EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela mencapai puncak baru setelah Presiden AS, Donald Trump secara terbuka menyebut Nicolás Maduro sebagai gembong narkoba nomor satu di dunia. Trump bahkan mengumumkan hadiah buruan sebesar 50 juta dolar AS, jumlah yang lebih tinggi dibandingkan hadiah untuk Osama bin Laden dulu.
Trump tidak berhenti di situ. Dia memerintahkan pengerahan armada laut dan Marinir AS ke perairan Venezuela. Langkah ini menandai eskalasi serius dalam hubungan kedua negara.
Maduro Tantang, Lalu Melunak
Awalnya, Maduro bereaksi keras. Dia mengklaim telah mengerahkan jutaan milisi untuk melawan “agresi AS”. Namun, keberanian itu tidak bertahan lama. Begitu delapan kapal perang AS—termasuk kapal penjelajah, perusak, kapal amfibi, hingga kapal selam nuklir—benar-benar tiba di lepas pantai Venezuela dengan membawa 1.200 rudal, sikap Maduro mendadak berubah.
Bahkan, meski sebelumnya dijadwalkan menghadiri parade militer 3 September di Beijing atas undangan Xi Jinping, Maduro tiba-tiba bersuara lunak. Dia menyatakan kesediaan bekerja sama dengan AS dalam memberantas kartel narkoba. Perubahan mendadak ini dianggap banyak pihak sebagai bentuk “pengkhianatan” terhadap rakyatnya.
Kedekatan Geografis dan Latihan Pendaratan AS
Posisi geografis membuat Venezuela sangat rentan. Dari Florida ke Caracas hanya berjarak sekitar 2.000 km, sementara dari Puerto Riko—wilayah AS yang memiliki pangkalan militer—hanya sekitar 800 km.
Pada 1 September, sekitar 4.500 Marinir AS terlihat sudah berada di dekat perairan Venezuela. Mereka melakukan latihan pendaratan di Pulau Curaçao, wilayah jajahan Belanda yang sangat dekat dengan pesisir Venezuela. Dengan izin Belanda, kendaraan tempur amfibi AS beroperasi terbuka, seakan mengirim pesan langsung ke Maduro.
Menyalahkan Tetangga, Regional Membalas
Alih-alih bertanggung jawab, Maduro justru melempar kesalahan ke Kolombia. Menteri Luar Negeri Venezuela menuduh bahwa 87% kokain dunia berasal dari Kolombia melalui Pasifik, sementara hanya 50% melewati Venezuela.
Pernyataan ini memicu kemarahan Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Dia segera mengizinkan militer AS menggelar latihan pendaratan di wilayah Kolombia dan mengerahkan 25.000 tentara ke perbatasan Venezuela.
Guyana, tetangga Venezuela lainnya, juga menyatakan dukungan penuh terhadap kehadiran militer AS. Akibatnya, Maduro kini terjepit: dicap sebagai gembong narkoba oleh Washington, sekaligus dimusuhi oleh tetangga dekatnya.
Rusia dan Tiongkok: Dukungan yang Memudar
Secara historis, Venezuela berada dalam orbit Rusia. Namun, dengan fokus Kremlin pada perang Ukraina, dukungan Moskow makin terbatas. Tiongkok, yang dulu menjadi penyokong utama lewat investasi energi, kini pun enggan terlibat terlalu jauh di tengah perang dagang dengan AS.
Padahal, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun kebijakan sosialisme ala Maduro telah menghancurkan perekonomian negara itu. Negara yang dulu disebut sebagai “permata Amerika Latin” kini jatuh miskin, jutaan warganya eksodus sebagai pengungsi ke AS, sementara Maduro sendiri tercatat memiliki kekayaan pribadi ratusan juta dolar AS yang sebagian dibekukan oleh Washington.
Tiga Skenario Akhir
Pengamat menyebut ada tiga kemungkinan akhir dari krisis ini:
- Penyelesaian Damai – Maduro menyerah dan melarikan diri ke Kuba atau Rusia. Venezuela berpotensi membuka babak baru menuju pemulihan.
- Konflik Terbatas – AS melakukan blokade laut dan menghancurkan jalur penyelundupan narkoba. Rezim Maduro cepat runtuh.
- Perang Besar – AS menyerang secara penuh, sementara militer Venezuela bertahan. Namun dengan perimbangan kekuatan yang timpang, hasil akhirnya bisa diprediksi.
Langkah Pertama: Serangan Presisi
Kabar terbaru menyebut Trump telah memberi lampu hijau pada operasi militer. Target pertama adalah kelompok Tren de Aragua, jaringan kriminal internasional yang disebut berada di bawah kendali Maduro.
Dalam operasi di perairan internasional, pasukan AS berhasil menewaskan 11 anggota kelompok ini saat menyelundupkan narkoba. Tidak ada korban dari pihak AS.
Trump menutup pernyataannya dengan peringatan keras: “Siapa pun yang coba menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat, berhenti sekarang.”


