ETIndonesia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (29/8/2025) mengonfirmasi bahwa pasukan Rusia telah mengerahkan sekitar 100 ribu tentara di sekitar kota strategis Pokrovsk di Ukraina timur, dan siap melancarkan serangan besar. Pada saat yang sama, perwakilan Ukraina bertemu dengan utusan khusus Trump, Witkoff, di New York untuk membahas isu perdamaian. Selain itu, Amerika Serikat telah menyetujui penjualan peralatan militer senilai 825 juta dolar AS guna meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh Ukraina.
Pada Jumat itu, bendera diturunkan setengah tiang di Kyiv. Warga mendirikan tugu peringatan sementara di depan gedung yang hancur akibat serangan, meletakkan bunga dan mainan untuk mengenang para korban.
Sehari sebelumnya, Rusia melancarkan serangan terbesar sejak Juli ke Kyiv, menewaskan 23 orang, termasuk 4 anak-anak.
Seorang warga Kyiv, Kliushnychenko, berkata: “Semua anak-anak ini, kami melihat mereka tumbuh besar. Ini terlalu berat, sungguh terlalu berat. Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.”
Warga lain, Synytsia, mengatakan: “Kenapa Rusia harus berbohong kepada dunia, mengatakan hanya menargetkan sasaran militer, padahal kenyataannya mereka terus menyerang warga sipil?”
Pada hari yang sama, Ukraina secara resmi membuka Makam Pahlawan Militer Nasional, dan Zelenskyy menghadiri upacara pemakaman prajurit tak dikenal di sana.
Zelenskyy mengkonfirmasi bahwa saat ini Rusia telah menempatkan sekitar 100 ribu pasukan di Pokrovsk , pusat logistik penting di Ukraina timur, dan setiap saat dapat melancarkan serangan.
Hari itu juga, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukan mereka telah merebut sebuah permukiman di pinggiran Pokrovsk. Rekaman menunjukkan seseorang mengibarkan bendera Rusia, dengan kondisi sekitar hancur parah. Beberapa hari sebelumnya, dua desa di dekatnya juga diduga telah jatuh ke tangan Rusia.
Menteri Pertahanan Rusia dalam pidato video pada Jumat mengakui bahwa laju serangan mereka di Ukraina meningkat. Kini, tiap bulan Rusia menguasai 600–700 kilometer persegi wilayah, hampir dua kali lipat dibanding awal tahun.
Menghadapi ancaman ekspansi yang semakin serius, Kyiv di satu sisi mendorong diplomasi untuk mengakhiri perang, di sisi lain berharap mitra internasional memberikan jaminan keamanan.
Presiden Zelenskyy mengatakan: “Saya rasa para pemimpin kita perlu segera melakukan kontak untuk mencapai kesepakatan.”
Pada Jumat itu, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bertemu dengan Kepala Kantor Presiden Ukraina, Andriy Yermak, di New York. Mereka membahas serangan mematikan Rusia terhadap Kyiv, serta perlunya memberi tekanan pada Moskow agar tercapai perdamaian.
Sehari sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan persetujuan penjualan peralatan militer senilai 825 juta dolar AS ke Ukraina. Paket ini mencakup 3.350 unit rudal jelajah jarak jauh tipe ERAM yang diluncurkan dari udara, dilengkapi dengan kit pemandu GPS dan sistem perlindungan peperangan elektronik.
Rudal ERAM memiliki jangkauan hingga 450 km, dapat menyerang target darat maupun laut. Keunggulannya adalah harga relatif murah dan mudah diproduksi massal. Biaya pembelian akan ditanggung oleh sekutu Eropa, termasuk Denmark, Belanda, dan Norwegia.
Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Ukraina untuk melaksanakan misi pertahanan diri dan keamanan regional, serta memperkuat kemampuannya menghadapi ancaman saat ini maupun di masa depan.
Sumber : NTDTV.com


