EtIndonesia. 3 September 2025, ibu kota Tiongkok kembali menjadi pusat perhatian dunia. Bukan hanya karena satu parade besar di Jalan Chang’an, melainkan dua parade yang sama-sama mencerminkan wajah rapuh sebuah rezim.
Parade Pertama: Panggung Propaganda
Parade di Jalan Chang’an sudah diketahui banyak orang. Televisi, portal berita, dan media daring yang bergantung penuh pada “nutrisi propaganda” Partai menyiarkannya secara langsung. Rezim menjadikan siaran langsung sebagai standar propaganda: siapa menayangkan, dia ikut melegitimasi ilusi negara kuat.
Namun sejatinya, parade ini bukan untuk dunia internasional. Itu adalah tontonan untuk miliaran rakyat yang dikurung: sebuah mimpi palsu tentang negara besar yang penuh wibawa. Sementara rakyat bertepuk tangan di layar kaca, kenyataan pahit sehari-hari — pengangguran, ekonomi yang lesu, utang menumpuk — tetap membelenggu.
Parade Kedua: Panggung Kapital
Parade lain terjadi secara diam-diam di bursa saham A-Share Tiongkok. Ketika bendera merah berkibar di televisi, grafik saham justru runtuh. Lebih dari 4.500 saham anjlok, terutama sektor militer yang ironisnya sedang dipamerkan di parade resmi.
Kapital, yang dikenal paling peka terhadap arah politik, mengirim sinyal keras: bukan kepercayaan, melainkan ketakutan dan penolakan. Inilah “suara kaki” elit finansial yang memilih lari ketika melihat bahaya di depan mata.
Xi Jinping: Masih Berkuasa atau Sekadar Bayangan?
Kemunculan Xi Jinping di panggung parade menimbulkan pertanyaan besar. Jika benar dia sudah kehilangan kendali atas militer, mengapa dia masih memberi hormat ke pasukan dan berpidato di podium utama?
Jawabannya sederhana: parade itu sendiri adalah ilusi kekuasaan. Dia didesain untuk menunjukkan Xi masih memegang kendali penuh. Namun sejarah membuktikan hal sebaliknya.
Legitimasi yang Rapuh
Parade ini dikaitkan dengan peringatan kemenangan perang melawan Jepang. Panji-panji parade diberi nama heroik seperti “Unit Pahlawan Liangshan” atau “Pasukan Gunung Langya.” Tetapi fakta sejarah menunjukkan, militer PKT hanya berperan kecil, bahkan nyaris nihil, dalam pertempuran besar melawan Jepang.
Ketika puluhan divisi Kuomintang bertempur di Xuzhou dan Wuhan, PKT hanya mengirim unit kecil setingkat kompi. Parade panji itu bukan perayaan kemenangan, melainkan tamparan terhadap klaim mereka sendiri.
Misteri Hilangnya Panglima Utama
Tradisi parade militer PKT selalu menghadirkan Panglima Komando Teater Pusat — penjaga Ibukota. Tahun ini seharusnya Jenderal Wang Qiang dan Komisar Politik Xu Deqing tampil. Anehnya, keduanya justru hilang dari panggung.
Sebagai pengganti, rezim menunjuk mendadak Letnan Jenderal Han Shengting dari Angkatan Udara. Di permukaan terlihat sebagai penurunan pangkat, namun siapa pun yang mengikuti dinamika militer tahu: Han adalah orang dekat Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat yang kini disebut sebagai “orang nomor satu” di tubuh militer.
Artinya jelas: parade ini menampilkan secara terbuka proses alih kuasa militer.
Bahkan lebih aneh lagi, hanya nama Han Shengting yang disebut sebagai komandan utama. Para pemimpin pasukan lainnya dibiarkan tanpa nama, seakan-akan mereka hanyalah “mayat berjalan.” Dalam iklim politik penuh perebutan kuasa, menjadi anonim justru menjadi cara selamat.
Parade Konstitusi yang Dibunuh
Simbol fatal lain muncul di momen pengibaran bendera. Bendera Partai Komunis didahulukan, sementara bendera nasional ditempatkan di belakang. Padahal UU Bendera Nasional RRT Pasal 17 dengan jelas menyatakan bendera negara harus berada paling depan.
Selama ini, PKT masih berpura-pura tunduk pada hukum. Tapi kali ini, mereka menyingkap wajah asli: hukum sudah mati, hanya Partai yang berkuasa. Parade yang seharusnya merayakan kebangsaan justru berubah menjadi deklarasi bahwa negara hanyalah alat Partai.
Pasar Saham: Kapital Memberi Vonis
Reaksi paling jujur datang dari bursa saham. Saham militer ambruk. Nama-nama besar seperti Chengdu Aircraft, AVIC UAV, dan Zhongtian Rocket memimpin kejatuhan.
Kapital yang berada paling dekat dengan lingkaran kekuasaan membaca situasi dengan tajam. Parade bukan simbol stabilitas, melainkan tanda bahaya. Penyebab utamanya:
- Hilangnya jenderal inti.
- Pembersihan internal militer.
- Pelanggaran hukum di depan publik.
- Risiko geopolitik yang semakin besar.
Hasilnya, televisi menayangkan J-20 gagah di udara, tapi saham produsennya jatuh ke batas bawah. Kapital telah memberi suara “tidak percaya” paling keras.
Senjata Hebat atau Senjata Gombal?
Media resmi PKT menyebut senjata baru sebagai “pengubah permainan.” Namun para analis militer internasional menilai sebaliknya:
- H-20: Bomber siluman mirip B-2, tapi bermasalah di mesin. Tak bisa terbang jauh, tak mampu angkut banyak muatan.
- DF-27: Rudal hipersonik yang cepat, tapi “buta.” Tanpa satelit canggih, ia hanya “lalat tanpa kepala.”
- Drone AI: Di negara yang bahkan tak bisa membuat mesin litografi 7nm, mustahil menciptakan drone otonom tahan gangguan elektronik.
Kesimpulannya: parade ini bukan pameran kekuatan, melainkan peresmian proyek mercusuar rapuh penuh korupsi.
Pidato Xi: Wasiat Politik yang Hambar
Pidato Xi kali ini hanya sepertiga panjang pidatonya pada 2015. Singkat, hambar, tanpa energi. Apakah karena kesehatan Xi menurun, atau karena lawan politiknya sengaja membatasi panggungnya?
Isinya pun paradoks: berbicara soal “cinta damai” sambil berpose dengan Putin dan Kim Jong Un — dua tokoh yang paling sering mengancam dunia dengan perang. Pidato itu terdengar lebih sebagai testamen politik terakhir ketimbang deklarasi percaya diri.
Negara Jadi Teater Paksa
Parade ini bukan pesta rakyat. Dari pabrik hingga kampus, dari kantor hingga penjara, seluruh negeri dipaksa berhenti menonton.
Bagi jutaan rakyat yang kalah dalam hidup — pengangguran, lulusan baru, agen properti yang kehilangan pekerjaan — parade dijadikan pelarian. Namun bagi sebagian orang jujur, parade itu hanya menampilkan kenyataan getir: cambuk tuan feodal ditempa dari keringat rakyat sendiri.
Dialog Mengerikan: Xi dan Putin Bahas Umur 150 Tahun
Momen paling mengejutkan terjadi pukul 08:37 pagi, ketika mikrofon menangkap percakapan Xi Jinping dan Vladimir Putin. Mereka bukan membicarakan perdamaian, melainkan transplantasi organ dan “hidup hingga 150 tahun.”
Bagi dunia internasional, percakapan ini adalah bukti paling nyata dari tuduhan lama tentang industri gelap panen organ hidup di Tiongkok.
Laporan independen Kanada, investigasi PBB, hingga putusan Tribunal London 2019 sudah mengarah pada kesimpulan sama: rezim PKT menggunakan tahanan hati nurani, termasuk praktisi Falun Gong dan etnis Uighur, sebagai “bank organ hidup.” Kini, pernyataan Xi dan Putin di karpet merah menyatukan semua potongan bukti menjadi gambaran yang menakutkan: organ manusia dijadikan alat diplomasi.
Trump: Menghancurkan Panggung Beijing
Donald Trump tidak melewatkan momentum ini.
- Beberapa jam sebelum parade, dia mengumumkan operasi militer AS terhadap jaringan narkoba Venezuela. Pesannya jelas: “Kami perang nyata, kalian hanya parade kosong.”
- Lima menit setelah parade usai, dia menulis komentar pedas, membedakan rakyat Tiongkok dari rezim PKT, lalu menutup dengan sarkasme: “Sampaikan salam hangat saya untuk Putin dan Kim Jong Un.”
Kremlin buru-buru menyebut Trump “hanya bercanda.” Namun justru itulah pengakuan bahwa parade Beijing gagal total: alih-alih memamerkan kekuatan, dia jadi bahan ejekan dunia.
Dunia Menyaksikan: Poros Nihilisme
Seorang analis Eropa menulis di media sosial: “Fasis Rusia, komunis Korea, dan sponsor mereka di Beijing membentuk poros nihilisme: bukan membangun, melainkan menghancurkan segalanya.”
Parade yang dimaksudkan sebagai simbol kejayaan akhirnya terbaca dunia sebagai pengakuan isolasi, kelemahan, dan kebangkrutan moral rezim.
Kesimpulan: Ilusi yang Terbongkar
Parade 3 September 2025 di Beijing seharusnya menjadi pesta kebesaran negara. Namun justru berubah menjadi pertunjukan runtuhnya fondasi kekuasaan Xi Jinping.
Di depan rakyat, dia ingin menampilkan kejayaan. Di mata kapital, terlihat kehancuran. Di telinga dunia, terdengar percakapan mengerikan tentang umur 150 tahun. Dan di lidah Trump, parade itu berakhir sebagai lelucon.
Sejarah akan mencatat: parade ini bukanlah simbol kekuatan Tiongkok, melainkan epitaf rezim yang rapuh, penuh ilusi, dan kehilangan moral.


