EtIndonesia. Dua jet tempur F-16 Venezuela melakukan penerbangan berbahaya di atas kapal perang AS di Laut Karibia, menurut Bloomberg.
Insiden tersebut terjadi di tengah memburuknya hubungan antara AS dan pemerintahan Nicolas Maduro setelah serangan AS baru-baru ini terhadap sebuah kapal yang, menurut Pentagon, mengangkut narkotika dari Venezuela.
Manuver Provokatif
Menurut Pentagon, dua pesawat militer Venezuela melakukan “penerbangan berbahaya” di atas kapal AS di Laut Karibia. CBS News melaporkan bahwa pesawat-pesawat tersebut merupakan jet tempur F-16 bersenjata.
Para pejabat AS menggambarkan tindakan Caracas sebagai “provokasi yang disengaja” yang bertujuan untuk mengganggu operasi antinarkotika Washington. Pentagon memperingatkan bahwa “kartel yang mengendalikan Venezuela sangat disarankan untuk tidak mengganggu operasi AS lainnya.”
Pada saat yang sama, Pentagon tidak mengungkapkan detail insiden tersebut, seperti jarak jet-jet tersebut mendekati kapal atau lokasi tepatnya. Kementerian Informasi Venezuela juga menolak berkomentar.
Latar Belakang Konflik
Insiden itu terjadi hanya beberapa hari setelah pasukan AS menghancurkan sebuah speedboat yang diduga membawa narkotika dari Venezuela. Seluruh 11 orang di dalamnya tewas, memicu kritik tajam di dalam dan luar negeri atas kecurigaan bahwa warga sipil mungkin termasuk di antara korban tewas.
Sementara itu, Washington memperkuat kehadirannya di wilayah tersebut dengan mengirimkan beberapa kapal berisi 4.000 pelaut dan marinir. Secara resmi, hal ini dijelaskan sebagai upaya untuk memblokir rute perdagangan narkoba, tetapi para ahli memandangnya sebagai elemen tekanan politik terhadap rezim Maduro.
Sinyal Keras dari Washington
Insiden pesawat itu bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio ke Ekuador. Selama kunjungan tersebut, dia mendesak mitra-mitra regional untuk mendukung tekanan terhadap Caracas dan menyatakan bahwa AS siap untuk serangan baru.
“Presiden telah mengatakan bahwa dia ingin berperang melawan kelompok-kelompok ini karena mereka telah berperang melawan kita selama 30 tahun, dan tidak ada yang merespons,” kata Rubio.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth juga membela serangan terhadap speedboat tersebut, dengan mengatakan bahwa itu merupakan sinyal bagi kartel dan sekutu mereka di Venezuela.
AS telah menawarkan hadiah sebesar 50 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro, yang dituduh melakukan perdagangan narkoba, korupsi, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Pada bulan September 2024, AS juga menjatuhkan sanksi kepada 16 sekutu Maduro sebagai tanggapan atas kecurangan pemilu dan penindasan pemerintah terhadap oposisi.(yn)


