EtIndonesia. Kerja keras, ketekunan, dan sedikit keberuntungan bisa mengubah jalan hidup seseorang.
Rehan Staton, seorang pemuda kulit hitam berusia 24 tahun asal Bowie, Maryland, AS, pernah bekerja sebagai pengangkut sampah yang harus bangun setiap hari pukul 4 pagi. Namun, berkat ketekunan dan dukungan orang-orang yang percaya padanya, dia kini berhasil diterima di Harvard Law School dan akan memulai studinya musim gugur tahun ini. Kisah hidupnya begitu inspiratif hingga dijuluki sebagai “versi nyata dari film Good Will Hunting”.
Masa Kecil yang Penuh Kesulitan
Hidup Staton jauh dari kata mudah. Saat dia berusia 8 tahun, ibunya meninggalkan keluarga, sehingga ayahnya harus merangkap peran sebagai ayah sekaligus ibu. Demi menghidupi Rehan dan kakaknya, sang ayah bahkan harus mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus. Meski begitu, kehidupan mereka tetap sangat sulit.
“Ayah saya selalu bekerja, tapi sering kali kami tidak bisa makan dengan cukup, bahkan kadang rumah tidak ada listrik,” kenangnya kepada CNN.
Mimpi Atlet yang Terhenti
Di masa SMA, Staton adalah seorang atlet dengan cita-cita menjadi petinju profesional. Sayangnya, saat duduk di kelas 3 SMA, dia mengalami cedera bahu serius. Hal ini membuat impiannya pupus, sekaligus menyulitkan proses pendaftarannya ke universitas. Meski nilai akademiknya baik, hampir semua universitas yang dia lamar menolaknya.
Dari Pekerja Sampah ke Kampus
Tidak menyerah, Staton akhirnya memilih bekerja di sebuah perusahaan kebersihan sebagai pengangkut sampah. Dia berharap bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Setiap hari dia bangun pukul 4 pagi untuk bekerja.
Di situlah keberuntungan mulai menghampirinya. Putra pemilik perusahaan, Brent Bates, melihat potensi besar dalam diri Staton. Dia lalu memperkenalkannya kepada seorang profesor di Bowie State University, yang kemudian merekomendasikan Staton ke komite penerimaan mahasiswa.
Kesempatan itu mengubah jalan hidupnya. Staton berhasil masuk University of Maryland. Namun, untuk mewujudkan impiannya, sang kakak, Reggie—yang saat itu sudah menjadi mahasiswa tahun kedua di kampus yang sama—memutuskan berhenti kuliah agar bisa membantu keluarga, memberi jalan bagi adiknya untuk melanjutkan pendidikan.
Prestasi Gemilang dan Perjuangan ke Harvard
Di kampus, Staton bukan hanya berprestasi akademik, tapi juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Dia lulus pada 2018 dengan IPK sempurna 4.0, sebuah pencapaian luar biasa. Setelah itu, dia bekerja di sebuah firma hukum sambil mempersiapkan diri untuk tes masuk sekolah hukum.
Kerja kerasnya pun berbuah manis. Tahun ini, dia mendapatkan surat penerimaan dari berbagai kampus ternama: Harvard, Columbia, University of Pennsylvania, hingga University of Southern California. Dari semua pilihan itu, Staton memutuskan untuk menempuh studi hukum di Harvard University, sebuah pencapaian yang dulu terasa mustahil bagi seorang mantan pekerja angkut sampah.
Kisah Rehan Staton membuktikan bahwa latar belakang bukanlah penentu akhir masa depan. Dengan kerja keras, ketekunan, serta orang-orang baik yang hadir di sekitar kita, mimpi sebesar apa pun bisa diraih.(jhn/yn)


