementara sebagian warga terpaksa membeli di pasar gelap dengan harga lebih tinggi. Pemerintah Rusia diam-diam sudah menghentikan ekspor bensin sejak akhir Juli demi menutupi kebutuhan domestik.
Drone Kamikaze Lokal Jadi Senjata Baru
Ukraina kini mengandalkan drone kamikaze buatan lokal yang dijuluki “versi Ukraina dari Lancet” dengan jangkauan hingga 150 km. Drone ini mampu menghancurkan kereta militer, kendaraan lapis baja, hingga kapal perang Rusia.
Bahkan baru-baru ini, drone tersebut digunakan untuk menghantam kapal perang Rusia di Laut Azov, membuat para blogger militer Rusia mengeluh karena sulitnya menangkis serangan udara Ukraina yang semakin presisi. (***)


