Rusia Kerahkan 100 Ribu Pasukan Siap Menyerang – Mantan Ketua Parlemen Ukraina Tewas Dibunuh

Setelah pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, perkembangan perundingan damai Rusia–Ukraina tetap berjalan lamban. Rusia minggu ini terus menggempur Kyiv dan untuk pertama kalinya maju hingga ke wilayah Ukraina bagian tengah. 

Uni Eropa mengeluarkan kecaman keras dan mempertimbangkan sanksi lebih berat, sementara Departemen Luar Negeri AS menyetujui paket penjualan senjata senilai USD 825 juta untuk Ukraina. Pada saat yang sama, India – yang membeli energi dalam jumlah besar dari Rusia – resmi dikenai tarif hukuman sebesar 50% oleh AS.

EtIndonesia Pada 28 Agustus dini hari, Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Ukraina. Tak hanya permukiman warga dan infrastruktur kota yang hancur, tetapi juga kantor perwakilan Uni Eropa di Ukraina dan British Council ikut menjadi sasaran.

Seorang warga Kyiv, Klyushnichenko, berkata:  “Semua anak-anak ini, kami melihat mereka tumbuh besar. Ini terlalu berat, benar-benar terlalu berat. Sulit dijelaskan dengan kata-kata.”

Meskipun pertemuan Alaska pada 15 Agustus mendapat perhatian dunia, Putin tampaknya tidak berniat menghentikan perang. Setelah serangan besar ke 13 kota Ukraina pada 28 Agustus, Rusia pada 29 Agustus mengerahkan 100 ribu pasukan di Pokrovsk – sebuah pusat logistik penting yang baru direbut kembali Ukraina.

Keesokan paginya, 30 Agustus, Rusia kembali menyerang Dnipro dan Pavlograd di Ukraina tengah, menunjukkan bahwa pasukan Rusia mulai merangsek ke jantung negeri itu.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menulis di media sosial:  “Tindakan ini menunjukkan bahwa tanpa tekanan dari semua pihak, perang tidak akan berakhir. Ini adalah sinyal jelas bagi AS, Eropa, dan juga para pemimpin yang baru saja berangkat ke Tiongkok untuk bertemu Putin.”

Serangan besar Rusia minggu ini memicu kemarahan Uni Eropa dan Inggris. Selain memanggil duta besar Rusia, mereka juga mengumumkan rencana sanksi baru.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan:  “Kami segera memberlakukan putaran ke-19 sanksi keras terhadap Rusia, sekaligus mempercepat pembekuan aset Rusia.”

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa jika Putin terus menunda negosiasi, konsekuensinya akan “sangat-sangat serius.” Namun, ia menekankan bahwa konsekuensi itu bukan perang dunia, melainkan perang ekonomi.

Trump berkata:  “Kami ingin mengakhiri perang (Rusia–Ukraina). Kami memberlakukan sanksi ekonomi. Saya menyebutnya ekonomi karena kami tidak ingin terseret ke dalam Perang Dunia.”

Ukraina sejak awal juga menyerang sektor energi Rusia. Dengan perkembangan teknologi drone dan rudal yang semakin matang, kilang minyak Rusia menjadi target utama. Reuters melaporkan 10 kilang minyak Rusia diserang, memengaruhi 17% produksi – sekitar 1,1 juta barel per hari.

Sergey Vakulenko, peneliti senior Carnegie Russia Eurasia Center, mengatakan: “Serangan Ukraina terhadap kilang berbentuk busur, mulai dari Ryazan di selatan Moskow hingga Volgograd.”

Di sisi lain, AS resmi memberlakukan tarif hukuman 50% terhadap India pada 27 Agustus, karena negara itu terus membeli energi Rusia.

Shameem Azad, eksportir kulit India, mengatakan:  “Semua pesanan dari AS sekarang batal. Klien kami meminta menunda pengiriman. Beberapa pelanggan AS bahkan menyuruh kami menghentikan produksi hingga masalah tarif selesai.”

Sekitar 55% ekspor India, termasuk pakaian, perhiasan, dan sepatu senilai sekitar USD 87 miliar terdampak. Namun, pada 29 Agustus, Pengadilan Banding Federal AS dengan suara 7 banding 4 mendukung keputusan pengadilan rendah yang menilai tarif global yang diberlakukan Trump “tidak sah secara hukum.” Nasib akhir tarif 50% terhadap India baru akan diputuskan pada Oktober.

Selain itu, AS menyetujui paket penjualan senjata senilai USD 825 juta pada 28 Agustus, termasuk 3.350 rudal jelajah jarak jauh (ERAM). Norwegia dan Jerman menyumbang dua sistem pertahanan udara “Patriot,” dengan Norwegia menanggung biaya sekitar 7 miliar krona Norwegia. Kanada juga menjanjikan bantuan lebih dari 1 miliar dolar Kanada.

Pada 30 Agustus, Zelenskyy menyatakan Ukraina siap melakukan pertemuan langsung dengan Putin. India bahkan siap membantu menyampaikan pesan tersebut pada pertemuan puncak SCO (Shanghai Cooperation Organization). Prancis dan Jerman juga menegaskan, jika Putin menolak bertemu Zelenskyy, mereka akan meluncurkan sanksi ekonomi baru.

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, mengatakan bahwa AS bernegosiasi dengan Rusia setiap hari. Perwakilan Ukraina juga tiba di New York minggu ini. Namun, pertemuan puncak Rusia–Ukraina masih belum jelas. Pada 30 Agustus, anggota parlemen Ukraina Andriy Parubiy tewas ditembak, memicu geger internasional.

Pemerintah Ukraina belum menyatakan secara resmi bahwa pembunuhan ini terkait langsung dengan perang. Zelenskyy berjanji semua sumber daya akan dikerahkan untuk menangkap pelaku.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine