EtIndonesia. Proyek kerja sama energi yang semula dipandang sebagai tonggak baru hubungan internasional Taliban dengan dunia, kini berakhir dengan kegagalan. Kontrak minyak senilai 540 juta dolar AS yang diteken pada 2023 bersama perusahaan energi asal Tiongkok resmi berantakan dalam waktu kurang dari dua tahun.
Investasi Pertama Pasca Taliban Berkuasa
Kesepakatan tersebut menjadi sorotan global karena merupakan investasi asing pertama setelah Taliban kembali menguasai Afghanistan pada Agustus 2021. Perjanjian itu mengatur eksplorasi minyak dengan masa berlaku 25 tahun, yang digadang-gadang membuka jalan bagi Beijing untuk mengakses cadangan energi Afghanistan yang diperkirakan bernilai lebih dari 1 triliun dolar AS.
Saling Tuduh dan Retaknya Kepercayaan
Namun, alih-alih memperkuat hubungan, proyek itu justru berubah menjadi perselisihan terbuka.
- Taliban menuduh pihak perusahaan Tiongkok gagal memenuhi kewajiban: tidak membayar royalti sesuai perjanjian, serta tidak melakukan eksplorasi dan investasi lapangan sebagaimana dijanjikan.
- Sebaliknya, pihak perusahaan Tiongkok balik menuding Taliban melakukan tindakan sepihak: mengambil alih fasilitas secara paksa, menyita paspor para pekerja asing, bahkan menuntut agar seluruh aset perusahaan ditinggalkan begitu saja.
Intervensi Diplomatik Beijing
Situasi yang kian panas membuat Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, turun tangan langsung. Dalam kunjungan darurat ke Kabul, dia berhasil menegosiasikan pembebasan sebagian pekerja Tiongkok yang ditahan. Namun, langkah diplomatik itu tidak cukup untuk menyelamatkan proyek yang sudah kehilangan dasar kepercayaan.
Dampak: Taliban Kelola Sendiri, Produksi Anjlok
Kini, ladang minyak yang sebelumnya dikerjakan bersama perusahaan Tiongkok diambil alih sepenuhnya oleh Taliban. Meski masih beroperasi, produksinya merosot tajam karena keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia. Keadaan ini menegaskan rapuhnya strategi Beijing dalam mengamankan akses ke sumber daya Afghanistan di tengah situasi politik dan keamanan yang tidak stabil.
Analisis Geopolitik: Pukulan bagi Strategi Beijing
1. Afghanistan sebagai “Pintu Masuk” Asia Tengah
Bagi Tiongkok, Afghanistan bukan hanya soal minyak. Negeri itu berada di jalur strategis yang menghubungkan Asia Selatan, Asia Tengah, hingga Timur Tengah. Beijing menilai Afghanistan sebagai bagian penting dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) untuk memperluas jalur perdagangan darat. Kegagalan proyek minyak ini mencoreng citra BRI sekaligus memperlihatkan rapuhnya strategi investasi Tiongkok di kawasan konflik.
2. Risiko Keamanan yang Sulit Dikendalikan
Meski Taliban menjanjikan stabilitas pasca berkuasa, faktanya Afghanistan tetap rawan terorisme, faksi bersenjata, dan konflik internal. Perusahaan Tiongkok mengalami langsung bagaimana kontrol Taliban masih lemah, bahkan cenderung bertindak otoriter terhadap mitra asing. Hal ini menjadi sinyal bahaya bagi investor lain, termasuk Rusia, Pakistan, dan negara Teluk yang sebelumnya tertarik.
3. Dilema Politik Luar Negeri Beijing
Tiongkok berusaha mengambil posisi unik: tidak mengakui Taliban secara resmi, tetapi tetap menjalin hubungan ekonomi demi kepentingan energi. Strategi ini kini justru menjadi bumerang. Beijing dipaksa menanggung risiko diplomatik sekaligus keamanan tanpa memperoleh manfaat nyata.
4. Implikasi Regional
- Bagi Taliban, kegagalan ini bisa memicu isolasi baru karena investor asing makin ragu menanamkan modal.
- Bagi Tiongkok, kegagalan ini memperlihatkan keterbatasan mereka dalam memainkan peran sebagai penjamin stabilitas regional, berbeda dengan pengaruh militer dan politik Amerika Serikat di masa lalu.
- Bagi kawasan Asia Tengah, insiden ini menambah kompleksitas geopolitik: potensi sumber daya Afghanistan tetap besar, tetapi aksesnya masih penuh risiko.
Kesimpulan
Kasus ini memperlihatkan bahwa kerja sama ekonomi tanpa fondasi politik yang kuat hampir mustahil bertahan di Afghanistan. Tiongkok yang berambisi memimpin investasi global kini harus menanggung reputasi buruk di mata dunia usaha. Sementara itu, Taliban justru kehilangan kesempatan emas membangun citra sebagai pemerintahan yang mampu menarik dan menjaga kepercayaan investor internasional.


