EtIndonesia. Hidup ini pada dasarnya adalah proses mencari cinta. Sepanjang perjalanan hidup, setiap orang akan bertemu empat orang penting:
1. Diri sendiri
2. Orang yang paling kamu cintai
3. Orang yang paling mencintaimu
4. Orang yang akhirnya menemanimu seumur hidup
Empat Pertemuan dalam Hidup
Pertama, kamu akan bertemu orang yang paling kamu cintai. Dari dialah kamu merasakan betapa indahnya mencintai.
Kedua, kamu akan bertemu orang yang paling mencintaimu. Dari dialah kamu memahami apa artinya dicintai.
Ketiga, setelah melalui pengalaman mencintai dan dicintai, barulah kamu mengerti apa itu cinta yang sejati—dan dari sanalah kamu akhirnya menemukan orang keempat: dia yang paling cocok untukmu, yang bisa menemanimu seumur hidup.
Namun, kenyataan seringkali tidak seindah harapan. Dalam hidup, jarang sekali keempat peran itu menyatu dalam satu orang.
· Orang yang paling kamu cintai, seringkali tidak memilihmu.
· Orang yang paling mencintaimu, seringkali bukan orang yang kamu cintai.
· Dan orang yang akhirnya hidup bersamamu, sering kali bukan yang paling kamu cintai, juga bukan yang paling mencintaimu—tetapi dia hadir di waktu yang tepat, menjadi pasangan yang paling sesuai.
Maka, pertanyaannya: Dalam hidup seseorang, kamu adalah orang yang keberapa?
Tentang Cinta dan Melepaskan
Ketika seseorang tidak lagi mencintaimu dan ingin pergi, tanyakan pada dirimu: Apakah aku masih mencintainya?
· Jika tidak, jangan biarkan rasa gengsi mengikatmu. Belajarlah melepaskan.
· Jika iya, maka cintailah dengan tulus—dan itu berarti menginginkan kebahagiaannya, meski dia bersama orang lain. Bila kamu hanya ingin memilikinya tanpa peduli kebahagiaannya, sesungguhnya itu bukan cinta.
Cinta sejati bukanlah tentang kepemilikan. Kamu mencintai bulan, tapi tak mungkin meraihnya ke dalam genggaman. Namun, sinarnya tetap bisa menerangi kamarmu. Begitu juga cinta—meski tak selalu bisa dimiliki, ia bisa tetap hidup dalam kenangan, menjadi keabadian dalam jiwa.
Mencintai dengan Tulus
Mencintai seseorang berarti menerima dirinya apa adanya.
· Mencintai kebaikannya, sekaligus menerima keburukannya.
· Menghargai kelebihannya, sekaligus memaklumi kekurangannya.
Bukan mencintai dengan syarat, atau mengubahnya menjadi sesuai dengan imajinasi kita.
Cinta sejati tak pernah butuh alasan. Kamu hanya tahu, di mana pun dan kapan pun, dalam keadaan apa pun, kamu ingin dia ada di sisimu. Cinta sejati mampu bertahan bahkan di masa-masa paling sulit, tanpa pamrih, tanpa syarat.
Janji, Ujian, dan Keabadian Cinta
Perpisahan terkadang hanyalah ujian. Jika cinta kalian rapuh, dia akan runtuh. Jika kuat, dia akan bertahan. Dan cinta sejati tidak akan pernah berubah menjadi kebencian.
Sering kali, saat jatuh cinta, orang suka saling berjanji atau bersumpah setia. Tetapi mengapa kita butuh sumpah? Karena, jauh di dalam hati, kita tidak benar-benar yakin. Kita tahu laut tak akan kering, batu tak akan hancur, langit tak akan runtuh—tapi kita juga tahu, kita sendiri tak akan hidup selama itu. Maka, janji-janji yang mustahil dipenuhi justru terdengar paling indah.
Penutup
Pada akhirnya, cinta adalah perjalanan menemukan, kehilangan, dan memahami. Kamu sendiri, sudah menemukan yang keberapa? Dalam lautan manusia, kamu bertemu siapa? Dan siapa pula yang bertemu denganmu? (jhn/yn)


