EtIndonesia. Berkah dan anugerah dari Langit (Tuhan) hanya akan turun kepada mereka yang menjaga kesucian diri serta menjunjung tinggi kehormatan.
Dalam ajaran lama dikatakan: “Dari segala dosa, nafsu syahwat adalah yang paling berbahaya. Menolak godaan syahwat berarti membuka jalan menuju keberkahan.”
Kitab klasik Wenchang Dijun Yin Zhi Wen menuliskan: “Orang yang serakah pada hawa nafsu, tindak-tanduknya menyimpang dan merusak kemurnian hati serta nama baik. Itu adalah pelanggaran terhadap hukum Langit, sehingga pasti mendapat hukuman. Balasan dari Langit bagi mereka biasanya datang sangat cepat. Jika seseorang tetap tidak mau bertobat, kapan saja malapetaka bisa menimpanya. Sebaliknya, hanya mereka yang menjaga kesucian diri yang layak menerima anugerah Langit.”
Kisah Pertama: Tabib He Cheng
Pada zaman dahulu, ada seorang tabib terkenal bernama He Cheng, yang masyhur karena keahliannya menyembuhkan orang sakit.
Suatu hari, seorang pria bernama Sun Mianzhi jatuh sakit parah. Istrinya, Madam Yu, lalu memanggil He Cheng untuk mengobati suaminya.
Namun ketika tabib itu datang, Madam Yu membawanya ke ruang sepi dan berkata lirih: “Suamiku sudah lama sakit, harta keluarga kami sudah habis terjual. Tak ada lagi uang untuk membeli obat. Jika engkau mau, aku rela menyerahkan tubuhku sebagai gantinya.”
Mendengar itu, He Cheng menatap serius dan menjawab tegas: “Bagaimana mungkin kamu berkata demikian? Tenanglah, aku akan tetap mengobati suamimu. Apa yang barusan kamu katakan, jika aku menyetujuinya, maka aku akan jatuh hina seumur hidup, dan kamu sendiri akan kehilangan kehormatan. Meski bisa lepas dari cemooh manusia, mungkinkah kita bisa lolos dari hukuman Langit?”
Madam Yu terdiam malu lalu segera mundur.
Beberapa malam kemudian, He Cheng bermimpi dibawa oleh sosok gaib ke sebuah balai agung.
Seorang pejabat surgawi berkata: “Kamu berjasa menyelamatkan orang sakit, dan dalam keadaan sulit pun enggan merusak kehormatan orang lain. Atas jasamu, Langit akan memberimu jabatan serta harta sebanyak lima puluh ribu keping.”
Tak lama, putra mahkota jatuh sakit. Kaisar pun memanggil He Cheng ke istana. Sekali obat diberikan, sang putra mahkota sembuh. Sesuai mimpi, dia pun diangkat menjadi pejabat tinggi dan menerima hadiah besar.
Kisah Kedua: Sarjana Lin Maoxian
Pada masa Dinasti Song Utara, hiduplah seorang pemuda berbakat bernama Lin Maoxian dari Jiangxi. Meski miskin, dia tekun belajar dan akhirnya mendapat rekomendasi untuk ikut ujian negara.
Suatu malam, istri seorang hartawan tetangganya diam-diam mendatanginya. Dia mengagumi kepandaian Lin, tapi merasa rendah pada suaminya yang tak berilmu. Dia pun berusaha menyerahkan diri.
Lin Maoxian dengan wajah tegas berkata: “Antara pria dan wanita ada batas. Hukum dan moral tidak mengizinkan ini. Di bawah tatapan Langit dan roh-roh, bagaimana mungkin aku mencoreng kehormatanku sendiri?”
Perempuan itu pun merasa malu dan pergi.
Setahun kemudian, tepat pada masa pemerintahan Tiansheng tahun ke-8, Lin Maoxian berhasil lulus ujian jinshi dan diangkat sebagai pejabat tinggi di istana, menjabat Taichang Qing dengan pangkat setara menteri.
Lebih dari itu, empat anak lelakinya kelak juga berhasil lulus jinshi. Namanya harum sebagai keluarga “Satu Rumah Lima Jinshi”—sebuah kebanggaan besar dalam sejarah.
Pesan Moral
Kedua kisah ini menunjukkan bahwa menolak godaan syahwat bukanlah kehilangan, melainkan jalan menuju keberkahan besar.
· He Cheng memperoleh jabatan dan harta.
· Lin Maoxian mendapat kehormatan, jabatan tinggi, serta keturunan yang mulia.
Sebaliknya, mereka yang tenggelam dalam hawa nafsu justru akan kehilangan kesehatan, kehormatan, bahkan hidupnya.(jhn/yn)


