EtIndonesia. Partai Komunis Tiongkok (PKT) berupaya memperkuat legitimasi politiknya lewat parade militer besar-besaran pada 3 September. Namun, dua pukulan diplomatik justru membuat Beijing terpojok: Rusia menolak mengafirmasi narasi sejarah PKT, sementara Amerika Serikat secara terbuka memperlihatkan dukungan politik dan militer kepada Taiwan.
Putin Patahkan Narasi Sejarah PKT
Pada 30 Agustus 2025, kantor berita Xinhua merilis wawancara eksklusif dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun, alih-alih menguatkan propaganda PKT, pernyataan Putin justru menampar klaim Beijing mengenai peran mereka dalam Perang Dunia II.
Putin menegaskan bahwa dalam perang melawan Jepang, Uni Soviet menjalin kerja sama erat dengan pemerintahan nasionalis Tiongkok (Kuomintang), bukan PKT. Dia menyebut secara rinci bantuan Soviet berupa pengiriman senjata—kebanyakan melalui pinjaman, bukan hibah—dan pembangunan jalur darat dari Asia Tengah ke Xinjiang untuk logistik perang.
Lebih jauh, Putin menekankan bahwa serangan besar-besaran pasukan Soviet di Timur Laut Tiongkok pada 1945 menjadi faktor penentu kemenangan di Asia. Dia bahkan menggambarkan Tiongkok kala itu sebagai “negara kuat”, jelas merujuk pada pemerintahan Kuomintang yang saat itu memimpin negara, bukan PKT yang baru berstatus gerakan pemberontak.
Pengamat politik Zhong Yuan menilai pernyataan Putin telah meruntuhkan dua fondasi utama propaganda PKT: pertama, klaim bahwa PKT adalah “pemimpin perang melawan Jepang”, dan kedua, citra PKT sebagai representasi Tiongkok kuat pada tahun 1945.
Balasan Amerika: Kunjungan Tingkat Tinggi ke Taiwan
Di saat Beijing berupaya menguasai panggung lewat parade militer bersama Rusia, Iran, dan Korea Utara, Amerika Serikat memberikan sinyal politik kuat yang berlawanan. Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, Senator Roger Wicker, bersama Senator Deb Fischer, melakukan kunjungan resmi ke Taiwan pada 29–30 Agustus 2025.
Dalam kunjungan itu, mereka bertemu langsung dengan Presiden Taiwan, Lai Ching-te. Para pejabat keamanan Taipei menegaskan bahwa momen tersebut dipilih dengan cermat untuk mengirim pesan jelas: AS berkomitmen menjaga keamanan Taiwan meski Beijing terus meningkatkan tekanan.
Senator Fischer menegaskan: “Tekanan PKT terhadap Taiwan tidak dapat diterima. Rakyat Taiwan telah memperoleh posisi terhormat dalam perekonomian global, dan AS memahami besarnya ancaman yang mereka hadapi.”
Fischer juga mengumumkan bahwa pekan depan Senat AS akan membahas Rancangan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA), sebuah paket bipartisan dengan anggaran besar untuk keamanan, termasuk memperkuat kerja sama militer dengan Taiwan.
Taiwan Perkuat Pertahanan
Presiden Lai menyebut kunjungan itu “bermakna historis”, mengingat ini adalah kali pertama dalam sembilan tahun Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat berkunjung ke Taipei. Lai menegaskan Taiwan akan meningkatkan anggaran pertahanan, memperkuat kemampuan mandiri, serta memperluas kerja sama industri militer dengan AS, terutama di bidang pengembangan drone dan sistem anti-drone.
Analisis: Beijing Semakin Terjepit
Dua kejadian ini—Putin yang meruntuhkan narasi sejarah PKT dan AS yang semakin mempererat dukungan ke Taiwan—datang tepat ketika Beijing berusaha menunjukkan kekuatan melalui parade militer. Alih-alih mengukuhkan citra, Beijing justru menghadapi tamparan diplomatik dari sekutu maupun lawan geopolitiknya.
Para analis menilai, langkah Rusia yang menekankan peran Kuomintang bisa dimaknai sebagai pesan bahwa Moskow tetap mengutamakan fakta sejarah ketimbang propaganda Beijing. Sementara AS secara strategis memanfaatkan momentum untuk mempertegas bahwa Taiwan tidak sendirian di tengah tekanan militer PKT.


