Apakah Orang Kaya Hidup Lebih Nyaman?

EtIndonesia. Sebuah situs web di Amerika pernah mengadakan sayembara: meminta warganet mengajukan topik obrolan yang menarik, harus berupa pertanyaan yang semua orang ingin bicarakan, tetapi sulit ditemukan jawabannya.

Tak lama setelah pengumuman dipasang, terkumpul lebih dari 500 topik. Setelah disaring (misalnya pertanyaan klasik seperti “lebih dulu ayam atau telur” disingkirkan), akhirnya terpilih satu topik: “Apakah orang kaya hidup lebih nyaman?”

Pengusul topik itu bernama Todd Martin. Dia berhak mendapat dua hadiah: sebuah ruang obrolan virtual dengan namanya, dan tiket perjalanan ke Tiongkok. Namun hadiah kedua hanya bisa dia dapatkan dengan syarat: diskusi topiknya tidak menghasilkan kesimpulan final.

Jika dalam waktu satu bulan ada peserta yang bisa memberi jawaban “ya” atau “tidak” secara meyakinkan, dan mendapat dukungan lebih dari 50%, maka tiket itu harus dialihkan kepada orang tersebut.

Ruang obrolan “Martin Chatroom” setiap hari ramai dikunjungi ribuan orang. Diskusi berlangsung sengit, tetapi memang tak ada kesimpulan bulat. Hari berganti hari.

Hingga pada hari ke-27, seorang pengguna bernama Stephen Rossetti meninggalkan sebuah tulisan yang segera membuat semua orang terdiam:

“Bagi mereka (orang kaya), hal-hal kecil yang bagi kita sepele bisa menjadi masalah besar.
Telur mata sapi tak bisa dimakan karena tidak cukup lembut.
Kemeja sutra tak bisa dipakai hanya karena ada lipatan kecil yang hampir tak terlihat.
Kaos kaki dianggap tak layak karena tidak dihangatkan lebih dulu.
Surat kabar pagi setelah disterilkan ternyata tidak disetrika rapi.

Mereka sering merasa seluruh dunia melawan mereka.

Bahkan di hotel paling mewah sekalipun, mereka bisa kesal: anggur merah tidak cukup dingin, pelayan tak datang dalam 30 detik setelah dipanggil, atau pintu mobil baru dibuka setelah mereka menunggu ‘lama’—satu setengah menit.

Pulang ke rumah pun sama. Ingin berendam air panas untuk menenangkan diri, tapi justru terganggu.

Baru saja melepas pakaian, pelayan pribadi buru-buru datang menangkap baju agar tidak jatuh ke lantai.

Baru mau masuk ke kamar mandi, ternyata pembantu sudah lebih dulu menguji suhu air dengan pipinya. Setelah dia usir keluar, baru satu kaki menyentuh air, majordomonya masuk sambil membawa sampanye, bertanya rencana malam itu supaya bisa menyiapkan pakaian yang sesuai.  Belum sempat menjawab, telepon di dinding berdering—kekasihnya menelepon, berkata bahwa setelah berpikir panjang, dia memutuskan akan melahirkan anaknya…”

“Semua orang bilang orang kaya hidup lebih nyaman. Tapi dalam 50 tahun terakhir, aku belum pernah menemukan satu pun orang kaya yang benar-benar bahagia.Jika kalian menemukannya, bisa jadi itu karena uang mereka belum cukup banyak.”

Tulisan Rossetti sontak memicu berbagai reaksi. Ada yang menebak dia sebenarnya orang kaya, hanya saja menyamar dengan nama palsu. Ada pula yang menganggap tulisannya fiksi belaka. Namun sebagian orang percaya dia benar-benar ada: seorang perempuan kulit hitam, dulu menjadi pembantu di keluarga miliuner Dassault di Prancis, lalu menarik perhatian Shah Iran Pahlavi dan dibawa ke Iran. Ketika sang raja digulingkan pada 1979 dan mengasingkan diri ke Amerika, Rossetti pun ikut ke New York.

Apapun latar belakangnya, faktanya dia berhasil memperoleh 53% dukungan suara. Dengan demikian, dia berhak memenangkan hadiah tiket ke Tiongkok. Namun, situs itu mengumumkan bahwa Rossetti menolak hadiah tersebut. Alasannya sederhana: dia hanya ingin beberapa hari hidup yang benar-benar tenang.

Pesan dari kisah ini jelas: kekayaan belum tentu sejalan dengan kenyamanan atau kebahagiaan. Terkadang, justru kesederhanaanlah yang membuat hati lebih damai.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine