EtIndonesia. Parade besar Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang baru saja digelar berakhir dengan meninggalkan lebih banyak kontroversi daripada kebanggaan. Dari persiapan hingga pelaksanaan, acara yang dimaksudkan untuk memamerkan kekuatan negara ini justru dibanjiri bocoran, kritik, dan spekulasi, memunculkan gelombang polemik yang lebih dahsyat daripada parade itu sendiri.
Kendaraan Represi di Tengah Parade
Salah satu video yang viral memperlihatkan kendaraan pengacau sinyal militer—yang sebelumnya digunakan untuk menekan demonstrasi besar di Jiangyou, Sichuan—turut hadir dalam parade. Fakta ini memunculkan kritik tajam: alih-alih ditujukan untuk melawan ancaman luar negeri, kekuatan militer PKT justru dikerahkan untuk menekan rakyatnya sendiri.
Selain itu, kehadiran Zhang Youxia yang berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh senior memperkuat posisinya sebagai satu-satunya anggota Politbiro aktif yang mendapat kehormatan tersebut. Namun, sorotan negatif juga muncul ketika Dan Andrews, mantan gubernur Victoria, Australia, terlihat hadir. Banyak netizen menilai hal itu sebagai “aib diplomatik” bagi Australia.
“Rahasia Besar” yang Terbongkar
Alih-alih menunjukkan kejayaan, parade justru menyingkap hal-hal memalukan. Propaganda PKT secara tidak sengaja memperlihatkan narasi sejarah yang menimbulkan dugaan adanya kolaborasi dengan Jepang pada masa perang. Lebih mengejutkan lagi, Xi Jinping dalam pidatonya terselip menyinggung isu sensitif transplantasi organ—topik yang selama ini menjadi tuduhan kejahatan sistematis rezim.
Skandal Transplantasi Organ dan “Diplomasi Organ”
Banyak analis menilai Xi Jinping melakukan blunder fatal ketika dalam percakapan dengan Vladimir Putin dan Kim Jong-un dia menyinggung apa yang disebut sebagai “diplomasi organ.”
Sejak 2005, PKT diketahui menjalankan Proyek Kesehatan 981 dengan ambisi memperpanjang usia pejabat tinggi hingga 150 tahun. Data menunjukkan usia harapan hidup pejabat PKT melonjak drastis setelah tahun 2000, bahkan melampaui rata-rata pejabat Amerika lebih dari satu dekade. Dugaan kuat, lonjakan itu terkait praktik transplantasi organ paksa.
Beberapa bukti yang menguatkan:
- 2024: Raja Malaysia ke-17, Sultan Ibrahim, berterima kasih langsung kepada Xi Jinping karena putranya berhasil menjalani transplantasi hati di Tiongkok.
- 2016: Media Malaysia melaporkan anggota parlemen Mudaradin menjalani transplantasi ginjal di Tiongkok.
- Kasus lain: Seorang pejabat Kazakhstan disebut berhasil menjalani transplantasi ginjal di rumah sakit militer Beijing hanya dalam waktu sebulan setelah pengajuan.
Human rights lawyer David Matas menyebut praktik ini sebagai “kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di planet ini.”
Amerika Serikat pun bereaksi keras. Pada 3 September, Ketua DPR AS, Mike Johnson menegaskan Washington akan segera mengesahkan undang-undang untuk menindak praktik tersebut.
“Kita mendengar kisah-kisah mengerikan. Tiongkok dan Rusia terang-terangan membicarakan transplantasi. Ini akan jadi prioritas kami,” tegasnya.
Reaksi Putin dan Trump
Dalam konferensi pers di Beijing, Presiden Rusia, Vladimir Putin mencoba meredam polemik. Dia menyebut komentar Trump tentang “pakta anti-Amerika, Rusia–Tiongkok–Korea Utara” hanyalah lelucon. Namun, analis menilai sikap Putin justru mencerminkan kegelisahan.
Donald Trump, saat ditanya wartawan pada 3 September, menyatakan bahwa parade PKT itu memang “ditujukan untuknya”—tetapi dia kecewa. Menurut Trump, Amerika Serikat tetap memiliki militer terkuat di dunia sehingga tidak khawatir dengan poros Rusia–Tiongkok.
Pakar diplomasi Taiwan, Zheng Qinmo, menafsirkan pernyataan Trump sebagai sinyal jelas bahwa Washington tidak akan membiarkan PKT menggunakan narasi perang anti-Jepang untuk melegitimasi klaim atas Taiwan.
Kontrol Media dan Represi Dalam Negeri
Parade ini juga menjadi cermin betapa ketatnya kontrol media oleh PKT. Media asing seperti CNN dan NBC melaporkan kesulitan ekstrem untuk masuk ke lokasi acara. Wartawan dilarang membawa makanan, kertas, bahkan alat tulis. Semua harus melewati pemeriksaan berlapis, dan sejumlah kantor media asing dipaksa tutup sementara.
Netizen Tiongkok menertawakan kondisi tersebut: “Di televisi penuh percaya diri, tapi di balik layar penuh rasa minder. Kalau senjatanya cuma kardus, bagaimana kalau ketahuan?”
Represi juga merambah ranah hiburan. Artis Hong Kong dan Taiwan seperti Jolin Tsai, Wang Xinling, hingga Eason Chan diserang komentar kebencian hanya karena tidak mengunggah ucapan soal parade. Publik menyebut fenomena ini sebagai “budak yang mengawasi budak.”
Kesimpulan
Parade yang semestinya menjadi ajang unjuk kekuatan justru berubah menjadi panggung skandal. Dari isu transplantasi organ, blunder diplomatik, hingga kontrol media berlebihan, semua memperlihatkan wajah rapuh rezim. Alih-alih memperkuat citra, parade 3 September 2025 di Beijing justru membuka celah besar bagi kritik dunia internasional terhadap PKT.


